Haaah, Cle, kakak lo mana nih?” tanya Rheo tidak sabar diantara kerumunan para penjemput yang menunggu di dekat pagar besi pembatas gerbang kedatangan Luar- Negeri.
Kini Cleo dan Rheo memang sedang berada di Bandara Internasional Soekarno- Hatta untuk menjemput Enrico. Berhubung hari ini hari Sabtu, maka yang tadinya rencananya Daddy yang akan jemput Rico, terpaksa digantikan oleh Cleo karena anaknya yang satu ini ngotot banget pengen jemput Rico. Kebetulan Daddy juga ada meeting mendadak di kantornya, sedangkan Mama nggak bisa jemput karena sedang tidak enak badan. Cleo juga sempat ngajak Logi dan Karin, namun kedua orang itu sudah ada acara masing- masing sehingga tidak bisa ikut.
Hari ini Bandara Soekarno- Hatta tumben- tumbenan crowded banget, sampai- sampai AC- nya pun terasa tidak begitu dingin. Agak aneh juga, mengingat high season masih 4 bulan lagi tapi sekarang ramenya udah kayak mau ngantri minyak tanah. Waktu Cleo baru dateng ke Jakarta juga nggak serame ini. Nggak heran kalau daritadi Rheo ngedumel terus lantaran sering kena dempet para penjemput yang baunya macem- macem, dari wangi Bvlgari sampai bunga Rafflesia Arnoldi. Jangankan Rheo yang cowok, Cleo aja udah gerah banget.
“Nggak tau nih.. Belum keliatan.” Cleo menggelengkan kepala sambil sesekali menelusuri wajah- wajah penumpang yang hilir mudik keluar dari gerbang tersebut. Akan tetapi batang hidung Enrico masih juga belum terlihat.
Namun tidak lama kemudian, Cleo dapat melihat sosok pria berumur akhir belasan berparas muka latino berjalan santai keluar dari pintu kedatangan dengan sebuah koper besar ditangan dan tas backpack besar di pundaknya. Walaupun wajah pria itu tidak begitu terekspos karena kacamata Aviator yang dipakainya, tetapi Cleo dapat mengenali bahwa itulah kakaknya.
“Nah itu dia!” Cleo dengan semangat menarik Rheo menjauhi kerumunan—sebelum cowok tengil ini tumbang—, kemudian berteriak histeris. “RICOOOO!!!”
Rheo yang agak kaget dengan manuver mendadak Cleo dapat melihat lelaki yang dipanggil Enrico itu menoleh ke arah mereka berdua, lalu membuka kacamata Aviatornya dan nyengir playful. Boleh juga si Enrico- Enrico ini, tampangnya dari range nilai 1- 10 dapetlah 9. Sebenernya sih bisa dikasih nilai 10, tapi Rheo agak sangsi ngasih nilai 10 karena bagi dia cowok yang pantes dapet nilai segitu itu cuma dia seorang. Coba kalau Enrico ini masuk ke HB, udah pasti cewek- cewek disana langsung gempar! Bisa- bisa pamornya turun. Untung dia udah kuliah.
Cleo langsung lompat ke pelukan kakaknya begitu Rico sudah melewati pagar besi itu dan berdiri di depannya. Bau Bvlgari èxtreme khas Rico memenuhi hidungnya. “Aaaa Rico! Kangeeeen!!”
Enrico tertawa pelan. Ia balas memeluk pinggang sang adik erat. “I miss you too, Cle.” ujarnya pelan dengan logat British English yang sama seperti Cleo.
Rheo geleng- geleng kepala ngeliat ini. Seandainya aja dia nggak tau kalau mereka berdua ini kakak beradik, mungkin dia bakal ngira kala mereka itu sepasang kekasih yang terpisah lama. Gila, mesra abis keliatannya.
Cleo melepas pelukannya. “So how are you, dear brother? Ihhh.. makin keren deh!” Cleo mengamati penampilan Rico dari atas sampai bawah. Kakaknya ini memang keliatan keren mengenakan washed jeans Levi’s , sepatu kets Nike, dan kaus oblong berwarna abu- abu yang membuat tubuh atletisnya tercetak jelas.
Enrico tertawa lagi. “I’m fine. So do you, cara sorella (adik perempuanku), tambah cantik aja. Udah gede lagi! Kayaknya baru kemaren gue bikin lo nangis.”
Cleo memutar bola matanya, namun di dalam hatinya juga membenarkan. Enrico memang pindah ke New York pada saat dia masih kelas 8 (2 SMP). Dan setelah itu, ia belum pernah kembali ke London lagi, sekalipun pada long holiday. Maklum saja, tiket pesawat New York- London nggak murah. Saat Paula sudah lahir pun, Enrico belum pernah bertemu secara langsung dengan adiknya, melainkan hanya melihat dari foto.
