Sebelum aku lahir ayah dan ibu sudah menyiapkan sebuah nama, yaitu Miracle. Alasannya adalah karena kelahiranku seperti perhiasan berharga yang selalu mereka dambakan. Dan tentunya nama Erika yang bersanding dengan Miracle, karena menurut mereka aku adalah seorang anak perempuan yang manis.
"Belajarlah bersolek dan merias diri sayang, jangan keras kepala menjadi gadis yang tanpa kesan feminim!"
Ibu berkata dengan tatapan yang tidak kusukai. Apa yang salah dengan penampilanku? Celana jeans dan atasan casual memang ciri khas remaja bukan?
"Lihat gaun yang ibu buat lagi untukmu, kau pasti terlihat cantik! Jauh dibandingkan dengan yang kau pakai sekarang!"
Tak kuhiraukan cemohan dan celoteh ibu. Tanpa berlama-lama pun aku berlalu dengan langsung menutup pintu kamar.
"Erika, dengarkan ibu sayang! Erika!"
Yach.., itulah mengapa ibu selalu memasang wajah masam saat ada buku di tanganku. Ketika sering beliau memergoki aktifitas si kutu buku ini di dalam kamarnya.
Jadilah aku lari ke sebuah taman liar, yang tidak jauh dari rumah hanya untuk menghindar dari pekikan lantang ibu.
YOU ARE READING
Kutu Buku dan Kumbang Berkelana
AdventurePetualangan ini bermula dari sebuah hobi seorang kutu buku yang menyelami sebuah kisah. Imajinasinya terbang dan menghayati satu demi satu bait ceritanya. Di bawah sebuah pohon yang rindang, terhampar tanah berpasir kecoklatan. Beberapa akar pohonny...
