"Bu, yang udah boleh istirahat?"
Murni terperanjat. Teriakan anak-anak itu memecah lamunannya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ah...sudah jam 10 rupanya. Pantas saja anak-anak ini sudah tidak betah di kelas.
"Baiklah yang sudah boleh istirahat."
"Yes!" Seru beberapa anak yang sudah selesai mengerjakan tugasnya. Mereka bergegas keluar kelas, untuk sekedar main atau jajan di kantin.
Murni masih belum beranjak dari tempat duduknya. Tatapannya tertuju pada bangku kedua dari belakang di barisan paling kanan. Kosong. Hampir dua minggu, bangku itu tak diduduki pemilik aslinya. Kemana anak itu? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan itu terus menari-nari di benak Murni.
***
Dua tahun lalu, Murni iseng-iseng mengikuti tes CPNS di Karawang. Yah, hanya iseng. Sebenarnya ia tidak berminat menjadi PNS. Hanya saja ia tak tega mengubur harapan orangtuanya. Di luar dugaan, ternyata ia lolos. Murni pun ditugaskan di salah satu SD negeri di Kecamatan Tirtajaya-Karawang.
Mendapat amanah mengajar kelas V, menjadi tantangan tersendiri bagi Murni. Terlebih, warga kampung dimana sekolah itu berada, terkenal abai dengan pendidikan. Ia pernah mendapati salah satu muridnya belum bisa membaca, tapi begitu mahir menggoda pria. Pernah Murni mendapat cerita, salah satu murid kelas V menjadi wanita penghibur di warung remang-remang. Tapi itu dulu. Beberapa tahun ke belakang, sebelum Murni datang. Tetap saja itu membuat Murni merinding. Ngeri!
***
Waktu istirahat telah usai. Anak-anak kembali masuk. Murni melanjutkan pelajaran berikutnya. Hari ini ia benar-benar tidak fokus. Hanya memberi sedikit penjelasan, itu pun mengulang materi sebelumnya. Kemudian menuliskan 10 soal latihan mengubah pecahan ke dalam bentuk persen.
"Oke! Silahkan dikerjakan latihannya ya..."
"Baik, buuu...!" jawab anak-anak serentak.
"PR, bu?" celetuk seorang anak dari belakang.
"Huuu..." celetukan itu mendapat sambutan dari teman-temannya.
"Kerjakan di sini dong..., kan masih lama pulangnya." jawab Murni lembut.
Meski menjadi PNS bukan dari lubuk hatinya, namun Murni tidak pernah setengah hati mendidik murid-muridnya. Ia tak hanya guru bagi anak-anak itu. Tapi bisa menjadi sahabat, bahkan ibu bagi mereka.
Belakangan ini, salah satu muridnya begitu mencuri perhatiannya. Adalah Sari, murid berprestasi yang akhir-akhir ini banyak berubah. Dia memang pendiam, tapi tak sependiam sekarang. Ia pun sering tak masuk sekolah. Entah karena apa. Tak ada surat atau keterangan apapun darinya, maupun orangtuanya. Beberapa kali Murni mengajaknya bicara. Namun Sari tak ubahnya robot yang hanya bisa mengucap: "Aku baik-baik saja."
Murni yakin, anak itu tidak baik-baik saja. Besok tepat dua minggu Sari tidak sekolah. Beberapa kabar yang ia dengar, membuatnya tak bisa fokus mengerjakan apapun. Hati kecilnya berharap, itu hanya kabar burung. Namun, ia tetap harus memastikannya. _Aku harus menemuinya._Batin Murni.
***
Harapannya untuk bertemu Sari terhalang. Sepulang mengajar, Murni mendatangi rumah Sari. Hanya ibu-bapaknya yang ia jumpai. Itupun dengan sambutan yang sangat tidak ramah. Jangankan minum segelas air, Murni bahkan hanya berdiri di depan pintu dengan ibu-bapak Sari pun di depan pintu. Mereka seperti bodyguard club malam, yang menghalangi siapa saja yang akan membuat onar di tempat mereka.
Murni semakin yakin, ada yang tidak beres dengan Sari. Ia hanya butuh satu kata 'tolong' dari Sari. Itu saja sudah cukup untuk membuatnya melakukan apa saja yang bisa menolong anak itu.
Setelah dari rumah Sari, Murni sengaja tidak langsung pulang. Ia mampir ke warung Bi Ati yang jualan di kantin sekolah. Selain jualan di sekolah, Bi Ati juga buka warung di rumah. Murni sering mampir ke sana, sekedar untuk melepas penat. Warung itu terletak di persimpangan jalan yang menghubungkan sekolah, rumah Sari, dan jalan utama. Sari pasti lewat sini. Begitu pikirnya.
Hampir jam 5 sore. Sari belum juga muncul. Murni mengawasi jalan yang mengarah ke rumah Sari. Dari jaur terlihat sesoso wanita muda berjalan mendekat. Semakin dekat, semakin tak percaya Murni dengan penglihatannya. Sari?
"Bi, itu Sari?" tanya Murni pada Bi Ati untuk memastikan.
"Iya Bu, kasihan dia... "
Murni hanya butuh jawaban "ya" dari Bi Ati untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu benar. Ia segera bangkit dari dudukny sebelum Bi Ati bicara panjang lebar.
"Sari! Tunggu!" Murni bergegas menghampiri anak itu.
Sari tampak terkejut melihat Murni menghampirinya. Ia mempercepat jalannya, bermaksud menghindar. Hup! Murni berhasil meraih tangan Sari dan menghentikan langkahnya. Sari diam, menunduk. Murni menatap Sari lekat. Mukanya dipoles dengan bedak minimalis, namun terlihat menawan. Bibir mungilnya merona. Rambut lurus sebahu, terurai rapih. Kaos ketat warna merah, dibalut cardi berbahan denim dipadu padankan dengan rok mini. Kakinya, beralaskan sepatu hak tinggi.
Inikah Sari, muridnya yang baru kelas V SD? Ia benar-benar tak percaya.
"Sari, kamu tak harus melakukan ini. Ikut ibu ya... Ibu akan membantumu." Murni mencoba membujuk Sari.
Sari hanya menggeleng. Ia masih menunduk. Sepertinya ia tak kuasa untuk menatap wajah gurunya itu.
"Sari, ibu mo... " kalimat Murni terpotong suara klakson dari arah jalan utama. Mereka menoleh ke sumber suara. Tampak mobil sedan berwarna hitam mengkilat terparkir disana. Sejak kapan mobil itu disana? Murni tak menyadarinya.
Tot...tooott...!!!
Mobil itu membunyikan lagi klaksonnya. Tampak tidak sabaran.
"Jauh-jauh dari saya, bu. Bahaya!" Ucap Sari sambil melepas genggaman tangan Murni. Ia bergegas menuju mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.
Murni menatap punggung anak itu dengan hati hancur. Ia merasakan luka yang begitu dalam di hatinya karena tak mampu menyelamatkan anak didiknya.
Murni sadar, luka Sari jauh lebih dalam dari yang ia rasakan. Ia tahu banyak tentang anak itu dari tetangga-tetangganya.
Sejak kelas II SD, Sari ditinggal ibunya yang menjadi TKW ke Arab Saudi. Bapaknya tak pernah mengurusnya. Ia sering berjudi dan mabuk-mabukan. Ia hanya pulang sesekali, memberi uang makan alakadarnya untuk Sari. Tetangganya sering mendapati Sari menangis kelaparan di rumahnya. Beruntung Sari memiliki tetangga yang baik. Mereka sering memberikan Sari makanan. Tapi tak ada yang berani menegur bapaknya. Ia kepala preman di kampung itu. Jika ada yang berani macam-macam, bisa fatal akibatnya.
Saat Sari naik kelas V dan menjadi juara kelas. Bapaknya mengajak Sari berlibur ke Pantai Pakis. Ternyata itu hanya akal-akalannya saja. Sari tak pernah berlibur ke pantai. Ia dibawa ke sebuah warung remang-remang dan dipaksa bekerja disana. Hasilnya digunakan bapaknya untuk berjudi dan mabuk-mabukan.
Yang lebih menyakitkan, ketika ibunya--yang bertahun-tahun di negeri orang--pulang, justri mendukung perbuatan suaminya.
"Saya capek jadi babu untuk menghidupinya. Sekarang saatnya dia bekerja untuk kami." kata-kata ibunya masih terngiang di telinga Murni.
Benar-benar tak bisa dipercaya. Orangtua kandung tega 'menjual' kehormatan putrinya demi lembaran rupiah. Ah..., sungguh luar biasa pengaruh kapitalisme. Ia mampu memberangus naluri kasih sayang orangtua terhadap anaknya.
Kapitalismelah penyebab utama luka yang di derita Sari. Ya Allah... Sungguh kami rindu aturanMu tegak kembali di bumi ini. Hanya aturanMu yang mampu menyembuhkan luka-luka yang yang ditorehkan kapitalisme dan kawan-kawannya.
[TAMAT]
STAI LEGGENDO
LUKA
Storie breviMurni seorang guru SD. Ia sudah terbiasa menghadapi murid-murid bermasalah. Kali ini masalah yang menimpa muridnya berbeda. Masalah apakah itu? Apakah murni masih bisa mengatasinya?
