chapter 1

43 6 4
                                        

Kring...kring...kringggg
Aku memukul alarm ku yang menyebalkan itu dan memencet tombol yang ada di atas alarm itu untuk mematikan nya. Aku mengambil alarm pink itu lalu melihat jarum jam, mataku membulat seketika"aaa!!!... Sudah jam 07.00 aku telat!!!!!" teriakku histeris

Aku segera melompat dari kasurku, mengambil handuk dan segera melesat pergi ke kamar mandi,"huaaaa!!" mungkin karena berlari cepat dan tidak hati - hati aku terpeleset dan bokongku sukses mendarat di atas keramik kamarku yang membuatku meringis kesakitan.

akh! It's a bad day.

Aku pun masuk ke kamar mandi dengan kesal, setelah mandi aku memakai bajuku dan menata rambut coklat ku yang panjang dan berombak.

Segera setelah aku selesai memakai seragam dan menata diri, aku berlari ke bawah dan sesekali melihat jam tangan di pergelangan tangan ku
"Huaa...! Sudah jam 07.20 aku terlambat!!!!!!!!" teriakku histeris, kali ini lebih keras lagi.

"Akina!! Ada apa? kok kamu teriak? Kamu kenapa sayang?" tanya ibu ku dengan nada cemas.

[Note: foto hashikawa akina ada di mulmed]

"Akina terlambat bu!! Lihat ini, sudah jam 07.23." kataku sambil menunjukkan jarum jam yang ada di jam tangan ku. aku benar - benar panik, karena aku belum pernah terlambat sebelumnya, "Ada apa ini, kenapa ribut?." kata ayah di sela - sela kepanikan ku, itu memang hobi ayah yang selalu datang saat aku sedang panik. Terkadang jika aku panik saat di luar rumah ayah menelpon. Aku pernah bertanya pada ayah, bagaimana bisa ayah datang atau menelponku saat aku sedang panik? Ayah hanya menjawab dengan berkata 'itu adalah ikatan ayah dan anak' aku hanya mengangguk mengiyakan.

"Ayah, akina terlambat ke sekolah!!" kataku sambil menunjukkan jam tangan ku yang sekarang menunjukkan pukul 07.58, "Ini kan hari kamis, setiap hari kamis dan jum'at kan masuk nya jam 08.00." aku menepuk dahiku dan memaki diriku sendiri karena lupa hari ini dan besok aku masuk jam 08.00 karena di hari kamis dan jum'at sekolah membuka school shop agar masyarakat bisa membeli makanan dan kerajinan yang di buat sendiri oleh pihak  sekolah dan murid.

Tapi aku menyadari satu hal, sama saja aku terlambat karena jam sudah menunjukkan pukul 07.59 aku berteriak histeris, aku berlari ke garasi dan menaiki mobil ku dan langsung pergi ke sekolah.

Sebenarnya aku tidak suka menaiki mobil, selain tidak ingin di bilang sok kaya, aku tidak suka memakai barang mewah walupun kedua orangtuaku adalah orang kaya.

Untung saja aku belum terlambat padahal ini sudah jam 08.00

"Ohaiyou akina-san!!" langkah ku terhenti ketika mendengar seseorang memanggil ku, aku menoleh ke belakang mendapati sahabatku sedang tersemyum kepadaku "ohaiyou haruka-san." kataku.

Kami masuk bersama - sama ke sekolah, tepatnya ke kelas "OHAIYOU!!!" teriakku yang membuat haruka menutup telinganya rapat - rapat kemudian memukul kepalaku pelan, aku hanya meringis kesakitan "suara mu itu berisik sekali akina!!! Kita Ini di kelas, bukan di pertandingan sepak bola hingga kau harus berteriak seperti itu!!" aku hanya terkekeh  kemudian duduk di bangku kami masing - masing.

Beberapa menit kemudian guru masuk dan memulai pelajaran.

>>>skip

Akina pov

Setelah pelajaran berakhir aku dan haruka pun keluar kelas dan berjalan keluar dari sekolah "Eh! Gerimis, ayo berteduh dulu haruka." ajakku kepada haruka

"Tenang, sebentar lagi kita sampai kerumah." kata haruka, rintikan hujan yang turun dari langit perlahan menjadi semakin deras membuat kami basah kuyup,"Haruka!!aku kan sudah bilang sebaiknya kita berteduh dulu sementara. Jika tadi kita berteduh sebentar kita tidak akan basah  kuyup!!!"

"Kau ini berisik sekali akina!! Sudahlah yang lalu biarlah berlalu."

Kami berteduh di sebuah toko barang antik milik nenek yuki, setelah beberapa menit aku dan haruka kembali akrab. Kami memang bertengkar hanya sebentar, itulah hobi kami.

"Yaampun, hujan ini tidak mau berhenti! Bagaimana aku bisa pulang dan memakan sushi yang sudah ibu janjikan untuk makan malam." rengekku, haruka hanya mengeleng aku paham ia pasti sudah lelah beradu mulut dengan ku.

Brukk... Aku dan haruka menoleh ke arah toko antik dengan jendela kaca itu, mencari sumber suara barang jatuh tadi.

"Haruka, ayo kita lihat! Sepertinya nenek yuki memerlukan bantuan kita." ajakku yang di susul oleh anggukan haruka

Perlahan aku membuka pintu dan mendapati nenek yuki sedang membersihkan barang - barang yang jatuh sambil memegangi pinggangnya, ia kelihatan kesakitan sekigus kelelahan. Aku dan haruka langsung berlari ke arah nenek yuki"Anda tidak apa-apa?" tanyaku khawatir

Nenek yuki hanya mngangguk "biar kami bantu." kata haruka, kami mulai membantu nenek yuki, kami melakukan banyak sekali pekerjaan. Mulai dari menyapu, mengepel, sampai membersihkan debu di barang antik dan jendela.

"Fiuh, akhirnya selesai juga." kataku sambil menghapus peluh di dahiku, aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 05.35 sedangkan hujan di luar sana masih sangat deras.

"Huh, jika terus begini bagaimana cara kita pulang??" keluhku

"Ya kau benar, kita tidak bisa pulang saat masih hujan deras seperti ini." keluh haruka

"Seandainya saja kita membawa payung, mungkin kita bisa langsung pulang." kataku sambil menunjukkan ekspresi sedih

"Kalian adalah gadis yang baik, sebagai tanda terimakasih dariku, terimalah ini." kata nenek yuki sambil memberi kami sebuah payung dan satu bungkusan besar "Buka ini bersama - sama saat kalian sampai di rumah." lanjut nenek yuki, aku dan haruka mengangguk kemudian kami berjalan menuju pintu keluar.

"Tunggu, gadis berambut coklat!" kata nenek yuki

"Aku?" kataku sambil menunjuk diriku sendiri, nenek yuki mengangguk. Aku berjalan menghampiri nenek yuki sedangkan haruka menunggu di dekat pintu keluar.

"Ada apa nek?" tanyaku.

"Ini, ini adalah pemberian dari seorang wanita untukmu, tampak nya dia sudah meramalkan bahwa kau akan kesini." kata nenek yuki yang diakhiri dengan senyuman sambil menatap keatas kemudian memberikan 'benda' itu padaku. Aku memiringkan kepalaku bingung.

"Apa maksud nenek?" Tanyaku, aku memang orang yang suka mencaritahu dan penasaran. Nenek yuki menggeleng setelah itu berkata, "Tidak apa - apa." tentunya juga diiringi senyuman

"Baiklah!Arigatou." kataku sambil membungkukkan badanku 90° di ikuti haruka yang juka ikut membungkukkan badan 90°.

Haruka membuka payung yang di berikan nenek yuki, atau tepatnya di pinjamkan.

Karena nenek yuki hanya meminjamkan satu payung, jadi kami memakai payung itu berdua. "Kita buka bungkusan itu di rumahmu saja akina, hari ini ayah dan ibuku tidak ada di rumah, karena mereka berada di luarkota untuk rapat penting." usul haruka

"Baiklah, terserah kau saja." tidak berapalama, kami akhirnya sampai di rumah "ibu, ayah aku pulang!!"

"Eh akina, kau sudah pulang?? Eh ada haruka juga!" kata ibu menyambut kepulangan kami.

"Ibu, haruka hari ini menginap di sini, karena orangtuanya ada rapat di luar kota."

"Baiklah, haruka akan tidur di kamarmu kan akina." aku mengangguk

"Ya ayah." kataku lagi dengan senyuman di wajah ku, aku dan haruka naik keatas dan menuju kekamarku.

"Ayo buka bungkusan ini!!!" kataku bersemangat.

"Yup!ayo kita buka." kata haruka yang juga bersemangat, kami membuka bungkusan itu dan mengambil isinya.

"Hmm, sebuah buku." kata haruka

"Judulnya 'dimensi sihir'." aku dan haruka saling menatap, dalam benak kami tersimpan banyak pertanyaan.setelah lama mengamati buku itu, haruka akhirnya mulai angkat bicara"oh iya, apa yang di berikan oleh nenek yuki kepadamu?"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Akhirnya selesai juga cerita ini, semoga suka yah 😊

Voment pleease

magic witch academyDonde viven las historias. Descúbrelo ahora