Mili 01

24 2 0
                                        

Pagi ini SMA Dirgantara akan menyambut salah satu siswinya yang menjadi juara dalam perlombaan piano se dunia. Dia adalah Mila Cantika Cahya. Para fans Mila telah berkumpul dengan membawa banner dan juga ada yang membawa bunga Lili kesukaan Mila.

"Selamat datang Mila. Kamu telah bekerja keras pastinya. Terima kasih telah mengharumkan nama SMA ini." Ucap Pak Surya selaku kepala sekolah dengan membawakan sebuket bunga Lili.

"Terima kasih pak. Ini kan memang tugas saya sebagai murid, jadi bapak jangan terima kasih." Balas Mila dengan lembut dan mengambil sebuket bunga Lili itu.

"Kamu memang anak yang sangat baik Mila." Puji berbagai guru.

Setelah itu para guru kembali masuk keruangannya dan aku berjalan menghampiri fansku yang sedari tadi telah memanggilku.

"Ahh.. terima kasih teman teman. Jangan repot repot segala dong." Ucap Mila setelah itu memeluk dan mengambil buket buket bunga Lili yang diberikan kepadanya.

"Aku sangat mencintaimu Mila."

"Mau gak jadi pacarku Mila."

"Aku sangat merindukanmu Mila."

Aku tertawa sendiri mendengar ocehan para lelaki yang menyukai dirinya. Saat sedang tertawa, lenganku ditarik oleh seseorang.

"Ayo Mil. Cepet nanti ada yang lihat." Ucap sesorang itu.

"Ahh... Karin. Lo ngangetin deh. Gue kira sapa tau." Omel Mila pada Karin. Karin adalah sahabat Mila sejak kecil.

"Sini gue bantuin bawa bunganya biar cepet jalannya." Karin membawa beberapa buket bunga yang dipegang oleh Mila.

Mereka berdua telah berada di kelas setelah memasukkan buket buket bunga Lili ke mobil Mila. Mereka berdua kewalahan membawa buket itu saking banyaknya.

"Mil lain kali lo bilang deh ke fans lo suruh bawa makanan aja daripada buket bunga yang gak penting itu. Mendingkan makanan bisa dimakan lah itu buket bunga yang ujung ujungnya pasti dibuang sama lo." Keluh Karin yang geram pada fans Mila.

"Lo aja yang bilang. Gue gak mau nyakitin para fans gue yaa." Balas Mila tak mau kalah.

"Inget Mil, lo itu udah punya Saga. Jangan pernah sakitin hati Saga loh. Gue yang kenalin dia sama lo, jadi lo harus jaga dia. Oh ya Mil, tumben Saga belum masuk. Bentar lagi bel loh." Tanya Karin sambil melihat ke arah jam tangannya.

"Tadi dia ngabarin gue kalo dia ke Paris. Katanya lomba Bahasa Inggris disana."

Mendengar jawaban Mila, mulut Karin membentuk huruf 'o'. Selepas itu bel masuk berbunyi nyaring yang memaksa harus menghentikan perbincangan mereka.

****
Sudah pukul 4 sore tapi Mila belum juga pulang ke rumah. Ia harus mencatat pelajaran yang ia tinggalkan selama beberapa hari ini. Ia ditemani oleh Karin yang sekarang sedang sibuk dengan ramyeonnya.

"Mil masih lama gak. Kalo masih lama gue mau beli ramyeon lagi nih." Tanya Karin yang melihat Mila masih berkutat dengan pulpen dan buku tulis.

"Gak kok ini malah udah selesai. Ayo pulang." Ucap Mila sambil menutup buku catatannya. Ia memasukkan buku bukunya ke dalam tasnya. "Ayo pulang." Ajak Mila yang mendapatkan anggukan oleh Karin.

Mereka berdua keluar dari kelas dan berjalan menuju parkiran dimana mobil mereka terparkir disana. Jangan salah mereka berdua lahir dari keluarga kaya raya. Orang tua mereka berdua adalah pemegang saham terbesar di SMA Dirgantara.

"Tumben masih ada anak anak ya. Padahal ini udah jam 4." Tanya Mila.

"Hari ini jadwal eskul basket. Jadi masih banyak anak basket yang berkeliaran." Balas Mila mendapat anggukan dari Mila.

MiliWhere stories live. Discover now