Stage 1

35 16 4
                                        

Ujian Akhir Akademi.

Tiga kata yang luar biasa mencekam, seram dan kelam bagi seluruh siswa semester akhir. Termasuk aku. Ujian ini menentukan pangkat dan kelas misi yang akan dijalani calon Eksekutor. Jika skormu dibawah 400 maka dapat dipastikan kau akan mengulang 4 semester yang telah kau lalui, atau tentu saja selalu ada pilihan lain: drop out.

Aku menutup buku setebal batu bata yang sedari tadi kujadikan alas kepala. Huja  diluar masih belum berhenti. Tetes-tetes besar air menghujami jendela asrama. Aku berputar menghadapi kamarku yang kutinggali selama hampir dua tahun ini. Pakaian kotor yang sudah membusuk di pojok kamar, sepatu yang berserakan hingga ke atas meja belajar, beberapa styrofoam bekas makanan instan yang lupa kubuang dan seonggok gombal abu-abu diatas sofa yang tak lain adalah teman sekamarku, Afif.

Ia pernah bercerita padaku kalau keluarganya dibantai mutan dalam insiden 20 tahun lalu. Aku tak terkejut. Hampir separuh murid Akademi Eksekutor memiliki latar belakang yang sama dengan Afif: balas dendam. Menjadi Eksekutor sesungguhnya adalah bukan tentang nilai, IPK atau kebanggaan. Melainkan tentang membunuh.

20 tahun lalu, hasil percobaan pemerintah yang gagal menyebabkan sebuah bencana besar. Kami menyebutnya mutan. Mereka pada umumnya adalah manusia dengan keunggulan tertentu yang tidak wajar dan cenderung berbahaya. Beberapa dari mereka bahkan immortal. Pemerintah berniat untuk memusnahkan mereka, namun semuanya sudah terlambat. Pada tahun itu juga para mutan melarikan diri dari tempat penelitian dan memporak-porandakan seisi Jakarta. Membunuh lebih dari seperlima masyarakat yang ada.

Maka atas dasar itu, Pemerintah mengeluarkan Dekrit Pemusnahan Mutan dan membangun sebuah orde khusus untuk menyapulenyapkan mutan yang tersisa. Orde itu ialah Eksekutor.

Mutan bertahan dan berkembangbiak didalam sisa masyarakat. Agak sulit mencari mereka dalam beberapa tahun belakangan. Tapi Eksekutor telah berkembang dari waktu ke waktu. Pemerintah mendirikan akademi khusus ini dan memberi semua Eksekutor segala fasilitas canggih yang dibutuhkan. Di tahun 2018 ini, menjadi Eksekutor adalah kehormatan (tentu saja, tidak semua orang berani menyerahkan batang lehernya ke hadapan mutan yang buas).

Aku sendiri memiliki alasan lain ketika aku memutuskan untuk meniti karier sebagai Eksekutor. Orangtuaku menyebutnya: cari mati. Terserahlah. Toh mereka juga tidak menginginkanku. Setidaknya aku bisa berguna disini.

Hujan masih belum mau meredakan kesedihannya, jadi mau tidak mau aku harus mencari makan sambil hujan-hujanan. Mau bagaimana lagi? Tuntutan perut.

Aku menyeret jaket kulitku yang tergeletak dilantai dan meninggalkan Afif tertidur sendirian. Cowok itu sudah bekerja keras di minggu ujian ini. Untunglah besok hari terakhir ujian.

Aku keluar kamar dan melihat tetangga sebelahku tampaknya sedang ribut entah dengan siapa—kebisingan benda-benda yang terpelanting dan belati yang tertancap dipintu bukanlah hal bagus, kurasa. Namun percayalah, jika kau berada disini dua tahun lamanya, kau akan terbiasa dengan asrama cowok.

Aku menerobos hujan ke undakan depan menuju parkiran asrama dan berusaha berjalan dibawah pepohonan yang lebat. Tetes air mulai menembus jaketku dan masuk ke tengkukku. Untunglah kantin sudah dekat.

Sesampainya disana aku mengecek kantongku. Uangku tinggal beberapa puluh ribu untuk minggu ini, setidaknya cukup untuk makan di kantin depan. Mungkin bila tidak cukup, Anjani akan membagi makan siangnya padaku, lagi. Cewek itu selalu baik padaku.

"Jani?" Panjang umur! Aku melihatnya duduk sendiri mengutak atik gadget.

"Hanief" Sapanya sambil tersenyum. "Mau makan?"

Aku menghampirinya. "Iya. Kamu kok sendirian disini?"

"Di asrama nggak ada sinyal. Nggak bisa belajar" balasnya menunjukkan layar gadgetnya yang dipenuhi grafik.

"Hei, tau nggak sih," Aku menyadari sesuatu pada grafiknya "mutan Nero ini, akhir-akhir ini eksis lagi"

"Oh," Anjani beralih pada gadgetnya. "Iya. Diantara mutan Elemen, dia yang paling sering muncul. Kayaknya suka banget ngeledek."

Mutan terbagi menjadi dua kelompok, Mutan Elemen atau Mutan Primer dan Mutan Sekunder. Mutan Elemen atau Mutan Primer adalah mutan yang memiliki kekuatan empat elemen alam: air, api, tanah dan udara. Mereka immortal dan hingga sekarang mereka tidak bisa dibunuh dan hanya ditahan di Shell, tempat pengasingan para mutan. Sedangkan Mutan Sekunder adalah mutan yang memiliki kekuatan disamping kekuatan Mutan Elemen.

"Ngeledek? Ah kamu bisa aja" aku terkekeh.

"Serius tau!" Protes Anjani. "Diantara mutan-mutan yang suka bersembunyi, Nero malah muncul terus-terusan seakan ngeledek kita yang selalu gagal nangkep dia"

"Selalu gagal? Hmmm, kayaknya asik ya kalo nangkep dia" kataku. Menangkap mutan elemen yang sudah buron sejak lama pasti bernilai pangkat tinggi dan uang yang banyak.

"Kamu jangan ngaco deh" Sekarang giliran Anjani yang terkekeh "Nero itu udah jadi target pengejaran sejak jaman majapahit tau. Apa menurutmu angkatan kita bisa nangkep dia?"

"Aku sendiri yang akan nangkep dia, Jan" kataku sedikit menantang.

"Jangan aneh-aneh" Anjani menatapku serius. "Dia mutan elemen.."

"..mutan Elemen dengan namecode: Destroyer. Buron sejak 2006. Elemennya tanah. Aksi andalannya adalah Hujan Abu. Umur tidak diketahui pasti tapi diperkirakan umurnya berhenti pada 23. Sering terlihat di Cipinang Muara, Bidara Cina dan Slipi." Potongku tegas. "Jani, aku tahu mutan ini kok. Aku yang akan masukin dia ke Shell. Percaya deh"

Anjani menyunggingkan senyum sinis "Iyadeh terserah kamu."

Aku memesan teh manis dan sepiring gorengan untuk dimakan berdua (baru saja kupikir rasanya malu juga kalau nebeng makan sama cewek) kepada Mak Inah penjaga warung.

"Kamu udah belajar?" Tanya Anjani sambil mengambil tahu goreng.

Aku mengingat buku yang tadi kujadikan alas tidur, "Udah kok. Baru selesa.."

"BRO! TAU NGGAK SIH LOE.." Sesuatu menggebuk punggungku tanpa ampun sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku menoleh dengan cepat dan langsung menghadapi sederet gigi kuning milik Ewing.

"Apaan?" Tanyaku tak senang. Punggungku sakit, woy, batinku. Tapi aku tak sudi mengaduh aduh didepan cewek.

"Di Jakut katanya ada pembunuhan mutan!" Cowok itu menjatuhkan dirinya di bangku sebelahku.

"Hah?" Anjani mengerutkan keningnya.

Ewing berdecak. "Di Jakarta Utara ada pembunuhan massal yang katanya dilakukan oleh mutan."

Ewing berasal dari Jakarta pinggiran. Agak sulit mencerna kata-katanya yang cenderung slank. Orang-orang di Jakarta Kota seperti aku dan Anjani terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan baik.

"Kamu tau darimana?" Tanyaku.

"Broadcast WA" jawabnya polos.

Seandainya tatapan bisa membunuh, Ewing pasti sudah mati oleh Anjani. Mata cewek itu bagaikan laser ketika mendengar jawaban Ewing. Bagaimana tidak? Hari gini kok masih percaya broadcast WA? Kayak bapak-bapak aja.

"Apa?" Tanya Ewing polos. "Ini broadcastnya beneran tau. Di mulut para korban ada abu nya. Jadi secara teknis mereka mati karena tercekik abu. "

"Abu.." Aku memandang Anjani, heran.

Anjani balik bertanya padaku, "Nero?"

RadioactiveWhere stories live. Discover now