Saat itu tanggal 5 Januari 1870. musim dingin berlangsung buruk. Salju menumpuk di kaki-kaki bukit dan lembah Visconti. Tetapi lokomotif uap pembersih salju terus menjaga kebersihan rel agar kereta malam yang membawa para pekerja tambang di sekitar pegunungan tersebut pulang dari bekerja menuju rumah-rumah mereka. Kereta lokomotif uap Accros Seven yang membawa para pekerja tersebut perlahan-lahan mendaki lereng-lereng curam yang menghubungkan daerah pertambangan dengan pemukiman penduduk di daerah Pompey, yang merupakan jantung kota di daerah kawasan Pegunungan Visconti tersebut. Dari titik itulah rel kereta menurun ke daerah pertanian subur, Algrora, yang merupakan pintu masuk satu-satunya menuju daerah pegunungan Visconti. Rel di sana hanya satu-satunya, namun di stasiun banyak cabang-cabang dari rel tersebut yang sudah banyak diisi gerbong-gerbong berisi timah, tembaga, biji besi dan hasil bumi pertanian Visconti yang makmur. Hal tersebut menunjukan cerminan kekayaan bumi Visconti dengan bauran masyarakatnya yang keras dan kehidupan riuh rendah ke sudut Eropa paling terpencil ini.
Man,tempat ini benar-benar indah, walaupun tidak banyak disentuh revolusi sosial kehidupan masyarakat eropa. Mesin tenunlah, Radiolah, Atau apapun bentuk revolusi industri yang banyak terjadi di masyarakat perkotaan, tidak ada artinya bagi masyarakat Visconti yang masih memakai tradisi-tradisi kuno mereka, ditambah lagi hasil bumi dan keindahan alam Visconti, Well, hal-hal tersebut lebih dari cukup untuk dibanggakan.
Lembah dan lereng yang terjal, hutan yang lebat -yang bahkan cahaya matahari pun tak mampu menembusnya-, rute seperti itulah yang kini dilalui kereta uap Accros Seven. Kereta yang menempuh perjalan mendaki dari daerah pertanian Algrora menuju Pompey tersebut berjalan pelan diiringi sinaran rembulan yang sudah mulai muncul, seakan memberikan penerangan jalan pada kereta tua tersebut. Lampu-lampu minyak penerangan sudah setengah jam yang lalu dinyalakan para petugas kereta. Bau minyak dan batu bara bahan bakar lampu-lampu penerangan bercampur dengan aroma dedaunan hutan yang kelam.
Cuma dari penerangan itulah lembah tersebut sedikit bercahaya, bahkan cahaya purnama bulan pun tak sanggup mengusik kegelapan hutan-hutan Visconti.
Kereta tersebut terdiri atas tiga gerbong utama dengan lokomotif di depannya. Gerbong tedepan merupakan tempat para pekerja kasar tambang-tambang Visconti. Aroma ruangan tidak pernah segar di gerbong ini, biarpun begitu tak satu pun dari mereka yang membuka jendela sekedar mencari udara segar, mungkin karena sudah terbiasa dengan hal tersebut. Di dalam gerbong ini terdapat empat baris kursi dengan setiap baris berjumlah sepuluh kursi. Tak jarang sering terjadi adu mulut dan adu fisik yang terjadi antara sesama pekerja di sini. Umumnya tentang masalah lama, yang tak kunjung ada dan tak akan penah ada ujung penyelesaiannya. Mereka umumnya meributkan tentang tempat pertambangan mereka bekerja serta upah yang diberikan.
Penambang timah dan tembaga adalah mereka yang upahnya jauh lebih besar ketimbang dengan penambang bijih besi atau batu bara. Terang saja demikian, kualitas tembaga dan timah daerah Visconti merupakan yang terbaik di daratan eropa barat, dan Nomor dua di Eropa setelah New Reeves, di daerah Eropa utara. Semua Eropa tahu itu. Sedangkan bijih besi atau batu bara merupakan komoditas yang cukup banyak dihasilkan di daerah-daerah lain. Tak heran harga jualnya pun tak setinggi tembaga atau timah. Kata-kata makian atau pukulan bukan merupakan hal yang aneh di gerbong tersebut. Malah terlihat bagai sebuah rutinitas yang jarang terlewatkan. Sering kali Cuma gara-gara hal kecil. "Hei, kau menyinggung lenganku.!" Atau "Ada apa di wajahku sehingga kau melihat kearahku.!"
Pekerja yang rata-rata kaum kelas rendah tersebut memang tidak mengenal norma atau aturan dalam kehidupan sosial mereka, keras, dan hukum rimba merupakan strata yang pantas digambarkan pada golongan kehidupan social Visconti yang satu ini.
Pada gerbong kedua tak jauh berbeda dengan kondisi gerbong pertama. Umumnya gerbong ini diisi para kaum kelas menengah dan buruh kerja wanita harian di pabrik, perkebunan dan tambang di daerah Distrik Visconti, seperti Alcudia dan Algrora. Sebenarnya tempat-tempat tersebut merupakan kawasan pemukiman, tetapi karena kebanyakan dari struktur geografis daerah-daerah tersebut merupakan daerah tambang atau pertanian yang subur, maka penduduk lebih memilih bermukim di daerah yang tersrtuktur rapi dan memiliki pusat pemerintahan dan perekonomian yang jelas, seperti Pompey dan Stone Village.
Malam semakin larut. Setengah perjalan telah ditempuh kereta tua tersebut dari Algrora menuju Pompey. Di tengah kesunyian hutan yang mengelilingi gerbong-gerbong tua Accros Seven terjadi sedikit keributan di gerbong tiga. Gerbong yang merupakan kelas utama yang dikhususkan bagi para bangsawan dan tamu-tamu penting tersebut memang hanya diisi segelintir orang saja. Makanya, seandainya terjadi sedikit keributan, hal tersebut akan menjadi pembicaraan masyarakat esoknya.
Namun, kali ini hanya terdapat tiga orang yang mengisi gerbong tersebut, mereka adalah Ayah, Ibu dan Anak yang berasal dari satu keluarga. Mereka merupakan keluarga Cheiro. Evan Cheiro, merupakan seorang bangsawan muda yang terkenal di daerah Visconti. Pria empat puluh tahun tersebut merupakan pendatang dari daerah selatan, Duisburg, yang merupakan kota industri di kawasan Eropa barat. Evan Cheiro terkenal karena merupakan salah satu pemilik tambang tembaga di daerah Visconti. Selain itu dia juga memiliki salah satu tempat teramai yang dikunjungi masyarakat Visconti pada setiap malam akhir pekan, yaitu Gedung Seni dan Musik Teatrikal Visconti. Selain terkenal akan hasil tambangnya, Visconti juga terkenal pernah menghasilkan seniman-seniman berbakat Eropa. Diantaranya yang paling terkenal adalah Matthew Trionfi, yang terkenal sebagai seorang pesulap paling fenomenal –dengan trick fenomenal- yang pernah terlahir di daratan benua biru tersebut. Namun sepuluh tahun yang lalu beliau meninggal dalam sebuah pertunjukannya sendiri. Tragis.
Dengan intuisi bisnis yang dimilikinya, Evan Cheiro berhasil melihat sebuah tambang emas lagi di Visconti, yaitu gedung tersebut, yang akhirnya dibelinya dari pemilik sebelumnya, seorang pria tua pemilik perkebunan tomat di daerah algrora selatan. Rumor beredar bahwa Cheiro melakukan pemerasan pada lawan-lawan bisnisnya, sehingga dia bisa dengan mudah menguasai putaran uang di daerah tersebut.
Dia menikahi Ellisa, istrinya, lima belas tahun yang lalu. Mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Flade, yang kelak mewarisi kekayaan ayahnya, yang kini telah berusia empat belas tahun. Namun, pasangan tersebut akhir-akhir ini sering tampak kurang harmonis. Mereka sering terlibat adu mulut, sampai-sampai hal tersebut terlihat sebagai sebuah kebiasaan akhir-akhir ini.
"Oh, Dear,jangan kau pikir kau bisa menipuku seperti yang kau lakukan terhadap pelacur-pelacur lain yang kau kencani. Sudah jelas-jelas kau berbohong tentang kepergianmu minggu lalu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau memasuki rumah pelacur tersebut. Dasar lelaki biadab kau, Evan !" terdengar suara isakan tangis istrinya memecah keheningan hutan Visconti.
" well, aku akui kejadian tersebut, tapi dia tak lebih dari seorang pekerja kebun yang baru kutemui, jangan salah paham, sayang, tidak terjadi apa-apa pada malam itu. Kami Cuma minum teh." Ujarnya pelan pada Istrinya.
" Aku berjanji hal tersebut tidak akan terlihat oleh mu lagi." Istrinya terkejut mendengar hal tersebut, namun sebelum kemarahan istrinya memuncak lagi Cheiro buru-buru meralatnya." Maksudku hal itu tidak akan pernah terjadi lagi."
Setelah mengucapkan hal tersebut, dia seraya memegang pelan tangan istrinya sambil mengecup pipi istrinya lembut. " Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang demikian lagi, percaya lah." Ujar Cheiro mantap.
Hening beberapa saat. Terlihat istrinya masih terisak seraya menutup wajahnya dengan jemarinya yang halus. Cincin perkawinan yang melingkar di jari manisnya pun tak mampu mengatasi tangisannya. Namun beberapa saat kemudian dia tampak sudah mulai tenang.
" Oh, Evan, Dear, harus ku akui kau pandai membuat hatiku luluh. Tapi kau harus berjanji, ini adalah yang terakhir kalinya kau lakukan padaku."
Sedetik setelah istrinya berkata demikian, tedengar lonceng stasiun memotong pembicaraan mereka. Lalu kemudian Ellisa membangunkan putra mereka, Flade, yang tertidur selama perjalan tadi. Terlihat sekali setelah diajak berkeliling di Algrora seharian Flade muda terlihat kelelahan sekali, ditambah lagi pertengkaran orang tuanya yang menambah keletihan pada raut wajahnya. Sebenarnya Flade tidak tertidur selama di Kereta tadi, namun pertengkaran yang didengarnya tadi mau tak mau harus dihindarinya agar dia tak terlibat. Pura-pura tidur jalan yang cukup ampuh pikirnya.
Setelah keluar dari gerbong, mereka bertiga segera memanggil seorang kuli untuk mengangkat barang bawaan mereka bertiga. Walaupun hanya berpergian setengah hari, barang bawaanmereka cukup pantas disebut sebagai barang bawaan seorang arkeolog yang akan meneliti sebuah kawasan penuh tulang-belulang selama satu tahun. Hari menunjukan pukul delapan malam. " Kalau kita bergegas, kita masih bisa memesan tempat untuk tiga orang di Restauran Food Courtesy, kebetulan menu hari ini cukup menggiurkan." Ujar Cheiro pada istri dan anaknya yang masih pusing setelah turun dari kereta. Terlihat para pekerja dan penambang yang berebut turun dari gerbong mereka menuju pintu ke luar stasiun menambah sesak suasana dengan kehadiran mereka yang lalu lalang di depan mereka, serta dengan aroma tubuh mereka yang jauh dari kesan "menggiurkan".
" Dad, lebih cepat lebih baik kita meniggalkan tempat ini. Akan lebih baik bagiku." Kata Flade sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya dengan sepotong kain bewarna hijau zamrud dengan tambalan sutra yang halus.
Stasiun tadi sudah penuh sesak dengan lautan manusia yang pulang-pergi dari tempat tersebut. Tetapi, kota Pompey tersebut bahkan lebih menyesakkan lagi. Di sepanjang pegunungan itu ada kemegahan muram dalam peapian besar dan kepulan asap yang membubung, sementara kekuatan dan kerajinan manusia mendapat tempat yang sesuai di tumpukan bebatuan di samping lubang tambangnya. Tapi kota itu menunjukan aktivitas penduduk yang tiada henti. Toko-toko masih terlihat dibuka oleh para pemiliknya yang dengan semangat menjajakan barang dagangan mereka. Jalanannya yang lebar dilintasi lalu lintas sangat padat sehingga menjadi salju berlumpur yang tersebar di sepanjang jalan kota.
Trotoarnya sempit dan lampu jalanan yang redup menambah suasana ramai nan sesak pada daerah tersebut.
Saat mereka mendekati pusat kota, pemandangannya berubah lebih cerah karena sederetan toko-toko yang terang serta lampu-lampu dari tempat kasino tempat para buruh menghabiskan upah mereka. Setelah berjalan beberapa blok diiringi kuli yang mengangkut barang bawaan mereka akhirnya mereka sampai juga di tempat yang mereka tuju. Biasanya mereka selalu memakai Kereta kuda sebagai transportasi dalam kota tersebut, namun tempat yang mereka tuju kali ini cukup dekat dari stasiun. Restaurannya terlihat cukup bagus dari luar. Bahan dari kayu melapisi bangunan persegi di sudut jalanan tersebut. Dengan perapian bata yang besar cukup membuat para pengunjung betah berlama-lama di tempat tersebut. Di tambah dengan hidangan lezat cukuplah kiranya membuat restaurant tersebut menjadi tempat favorit di daerah tersebut. Tak terkecuali bagi keluarga Cheiro yang mahsyur dengan perut mereka yang kedinginan.
