Prolog

19 4 14
                                        

Hujan. Aku suka hujan. Bunyinya, baunya, sampai ke suhunya pun aku suka. Matahari pun terasa enggan memancarkan sinarnya ke arah timur. Dan, disinilah aku, di sebuah tempat yang orang-orang memanggilnya dengan sebutan “rumah”. Ah, membosankan. Batinku saat memandangi hujan.

“Chloe, kau sudah mandi belum?” Teriak seseorang dari lantai bawah, dia adalah ibuku. Dia adalah sosok terbaik, tersabar, dan ter-perfect yang aku kenal di dunia ini. Ya, itu karena aku tak pernah diizinkan keluar dari tempat yang-dinamakan-rumah ini.

“Iya, bu. Sebentar lagi aku akan turun dan mandi.”

“Cepatlah nak, atau kau mau ibu menyeretmu keluar dan memandikanmu di bawah hujan?” Bohong. Ibu selalu berkata seperti itu ketika aku malas melakukan suatu hal. Lagian hujan sudah agak reda. Bagaimana dia memandikanku dibawah hujan jika pintu keluar saja tidak pernah dibukakan untuk ku?

Akhirnya aku turun dengan malas, lalu masuk ke kamar mandi. Selepas mandi, aku mencari ibu, hendak menanyakan makan malam.

“Ibuu? Ibu dimana?”. Horor. Entah kenapa keadaan rumah tiba-tiba sepi, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang dilarang oleh Ibu, pintu keluar.

“Tidak dikunci? Aneh sekali.” Bisikku. Aku pun keluar, dan ini pertama kalinya aku keluar setelah 16 tahun dikurung di tempat bernama rumah itu. Aku melongok-longokan kepalaku, mencari sekitar rumah, tapi aku tidak dapat menemukan Ibuku. Ah, mungkin ibu sedang berbelanja untuk makan malam, batinku. Saat aku hendak masuk ke rumah, aku melihat sebuah semak bergerak-gerak, aku menjilat tanganku lalu mengangkatnya ke atas. Tidak ada angin padahal. Aku tertegun. Apakah Ibu mencoba bermain-main denganku?.

Setelah bertarung dengan batinku sendiri, aku memutuskan untuk menghampiri semak tersebut. Dia masih bergerak-gerak. Apa ada hewan buas dibalik semak ini?. Kemudian aku menyentuhnya, semak itu tiba-tiba terdiam. Aku menyibaknya, Oh Gods, aku menemukan sebelah sandal Ibuku, keningku berkernyit. Tiba-tiba aku merasakan dingin di kakiku, Astaga, suatu bayangan hitam seperti tentakel sedang melilit kakiku. Aku berkeringat dingin, aku putuskan untuk segera berlari dan masuk ke dalam rumah. Tetapi sebelum itu, makhluk hitam bertentakel tadi telah menyeretku, ke dunianya.

-----

Happy reading.
First time nih, hehe. Jangan lupa vote dan comment nya ya.
Thanks.
Salam Hibernasi🐨

Running WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang