~~
"hah hah" bunyi nafas seorang gadis
Dia terus berlari karna di belakang nya ada 3 orang yang mengikuti sambil membawa beberapa bahan untuk melempar kan kegadis ini
Tentu saja gadis ini adalah korban perundungan dari ketiga orang tersebut
"hei jangan lari kau dasar wanita murahan haha" tawa salah satu dari mereka sambil tetap berlari mengejar gadis itu.
Sangking paniknya Tanpa gadis itu sadari dia berlari ke arah hutan , tetapi mereka yang mengejar nya terhenti karna mereka tau itu hutan terlarang
"hei!! berhenti cukup sampai sini saja luna grace lihat kedepan, ini sudah diluar batas sekolah kita" kata salah satu dari mereka yang berambut coklat keriting,
"Kita hampir memasuki hutan ini"
Grace segera berhenti melihat keadaan "iya luna cukup sampai sini saja dengar kan apa kata cia , kau lupa apa kata orang tua kita?" tahan teman nya yang bernama grace,
"apa? Kau mau bilang itu hutan terlarang banyak hantu dan binatang buas disana? Hah.. Kau percaya? Orang tua kita hanya ingin kita tidak bolos kesana, aku masih belum puas mengejar gadis sialan itu!" ucap luna sambil mengepal kan tangan nya,
"lagian sudah banyak korban yang ke hutan tersebut tidak pernah kembali luna, kalau kau masih belum puas biar kan saja dia kesana toh kau tak kan melihat dia lagi karna pasti dia sudah mati karna tindakan bodoh nya berlari kesana.." kata cia sambil menarik tangan luna untuk kembali ke halaman sekolah,
"iya benar apa kata cia, lagian aku juga sudah capek berlari sambil membawa ini, ini sangat mengganggu tau" kata grace meyakinkan luna.
" benar kah dia tak kan kembali? Haha bagus lah kalau seperti itu aku muak melihat muka nya yang sok seperti gadis baik tapi jika dia kembali aku yang akan membunuh nya lihat saja"kata luna sembari mengikuti langkah teman nya untuk kembali kehalaman sekolah.
~
Di satu sisi yang dirasakan fiona
"hais kenapa aku dengan bodoh nya harus berlari si.. Oh tuhan kenapa aku sepengecut ini.. Yang mendekati dulu kan si janson bukan aku, kenapa mereka begitu membenci ku hanya karna janson mendekati ku?" gerutu fiona dalam hati,
tapi tetap saja dia berlari karna dia mengira masih di kejar oleh mereka.
Tak lama kemudian dia baru sadar dia sudah terlalu jauh memasuki hutan tersebut dan
" apa lagi ini? Aku kira mereka masih mengejar ku, dan kenapa pula aku harus berlari sejauh ini , eh tunggu ini kan hutan terlarang yang pernah anak anak lain bilang, hais kenapa semua hal yang buruk selalu menimpa ku?" fiona merasa sangat frustrasi karna kebodohan nya.
Tibatiba..
GUBRAK..!!
"aaaaaaa apa.. Apaa itu kenapa bunyi nya besar sekali? Harus kah aku terus berjalan ah mungkin lebih baik aku mencari jalan keluar seperti nya hutan ini sangat membenci ku? Tapi kenapa aku merasa kan ada yang mengawasi ku?" Gumam fiona
karna merasa hutan ini sangat menyeramkan terlebih ada suara aneh yang membisikkan kan nya untuk terus berjalan ke depan.
Entah kenapa yang tadi nya dia ingin pergi malah sebaliknya, dia mengikuti bisikan yang entah dari mana asal nya. Tak lama kemudian bisikan itu berhenti, dan fiona pun sampai di depan sebuah rumah yang indah tetapi penuh lumut yang seperti nya memang sudah lama tidak disentuh lagi.
Tibatiba
"buka fiona buka pintu itu, bantu kami, kau bisa menyelamatkan kami. Tolong kami" bisikan itu datang
lagi.
tapi kali ini seperti penuh mengharap agar diselamatkan, dan entah apa yang difikir kan fiona, fiona pun langsung membuka dan keluar asap hitam.
Awal nya asap hitam tersebut seperti menyebar menghipnotis fiona agar melangkah ke depan dan..
Syuutt
"aaaaaaa tidakkkk " asap itu menarik tubuh fiona ke dalam pintu itu.
°°°
Hai
Saya sudah merevisi sebagian kata-kata ambigu
Jangan lupa tinggal kan komentar kalian ya untuk menjadi acuan saya agar karya saya menjadi lebih baik...
Termakasih yang sudah membaca 😘
Saya akan up seminggu sekali jika pembaca meminta nya...
Terima kasih sekali lagi 😆😆
Fiona

VOCÊ ESTÁ LENDO
The Secret of Jungle
FantasiaFiona menghindari orang orang yang membully nya. Tanpa sadar dia memasuki hutan terlarang . Yang kata nya siapa pun yang memasuki dan bertemu si DIA tak kan pernah kembali lagi.
