Prolog

22.2K 2K 102
                                        

DISCLAIMER!

Cerita ini merupakan karya fiksi. Seluruh nama, karakter, tempat, dan kejadian yang digambarkan hanyalah hasil imajinasi penulis. Segala kemiripan dengan individu, peristiwa, atau entitas nyata, baik yang masih hidup maupun telah tiada, adalah kebetulan maupun inspirasi semata.


Cahaya lampu sorot jatuh tepat di tengah panggung, terang namun hangat, seolah sengaja diciptakan hanya untuk satu sosok yang berdiri tanpa cela di sana. Kilauannya memantul halus pada lantai marmer yang mengilap, menciptakan bayangan yang bergerak mengikuti langkah perempuan itu, tenang, terukur, dan penuh kendali.

Gaun hitam yang dikenakannya menjuntai sempurna, mengikuti lekuk tubuhnya dengan elegansi yang nyaris terlalu sempurna untuk dianggap nyata, sementara setiap detail kecil, dari kilau perhiasan hingga cara ia mengangkat dagunya, terasa seperti bagian dari pertunjukan yang telah dilatih berulang kali.

Arcelia Virelle Aurelion tidak hanya berdiri di bawah sorotan itu. Ia memilikinya.

"Arcelia, five minutes," panggil salah satu staf dengan nada hati hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang terlalu sempurna untuk disentuh.

Ia tidak langsung menjawab. Hanya sedikit mengangguk, nyaris tak terlihat, seolah dunia harus menyesuaikan diri dengan ritmenya, bukan sebaliknya.

Nama itu tidak perlu disebutkan untuk terasa kehadirannya. Terukir di benak setiap orang yang berada di ruangan tersebut, baik mereka yang menatapnya dengan kekaguman tulus, maupun mereka yang menyembunyikan rasa tidak suka di balik senyum profesional.

Ia adalah pusat dari segalanya. Bukan hanya karena bakatnya yang tak terbantahkan, tetapi juga karena darah yang mengalir dalam dirinya.

Darah keluarga Aurelion, nama yang mampu membentuk dan menghancurkan karier hanya dengan satu keputusan dingin di balik meja rapat. Dan ia terbiasa dengan itu semua.

Terbiasa menjadi pusat perhatian, terbiasa diinginkan, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan tanpa harus menunggu. Karena itulah, Arcelia tidak pernah benar benar belajar bagaimana rasanya kehilangan.

Tatapannya perlahan bergeser, melewati kerumunan kru yang sibuk dengan tugas masing masing, hingga berhenti pada satu titik yang terasa kontras dengan segala kemegahan di sekitarnya.

Seorang pria berdiri di sana, seolah tidak terpengaruh oleh gemerlap dunia yang selama ini menjadi milik Arcelia. Sikapnya tenang, dingin, hampir tidak tersentuh, seakan akan ia adalah satu satunya hal di ruangan ini yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Kael Orion.

Arcelia melangkah mendekat, langkahnya tenang namun penuh tujuan.
"Kael."

Pria itu menoleh sekilas. Tatapannya datar, tanpa emosi.

Cut! This Isn't My EndingStories to obsess over. Discover now