Mataku masih menerawang panjang. Aku gelisah sekaligus cemas yang bercampur rasa khawatir. Pertanyaan sederhana perawat di ruang UGD beberapa menit lalu masih menghantuiku. Pertanyaan yang seharusnya bisa kujawab dengan mudah. Tetapi justru melahirkan rasa bersalah berkepanjangan. Aku menundukkan kepala sejenak. Mengamati setiap sudut ruangan UGD. Rasanya hanya ada rasa cemas dan khawatir kulihat dari orang-orang keluar masuk ruangan. Kuhela nafas panjang berusaha mentralisir rasa bersalah yang entah kenapa kian hebat.
"Mengapa baru dibawa sekarang ibunya kang?"
Pertanyaan sederhana seorang perawat perempuan ini yang membuat rasa bersalahku membuncah ketika kali pertama masuk ruang UGD rumah sakit. Rosminah, begitu nama yang tertera di papan nama bajunya, kemudian bercerita panjang lebar. Cerita yang semakin membuat rasa bersalahku berlipat tidak lagi ganda, tetapi berkuadrat rasanya. Ia menyebut angka gula Ema, sebutanku untuk wanita yang melahirkan dan membesarkanku, sudah sangat mengkhawatirkan. Angka 650 sebut perempuan yang kutaksir usianya sekitar 20 tahun ini, berbahaya sekali. Aku membisu dan sekaligus kaget. Tak ada kata yang keluar dari mulutku.
Adegan awal masuk UGD seperti berpendar dengan deras di otakku. Lagi, kuhela nafas panjang. Kulirik Ema yang masih terbaring lemas di ranjang UGD. Aku memejamkan mata untuk menahan laju air mata yang sepertinya akan mengalir. Pagi tadi, sebuah telefon dari kampung halaman mengusik rutinitas pekerjaan. Apa, panggilanku untuk Ayah, menyampaikan kondisi ibu yang memburuk. Penyakit diabetes yang sudah hampir tujuh tahun diderita Ema, tambah kronis. Apa yang mengusulkan agar Ema dibawa saja ke Bogor untuk mendapatkan perawatan. Aku di antara kabar itu merespon mengambang. Sebagai karyawan pindahan dengan sederet pekerjaan, aku sedikit khawatir untuk meminta izin di kantor. Namun, cerita Apa tentang kondisi Ema yang kemudian memberikanku sedikit keberanian untuk mengajukan cuti dua hari untuk membawa ibu ke rumah sakit.
Apa tidak berlebihan. Kondisi Ema bahkan menurutku lebih buruk dari cerita Apa di telefon tadi pagi. Ema tidak sebugar dan setegar dulu. Aku mengingat dengan baik dialog yang aku akan kuingat sepanjang hidupku ketika Ema memutuskan pergi ke Arab Saudi menjadi tenaga kerja wanita. Semua ia lakukan untukku.
"Ema harus berangkat, Rahmat. Biarkan tenaga dan peluh Ema mengalir. Yang penting kamu bisa kuliah," ucap Ema kala itu di antara langit malam Bayah yang sedang tak berbintang. Tekad Ema sudah bulat. Desakanku agar Ema menggagalkan rencananya menjadi TKW tak digubris. Begitu bujujan Apa dan anggota keluarga lainnya.
Saat itu, memang ada dilema besar di keluargaku Aku mendapat kesempatan untuk masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes. Sebuah kesempatan langka bagi keluarga. Kabar bahagia sekaligus melahirkan kebingungan tersendiri bagi keluargaku. Apa hanya guru honorer di sebuah sekolah dasar di Bayah. Penghasilannya kadang cukup dan lebih sering tidak. Ema yang kemudian melakukan usaha ekstra. Berjualan aneka makanan sarapan di sekolahku. Apa yang dilakukan Ema bisa memenuhi kebutuhan keluarga dalam kategori cukup. Tapi jika kemudian harus membiayai uang kuliahku? Pasti sangat jauh di atas kata cukup.
Ajakan Teh Narsih, tetangga rumah yang sudah berhasil jadi TKW, membuka niat Ema untuk pergi ke Arab Saudi. Niat yang kemudian membulat jadi tekad. Empat tahun, Ema menjalani hari sebagai TKW pada sebuah keluarga di kota Riyadh. Selama itu pula, Ema tidak pernah pulang. Alasannya sederhana.
"Ema ingin memastikan biaya kuliah kamu aman. Jadi, rencana pulang belum ada," ucapnya setiap kali aku atau Apa bertanya soal rencana kepulangan dari Arab Saudi setiap jelang Idul Fitri.
Beruntung, Ema tinggal di keluarga yang baik. Nyaris tak ada cerita mengkhawatirkan ketika kami bertukar kabar melalui sambungan telefon di rumah tetangga. Akhirnya, Ema pulang jelang berakhirnya masa perkualihanku. Jadi, gelar sarjanaku lahir dari keringat dan pengorbanan Ema membanting tulang menjadi TKW di Saudi. Gelar sarjanaku adalah buah kesabaran Ema menahan rindu akan pelukan orang-orang terdekat dan kampung halaman.
Sekarang, perempuan perkasa itu tengah lunglai tak berdaya. Penyakit diabetes menggerogotinya setiap saat. Berat badannya turun drastis. Aku menghela nafas kembali. Rasa bersalah itu kembali muncul.
"Di mana aku ketika Ema menjalani hari-hari sakitnya?" "Di mana Rahmat?" Pertanyaan-pertanyaan itu seperti meminta dan menuntut jawaban tuannya. Hampir dua tahun ini aku tidak menginjakan kaki di kampung halaman untuk sekedar melihat kondisi Ema.
Soal kesibukanku yang tidak seberapa selalu jadi alasannya. Setahun pertama setelah lulus aku di bekerja sebagai wartawan di Surabaya. Antara sibuk dan penghasilan yang tidak seberapa jadi alasanku untuk memilih tidak pulang kampung. Tetapi, sudah hampir satu tahun setengah, aku pindah ke Bogor dengan penghasilan yang jauh lebih besar. Apakah alasannya masih sama? Aku tersenyum getir. Tak kutemukan jawaban paling rasional atas pertanyaan ini. Selain bahwa aku sudah terwujud sebagai raja tega yang mungkin dalam beberapa tahap akan selevel dengan Malin Kundang.
Aku sibuk. Sibuk yang egois tepatnya. Jarak Bogor-Bayah yang tak sampai 6 jam, tak pernah meringankanku untuk pulang. Telefon Ema atau Apa sering ku jawab seadanya. Termasuk ketika Ema atau Apa bertanya soal mudik Idul Fitri.
"Rahmat masih belum bisa pulang, Ma..."
Jawabku acap kali. Runtaian alasan kemudian tersampaikan begitu saja dari mulutku. Ringan sekali mulutku ini berbohong. Saat-saat itu, aku seperti lupa pengorbanan besar Ema mengantarkanku meraih gelar sarjana. Entah seperti apa raut kesedihan dan kecewa Ema atau Apa ketika menyelesaikan pembicaraan melalui telefon denganku. Ada rindu orang tua tak terbalas. Bukan soal orang tua menuntut balas budi. Saat itu, aku tak menyadarinya sama sekali.
"Maaf kang mengganggu..." Suara Rosminah mengaburkan lamunanku.
"Ini ruang kelas 3-nya penuh. Kelas 2 dan 1 juga penuh. Ada tersedia kelas VIP. Atau akan mencari rumah sakit lain?"
Penjelasannya tak memberiku ruang panjang untuk memulihkan diri dari situasi serba sulit. Sekarang, ada pertanyaan yang harus segera aku respon. Ema memang baru setahun ini memiliki asuransi pemerintah dan itu pun baru untuk kelas tiga. Dan lagi, aku merasa tertohok. Baru kemarin, dua juta aku habiskan untuk hanya membeli sepasang sepatu. Hanya karena merk ternama yang aku agungkan itu mengeluarkan model baru. Sekarang, Ema sakit parah dan hanya memiliki jaminan kesehatan kelas tiga. Dan itu pun, aku baru tahu sekarang.
"Bagaimana kang?" lagi, suara Rosminah terdengar.
Aku menghela nafas panjang. Kulirik sejenak Ema yang matanya masih terpejam menahan sakit. Ada geteran pedih di hatiku. Wanita yang hampir mengorbankan seluruh hidupnya untuk aku. Mengandungku, melahirkanku, membesarkanku dengan penuh kasih sayang, dan memilih bekerja menjadi TKW. Dan semuanya, bermuara untukku. Kebahagianku. Bahkan ketika dua tahun lebih aku tidak menengoknya, Ema tidak berubah. Sesekali di antara telefon panjangnya, ia mendoakan seluruh kebaikanku. Bukankah ini adalah saat terbaikku untuk membalas jasa Ema yang tak mungkin aku balas? Rasanya tabunganku jauh lebih cukup untuk mengcover semua biaya perwatan Ema. Dan untuk kali pertama dalam hidupku, aku tak risau dengan jumlah tabunganku yang mungkin akan terkuras habis. Semua untuk mendukung kesembuhan Ema.
"Kelas VIP mbak..." Jawabku tegas tanpa keraguan.
****
Aku tersenyum bahagia. Bahagia sekali. Aku seperti mendapatkan hadiah terbaik. Karena bisa melihat senyum Ema kembali. Hampir sepuluh hari Ema dirawat. Lazimnya penderita gula, beberapa penyakit lain turut menjadi bagian dari kondisi Ema. Bersyukur, semuanya reltif membaik meski belum sembuh 100 persen. Setidaknya, senyum itu kembali. Dan dokter sudah memperbolehkan Emea untuk rawat jalan.
"Mat, maaf Ema merepotkan ya..." Ucapnya dengan suara bergetar.
Aku hanya terdiam. Hanya air mata haru mengalir di pipiku.
"Tidak ada yang direpotkan, Ma. Maafkan Rahmat Ma...Maafkan Rahmat sekali lagi," ujarku dengan terisak di antara pelukan Ema.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Pada Sujud-Sujud Panjang Ibu
Kısa Hikaye10 Kisah.... 10 Cinta... 10 Kasih... 10 Cerita... Tentang Perjuangan dan Cinta Ibu Cinta Anak Pengorbanan Anak...
