Pertama

155 5 3
                                        

Natasya Saqueela atau yang kerap dipanggil Nasya tengah bersiap siap untuk hari pertamanya memasuki masa SMA. Dirinya sangat tidak sabar untuk memasuki masa putih abu abu itu.
"Gak terasa udah jadi utas gue," ucap Nasya sambil melihat dirinya di cermin.

"Ila, ikat pinggang gue dimana?," teriak Gryfa Revano yang merupakan abang Nasya- Ila yang merupakan panggilan rumah Nasya-sambil memutar kedua bola matanya.

"Dicari dulu pakai mata ya, tolong." teriak Nasya dari lantai bawah dengan menekankan kata tolong.

Nasya yang merasa lapar pun langsung menghampiri meja makan dan melihat papa dan mamanya yang tengah memakan roti selai.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu Negara,"

"Ayo sarapan, biar ga telat hari pertama sekolah." ucap papa Nasya. Nasya pun duduk di meja makan dan memulai memakan sarapannya yaitu roti selai coklat kacang dan susu vanilla bersama papanya. Papanya melihat ke arah ikat pinggang Nasya.

"La, itu ikat pinggang siapa yang kamu pakai?"tanya papanya kebingungan, karna dia pernah melihatnya sebelumnya.

"Punya aku ko p-"ucap Nasya terpotong karena dia melihat ikat pinggangnya dan itu adalah ikat pinggang abangnya. Nasya pun berlari ke lantai atas dan menggedor pintu kamar abangnya

"BANG, IKAT PINGGANG LU NIH GUA NEMU," teriak Nasya sambil terburu-buru melepas ikat pinggang abangnya yang ia kenakan. Pintu kamar langsung terbuka,
"Nih ikat pinggang lu ketuker sama punya gue, makannya jangan langsung ngegas,"ucap Ryfa yang merupakan nama panggilan rumahnya sambil mengangkat ikat pinggang Nasya dan mengayunkannya.

"Rese lo, cepetan, gue ga mau telat," Nasya pun turun ke lantai bawah sambil memasang ikat pinggangnya. Dia pun turun ke lantai bawah dan kembali memakan sarapannya bersama kedua orangtuanya.

Waktu pun berlalu, Nasya pun berangkat bersama Vano - nama yang biasa dipanggil oleh orang selain keluarganya- sebelum berangkat mereka pamit kepada kedua orangtuanya.

"Yang pinter sekolahnya la, jangan main mulu kamu ya, sudah SMA," tegas mama sambil melihat wajah Nasya.

"Iya maa, baru juga hari pertama, santai dikit dong, kita berangkat dulu,"ucap Nasya sambil berlari untuk menaiki mobil berwarna abu abu yang dimiliki oleh Vano,  ia pun berangkat bersama abangnya yang akan mengantarnya  menuju SMA Pelita Kasih.

"Bang, kalung cabai yang ada nama gur kan kemaren gua minta lu bikinin, udh lu bawa belum?"  Nasya pun melihat ke arah Vano yang tengah menyetir dengan serius.

"Udah lah, gua kan abang yang baik, bilang apa lu sama gua?" Ucap Vano dengan wajah yang sangat bangga.

"Makasih abang ganteng, baik, mantan ka Fira, hehe, btw mana kalung nya?" Kata Nasya dengan wajah yang tidak ikhlas menyebut abangnya ganteng.

"Tuh ambil di tas sekolah gua," Ucap Vano dengan bangga disebut ganteng. Nasya segera mengambil tas abangnya di kursi belakang, ia langsung membuka tas abangnya dan langsung mencari kalung cabenya. Dia pun menemukan kertas bufalo warna merah yang berbentuk cabe dengan tali rafia hijau dan tulisan nama "Natasya Saqueela". Dia pun langsung memasukkan kalung itu ke dalam tasnya.

"Wah, bentuk cabenya goals banget! Keren lu bang," Kata Nasya dengan wajah yang sangat senang dengan kalung cabe buatan abangnya itu.

"Sudah sampai, sana turun. Oh ya jangan lupa, kalo ada yang bully lu, telpon gua terus gua datengin yang bully, ok?" tegas Vano sambil menekankan kata bully dan tidak menggubris pujian Nasya.

"Siap," ucap Nasya sambil hormat dan langsung turun dari mobil. Dia pun langsung berlari menuju koridor dan melihat mading untuk mencari tahu kelas yang akan didapatinya.

" Kelas X-2 absen 24, yes, sekelas ama Gian," mata Nasya berbinar-binar karena melihat nama Giano Timothy yang menjadi teman sekelasnya.

Tiba-tiba ada yang menarik tas Nasya dari belakang, Nasya pun dengan otomatis menghadap ke arah belakang. Terpampang wajah dengan jelas wajah terkejut Nasya tetapi saat sekilas dia melihat wajah Giano, raut wajahnya kembali sumringah.

"Gian, gua seneng banget, kita sekelas," Nasya tersenyum lebar ke arah Gian.

"Iya, gue tahu. Lo princess dan gue pangeran, jadi gua harus terus bareng lu," modus Gian dengan memasang wajah yang santai.

"Terserah deh yan," ucap Nasya dengan muka yang merah atau blushing. Dia langsung menundukkan kepalanya.

Nasya sangat rindu dengan kata manis dari gebetannya itu. Nasya menaruh perasaan pada Giano sejak SMP. Waktu yang cukup lama bukan? Mungkin harusnya Nasya sudah cukup kebal menahan seluruh gombalan maut Giano, tetapi, selalu saja berhasil membuat pipi Nasya memerah seperti tomat.

"Ayo ke kelas yan," ucap Nasya dengan sangat bersemangat. Lalu, mereka menaiki anak tangga menuju lantai 2 dan menemukan kelas X-2. Mereka memasuki kelas tersebut dan kebingungan, karna hanya ada 5 orang dikelas tersebut dan mereka tidak mengenalnya.

"Gue ga kenal nih orang orang disini, gua duduk sama siapa dong? Kezia di X-1, terus Lia di X-4, kalo di kelas ini ada salah satu dari mereka, gua duduk bareng dia," ucap Nasya dengan kehilangan semangatnya.

"Kan ada gua yang selalu ada buat lo, gua duduk bareng lu ya." Gian menawarkan diri untuk duduk bersama Nasya sambil menatap wajah Nasya.

"Yaudah deh iya," Ucap Nasya dengan sebagian ikhlas sebagian lagi tidak ikhlas bahwa dia akan duduk bersama Gian. Mereka pun duduk di baris ke 2 dan bagian ke 3. Lalu, ada seorang perempuan yang mendatangi mereka,

"Hai, kalian pacaran ya?" Ucap seorang perempuan yang mendatangi mereka tadi dengan wajah bingung.

"Eh, e-eng-engga kok," ucap Nasya terbata-bata sambil memasang wajah malu dan menunduk.

"Kita sahabatan dari smp, terus kita satu sekolah dan satu kelas, kita ga kenal siapa siapa di kelas ini, jadi  kita duduk bareng, apa ada yang salah?" Gian pun menatap mata seorang perempuan yang mengira mereka berpacaran.

"Oh gitu, hehe, maaf ya salah sangka. Nama gua Elsa Maria, panggil aja Elsa." Elsa pun mengenalkan dirinya dengan senyuman lebarnya.

Giano pun berdiri sambil mengulurkan tangannya, "Giano Timothy, panggil aja Gian, yang di sebelah gua ni, namanya Ningsih," Gian dan Elsa berjabat tangan dan Nasya pun kaget karena Gian menamakan dia Ningsih.

"Eh, gue Natasya Saqueela, Nasya, bukan Ningsih," Nasya menatap Giano dengan wajah kesal dan mengintimidasi.

"Hahaha, Gian lucu deh," Elsa pun tertawa kecil melihat kelakuan Giano.

Melihat itu, Nasya tersenyum kikuk, mendadak hawa di sekitarnya menjadi panas. Dia berusaha menghindari tatapan Gian.

"Nasya, kenapa?"

Elsa merasa ada sesuatu yang harus mereka bicarakan. Daripada menganggu lebih baik dia menghindarinya, "Gue balik deh ke kursi gue, bye Gian, Nasya"

"Iya." Ucap Gian dan Nasya bersamaan. Mereka berdua saling pandang karena mengucap kata yang bersamaan, Nasya langsung memutar kedua bola matanya.

"Jangan judes-judes, sayang," Nasya pun langsung blushing, beranjak dari kursi yang ditempatinya dan pergi keluar kelas lalu mencari toilet.

HAI SEMUAAA!
Aku bikin story ini karna iseng gitu hehe, gimana? kurang bagus ya? maapkeun ya, ga jago nih:(
Semoga kalian tetap terhibur yaa
Jangan lupa Voment❣️

Flying without wings.Where stories live. Discover now