Reason • 0 // Prolog

67 7 5
                                        

"But he looks familiar..."
•••

Sasha menunggu temannya dengan malas di bandara. Fokusnya tak dapat beralih dari panah arloji yang bergerak detik demi detik. Bagaimana bisa? Ia sudah menunggu kehadiran sahabatnya sekitar 2 jam dan sebentar lagi, Sasha akan memulai check in. Tak ada satupun pertanda kemunculan sahabatnya saat ia harus meninggalkan kota indah yang dicintainya hanya dalam hitungan menit.

"Huh, baiklah. Jangan ada yang merindukan aku nanti jika aku sudah pergi." gerutu Sasha kesal, ia pun mulai membuka kemasan yang membalut bubble gum dengan rapi, lalu melahap 2 bubble gum sekaligus.

Bagaimana bisa? Sebentar lagi aku harus meninggalkan kota ini karena aku akan melanjutkan study di Amerika. Aku benar-benar harus meninggalkan semua teman-temanku disini. Apa lebih baik aku batalkan saja semuanya? Tapi, aku beruntung bisa mendapatkan beasiswa. Ibuku masih bisa menyimpan uangnya untuk Alina. Tapi, aku.... Ahh sudahlah, memikirkan semuanya hanya akan mempersulit keadaan. Kembali tenang, Sasha. Gumam Sasha

Pop! Sasha meletupkan gelembung pertama dari bubble gum-nya

Sasha berpikir, sudah cukup terlambat untuk menolak tawaran ini. Ia perlahan menoleh pada ibunya, ibu yang harus berjuang sendiri tanpa seorang ayah. Sebenarnya, ibu Sasha cukup kaya. Ibunya adalah seorang desainer ternama di eropa. Tapi, bagaimana pun juga Sasha tidak suka menghambur-hamburkan uang ibunya, ia lebih menyukai dirinya yang mandiri.

"Mom Aku akan merindukanmu." Sasha langsung merengkuh ibunya ke dalam pelukannya. Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengalir sejak tadi.

Ibu Sasha tersenyum lembut. Ia tahu anaknya akan sesedih ini jika harus meninggalkan sesuatu yang sudah melekat dengannya.

"Kau akan terbiasa, Sasha. Bukankah hal yang menyenangkan jika kau mendapat suasana baru?" ibu Sasha mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

Sasha menatap ibunya, lalu melepas pelukan tersebut dengan pelan. Ia mengusap pipinya yang sudah dibasahi air mata. Ia pun tersenyum, hanya ibunya dan sahabatnya yang memahaminya dan menjaganya selama ini. Ia menggenggam tangan ibunya pelan sebelum ia pergi dari kota tersebut.

"HAAA!" suara dari belakang tiba-tiba muncul. Tentu saja, wajah Sasha langsung memucat akibat suara yang berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang itu. Sasha menoleh ke belakang, yang benar saja! Vina, sahabatnya yang ditunggu berjam-jam olehnya ini akhirnya sampai.

"Astaga, Vina! Aku sudah menunggu kau hampir 2 jam dan ketika kau sampai, oh Tuhan, jantungku nyaris copot! Sialan!" Sasha terlihat kesal-tidak, dia benar-benar kesal-melihat tingkah menyebalkan sahabatnya ini.

"Hey! Santai, sis! Mobilku tadinya kehabisan bensin, bahkan aku harus meminta bantuan orang untuk mendorong mobil sialan itu." kata Vina sambil tertawa, seolah tak melakukan apapun. Sasha hanya memutar bola matanya dengan malas mendengar alasan klise sahabatnya itu.

"Jadi, apalagi? Kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Waktuku hanya tinggal 25 menit sebelum check in." ucap Sasha. Vina pun mulai mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Ambil ini dulu. Jangan dibuka dulu sebelum kau tiba di New York, ingat itu!" ucap Vina. Sasha pun mengambil sebuah kotak yang ternilai cukup besar itu.

"Jangan simpan senjata berbahaya di dalamnya, bisa-bisa aku tidak akan berangkat hari ini." ucap Sasha, disusul tawa oleh Vina.

"Aku memang tidak ingin kau pergi." ucap Vina dengan santai. Sepertinya Vina memang siap bila dilempar dengan tatapan tajam Sasha.

Yang benar saja, Sasha langsung menatap Vina seolah ingin membunuhnya.

Sasha kembali melihat arloji miliknya. Ini sudah saatnya untuk check in. Ia pun menatap lesu sahabatnya. Ia tak menyangka mereka harus berpisah disini.

Reason Where stories live. Discover now