Tatapan Sendu

10 0 0
                                        

"Selamat pagi anak-anak, kita memiliki anggota baru di kelas ini, silahkan perkenalkan dirimu"

Aku melangkahkan kaki kecilku memasuki ruangan yang luas itu, sambil menatap lekat setiap mata yang menatapku

"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Bintang, saya murid pindahan dari Jakarta, saya anak dari keluarga Sutrisno. Em... senang berkenalan dengan kalian semua, mari berteman. Sekian, terima kasih"

Prok!prok!prok!

Semua orang bertepuk tangan karena apa yang ku sampaikan. Dan terlihat jelas, senyuman hangat dari setiap wajah di ruangan itu. Padahal aku hanya menyampaikan hal yang sederhana

"Kamu bisa duduk di kursi kosong sebelah sana"

"Baik, bu. Terima kasih"

Aku berjalan menuju kursi yang di tunjuk oleh guru cantik itu.
Aku lega karena anak-anak di kelas ini sangat ramah.

"Hai.. Pekenalkan aku Diandra, kamu bisa panggil aku D"

"Hai D, aku Bintang

Dan semua akan di mulai,
aku akan belajar dengan giat,
Satu-dua hari berlalu, aku akan memiliki lima sahabat selain Diandra

Minggu berganti bulan, dan aku akan meraih semua impianku di sekolah

Bulan berganti Tahun,
Kami akan tertawa, menangis, bersedih, dan banyak hal yang akan kami lakukan.

Hingga nanti di hari kelulusan, kami akan melakukan perayaan yang besar, untuk memperingati bagaimana awal perjuangan kami di tempat ini dan sebelum berpisah.

Dan tentu aku akan...
sangat bahagia!

Tapi...

"Hei Alice in wonderland!! Sadarkah kamu bahwa Hatter memanggilmu dari tadi? Kenapa kamu tidak menyahut dan memandangi sekolah itu?"

Seorang anak laki-laki dengan kaos oblong yang sudah koyak dan kumuh mengerutkan dahinya sambil berkacak pinggang di depanku

"Hehehe.. Maaf kan aku Kak, aku hanya melihat-lihat. Sepertinya kantin sedang ramai, lihat banyak kaleng bekas dan barang usang lainnya disitu"

Aku menujuk sebuah kantin di sekolah itu, ibu penjaga kantin selalu menyisihkan barang-barang bekas dan beberapa sampah daur ulang untuk membantu kami mengutipnya

"Yah.. Kamu benar Alice! Kita pasti akan kaya jika setiap hari kantin seramai itu. Hahaha!"

Daniel tertawa sambil menirukan tawa khas milik Hatter, salah satu tokoh dari film favorit kami.

Dia adalah kakak satu-satu nya yang ku miliki, kakak yang selalu berpikiran positif, kakak yang tak pernah menangis walaupun jutaan penderitaan kami alami, kakak sekaligus orang tua bagiku. Aku sangat beruntung memiliki nya.

"Hahaha... Ya! Berhentilah membuatku tertawa, kamu sangat tidak cocok tertawa seperti itu"

"Hmm... Kata siapa tidak cocok? Lihatlah aku, suatu saat aku akan menjadi aktor ternama karena aktingku"

"Hahaha... Iya, dan semua orang akan tertawa melihat akting mu"

"Akh! Ayolah Alice! Kamu harus mendukungku! Kalau kamu mendukungku akan ku kalahkan Ratu merah"

"Ya.. Ayo semangat Hatter! Dan jangan lupa aku bukan Alice tapi aku Bintang adiknya Daniel sang pemimpi"

"Ya! Ayo semangat! Kalo kita bisa mengumpulkan banyak, kita akan makan ayam panggang malam ini"

"Ya! Demi ayam panggang"

************
Dor! Dor! Dor!

Brukk!!

Tubuh kekar itu pun tumbang dengan tiga peluru bersarang di dada nya, darahnya mulai bercucuran membasahi lantai marmer itu, tangannya masih sempat memegang tangan istri dan putri bungsu nya, sebelum menghembuskan napas terakhir

"Ma-Maafkan.. Ayah. Jangan kuatir, ka-kalian pasti akan baik-baik saja.."

Tiba-tiba pegangan itu mulai kendur,
Tangan itu menjadi sangat dingin, hilang sudah kehangatan itu untuk selamanya

"Tidakkkk!!!! Jangan tinggalkan kami mas,  bangun mas!!"

"Wow.. Hebat sekali, kalian seperti sedang bermain film"

Pria bertopeng itu mengayun-ayunkan pistol di tangannya, pistol yang mengeluarkan timah panas yang menembus dada sang Ayah.

Dan mengarahkannya pada gadis kecil di pelukan sang Ibu

Dor!

"Tidakkkkk!!!"

"Hei Bi!!  Bangun"

Aku membuka mata ku, napas ku tesegal-segal, keringatku bercucuran, dan Daniel melihatku dengan tatapan kuatir di sebelahku

"Kamu tidak apa-apa?"

Aku mengatur napasku, dan berusaha mencerna segalanya.

"Iya, aku baik-baik saja"

"Kamu mimpi buruk lagi?"

Aku menganggukkan kepalaku, kemudian Daniel duduk di samping tempat tidurku,

"Tidurlah adikku sayang, tidak perlu kuatir aku akan selalu ada di sampingmu"

Aku berbaring, menarik selimutku, dan mendengarkan kakak ku menyanyikan lagu tidur kesukaanku
Sambil mengelus rambutku dengan lembut

"Timang-timang adik ku sayang, jangan menangis tidurlah sayang, ku nyanyikan nina bobo kan, semoga lelap tidurmu.."

Kakak ku memang selalu tahu apa yang ku butuhkan, dia memang yang terbaik. Dalam sekejap aku melupakan semua mimpi itu dan kembali terlelap

Daniel kemudian keluar dan duduk di teras rumah memandangi bulan malam itu dengan tatapan Sendu

Menunjukkan sisi rapuh seorang kakak yang berjuang melawan derita

Adik ku yang malang, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mu, bahkan menyekolahkan mu saja aku tidak mampu

Mungkin kalau paman tidak serakah, hidup kita setidaknya akan sedikit lebih baik

Cahaya Dalam KegelapanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang