BAB I - PERJALANAN

286 6 8
                                        

Randy seorang mahasiswa di universitas X. Randy di kenal sebagai mahasiswa yang jago dalam olahraga basket, banyak mahasiswi – mahasiswi kampus yang menggilainya. Randy sedang menunggu 4 teman lainnya untuk melaksanakan tugas dari kampus.

"Mana sih nih yang lain, lama bener kayaknya." umpat Randy sambil melirik jam di tangannya.

Tak lama kemudian, Edo dan Vincent pun datang. Edo adalah seorang mahasiswa begajulan, playboy, dan sering menggoda mahasiswi di kampus, sedangkan Vincent adalah teman Edo, dia hanya mahasiswa yang biasa saja. Mereka berdua menemui Randy yang tengah kesal menunggu teman – temannya.

"Woy bro, udah lama lu disini?" tanya Edo sambil menyulutkan api ke rokok yang ada di mulutnya.

"Kemana aja lu? Udah setengah jam nih gue nungguin, Luna sama Cindy mana?" tanya Randy.

"Luna sama Cindy lagi kena macet, lu tau kan jakarta kalo pagi jamnya orang sibuk jalan kerja." Jawab Vincent.

"Mereka sampe mana?" tanya Randy.

"Ah bawel lu Ran, sebats dulu napa sini. Nih ambil." kata Edo sambil memberikan sebatang rokok kepada Randy.

"Sorry gue gak ngerokok..." jawab Randy.

"Ah elu, Randy yang udah jelas – jelas gak ngerokok lu tawarin, giliran gue kagak. Sini buat gue aja." kata Vincent yang langsung mengambil sebatang rokok di tangan Edo.

"Basa – basi kali gue." kata Edo tertawa.

Tak lama kemudian Luna dan Cindy muncul. Luna seorang mahasiswi yang pintar dan pandai memasak. Sedangkan, Cindy seorang mahasiswi yang terkenal karena kecantikan dan bodynya yang seksi, banyak laki – laki yang ingin menjadi pacarnya termasuk Edo.

"Hai, lama ya? Sorry ya, tadi macet soalnya." kata Luna.

"Gapapa Lun, ini udah kumpul semua kan. Berangkat yuk langsung, pesawatnya berangkat jam 9 nih." kata Randy.

Mereka berlima berangkat dengan mobilnya Randy. Di perjalanan mereka mengobrol banyak hal. Sesampainya di bandara, mereka menunggu pesawat datang. Sambil menunggu, mereka membicarakan soal tugas mereka.

"Do, lu bawa peralatan yang udah di tentuinkan?" tanya Randy.

"Udah, bawel amat sih lu. Tenang aja sama gue." jawab Edo.

"Yang lain juga bawa kan?" tanya Randy kepada Luna, Vincent dan Cindy.

"Udah Ran." jawab Luna.

Tiga puluh menit kemudian pesawat mereka datang, mereka langsung masuk ke dalam pesawat dan melanjutkan perjalanan menuju kalimantan. Sesampainya mereka disana, mereka harus menunggu mobil sewaan untuk menjemput mereka.

"Duh, nunggu lagi dah." kata Edo mengeluh.

"Bawel lu, Do." kata Randy membalas.

"Ooh, ceritanya balas dendam nih ama gue." kata Edo kesal.

"Baper lu, di becandain gitu aja." kata Vincent.

"Terserah lu pada dah." kata Edo.

Luna dan Cindy hanya bisa tertawa melihat Edo. Tak lama kemudian mobil sewaan mereka datang. Mereka langsung menaiki mobil dan berangkat ke tempat tujuan mereka. Di perjalanan, Edo masih berusaha untuk mendapatkan Cindy sementara Vincent tidur. Randy dan Luna sibuk dengan urusannya masing – masing. Perjalanan menuju desa tersebut melewati hutan dan jalan yang tidak mulus hingga memakan waktu sampai 5 jam.

Mereka sampai jam 4 sore. Mereka disambut oleh Pak Bondan selaku kepala desa setempat dan Pak Bondan tersebut mengajak mereka ke rumah yang akan mereka tinggali sementara. Rumah tersebut hanya memiliki 3 kamar saja dan di desa tersebut belum di jangkau listrik, untungnya sebelum mereka menuju ke desa, mereka sempat membeli genset dan juga bahan makanan. Setelah mereka masuk, mereka langsung membagi kamar dan menaruh barangnya masing – masing. Kamar mandi mereka berada di dekat sungai belakang rumah.

"Nah kalian tinggal disini, saya tidak mau ikut campur dengan apa yang kalian lakukan disini. Tetapi, kalian jangan pernah memasuki hutan apalagi memasuki rumah tua yang ada di dalam hutan itu." kata Pak Bondan.

"Kenapa pak?" Tanya Luna.

"Pokoknya jangan memasuk rumah itu." jawab Pak Bondan menegaskan.

"Baik pak." kata Randy.

Malamnya mereka menyalakan genset untuk penerangan lampu dan mencharge handphone mereka serta laptop untuk digunakan esok hari. Mereka berdiskusi untuk kegiatan mereka selama di desa tersebut

"Ngerti kan tugas kalian masing – masing yang barusan gue jelasin?" tanya Randy.

"Iya ngerti kok." jawab Luna dan Cindy.

"Lu berdua ngerti gak Do, Cent?" Tanya Randy kepada Edo dan Vincent.

"Kagak." jawab Edo dan Vincent kompak dengan wajah yang tak bersalah.

Luna dan Cindy tertawa melihat ekspresi mereka. Randy pun menghela nafasnya dan menjelaskan kembali "Jadi, tugas kalian tuh..."

"Tok... Tok... Tok..."

Tiba – tiba saja pintu berbunyi, mereka berlima langsung mengarahkan pandangan mereka ke pintu.

"Siapa tuh? Coba buka, kali aja Pak Bondan." kata Randy menyuruh Edo.

"Cent, buka pintu sana." kata Edo.

"Yee, lu disuruh malah nyuruh lagi." kata Vincent sambil memukul bahu Edo.

"Biasa dong, gausah pake mukul." kata Edo sambil mengelus bahunya yang dipukul Vincent.

Vincent pun membukakan pintu tetapi tidak ada orang di luar. Vincent pun melihat kiri dan kanan tetap tidak ada siapapun, yang ada hanya kegelapan malam. Vincent pun langsung menutup pintu dan kembali ke teman – temannya.

"Gak ada siapa – siapa tuh." kata Vincent sedikit ketakutan.

"Lu sih kelamaan buka pintunya, makanya orangnya pergi." balas Edo meledek.

"Mending kalo orang, kalo bukan gimana?" tambah Cindy membuat Vincent semakin takut.

"Ah lu Cin, jangan nakutin napa." kata Vincent tambah ketakutan.

Melihat Vincent yang ketakukan, teman – temannya pun tertawa terbahak – bahak menertawai Vincent. Setelah puas menertawai Vincent, mereka kembali ke kamar masing – masing. Di dalam kamar, Vincent masih ketakuan.

"Masih takut lu? Santai aja sih, palingan juga penduduk yang iseng." kata Edo menenangkan Vincent.

"Gue tadi liat sekilas ada bayangan lari ke arah hutan yang ada di ujung desa." kata Vincent.

"palingan penduduk sini, udah santai aja kenapa sih." kata Edo kembali menenangkan. Setelah Vincent tenang mereka berdua tidur. 

RUMAH TUA DI DALAM HUTANStories to obsess over. Discover now