Angin dingin berhembus kencang, Sang Raja Cakrawala masih terlihat malu malu menampakkan dirinya. Gemuruh suara adzan mulai berkumandang dari corong corong rumah Allah. Aku masih bersembunyi dibalik selimutku, suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan dan membangunkan aku dari tidur pulasku. “Nak, bangun. Shalat Shubuh dulu.” suara itu terdengar dari belakang pintu. “Ya.” jawabku dengan suara parau. Aku bangkit dari tidurku, mengusap kedua mataku dengan perlahan. Aku menuju kamar mandi, membasahi bagian tubuhku dengan air Wudlu yang dingin. Aku mengambil mukenah putihku, keluar dari kamar dan menuju musala kecil yang ada di rumahku.
Ibuku yang menjadi imam, tak ada laki laki di rumah ini. Ayahku meninggal saat aku masih kecil, aku bahkan tak tau bagaimana rupa ayahku. Aku hanya hidup berdua dirumah ini, melakukan segalanya berdua dengan ibuku. Sehabis shalat aku kembali lagi ke kamar, aku kembali bersembunyi dibalik selimut hangat dan tebal di kasur empukku. “Rani! Bangun, jangan tidur lagi. Mendingan kamu siap siap buat berangkat sekolah, hari ini kamu kan ada tambahan.” ujar ibuku. “Aduh ibuk, Rani kan masih masuk jam enam pagi. Sekarang masih jam lima pagi ibuk.” ujarku dari balik selimut. “Jam lima dari mana? Ini sudah jam setengah enam Raan!” ujar ibuku.
Aku menengok ke arah jarum jam yang ada di dinding kamarku. Ternyata benar, ini sudah jam setengah enam pagi. “Ranii! Bangun, nanti kamu telat masuk sekolah.” teriak ibuku. Aku langsung meloncat dari kasurku, berlarian menuju halaman belakang untuk mengambil handuk yang dijemur semalaman. Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi, seusai mandi aku langsung berlarian menuju dapur. Aku melihat ibuku sedang menggoreng telur, aku segera menyiapkan nasi dan mengambil telur yang digoreng oleh ibuku. “Pelan pelan nak kalau makan. Makanya jangan tidur lagi, langsung siap siap sekolah biar ga keburu buru.” ujar ibuku memberi nasihat. “Iya ibuk iya.” ujarku. “Bawa payungnya, akhir akhir ini hujan terus kalau siang.” ujar ibuku. “Iya bu.” jawabku.
Aku mengabiskan sarapanku, aku langsung mengambil payung merah dan tas sekolahku. Aku berpamitan kepada ibuku, “Buk, Rani berangkat dulu.” Ibuku mengangguk. Aku melihat jam, jarum jam menunjukkan pukul 05.58. Aku kaget dan langsung berlarian menuju garasi, aku mengambil sepedaku dan mengayuhnya ke sekolah yang cukup dekat dari tempat tinggalku.
Aku melintasi jalanan yang ramai, banyak kendaraan berlalu lalang. Padahal ini masih pagi, tapi entah kenapa setiap orang kelihatannya selalu terlihat sibuk setiap waktu. Aku tetap mengayuh sepedaku. Tak lama kemudian, aku sudah sampai di sekolahku. Aku memarkirkan sepedaku diantara deretan sepeda lain. Aku melihat jam di tanganku, kini ia menunjukkan pukul 06.08. Ah sial, aku terlambat. Tapi, aku tak putus asa. Aku berlarian menuju ruang kelasku di lantai dua, Alhamdulillah pelajaran belum dimulai. Aku merasa lega.
Aku langsung meletakkan tasku di tempat dudukku. “Ran! Tumben pagi, biasanya siang terus.” sapa Dea. “Eh Dea, iyalah pagi, kan sekarang ada tambahan De.” ujarku. “Tambahan? Lah, sekarang hari selasa Ran. Gaada tambahan, hari ini juga pulang pagi.” Ujar Dea. “Hah!? Pulang pagi De? Kenapa?” ujarku dengan nada kebingungan. “Kan sekarang ada pelantikan kepala sekolah baru Ranii. Kamu kemarin ga dapet surat?” ujar Dea. “Ngga, ntar pulangnya jam berapa?” tanyaku. “Ini bentar lagi, hari ini cuman ngisi absen doang Ran, abis itu pulang.” jawab Dea. “Ya Allah, tau gitu aku ga masuk.” ujarku. “Udah udah, gimana kalo kamu nanti ikut aku aja?” tanya Dea. “Kemana emang De?” tanyaku balik. “Jalan jalan ke kota sebelah, ntar naik mobilku. Viona sama Rere ikut juga kok. Gimana?” jawab Dea. “Okedeh, ntar jemput dirumahku ya!” ujarku. “Oke Ran.” ujar Dea.
Bel berbunyi, pertanda semua kegiatan di sekolah telah usai. Aku melihat ke jam, jarum jam menunjukkan pukul 07.00. Ini masih pagi, tapi aku harus segera pulang. Karena nanti temanku akan menjemputku untuk pergi ke kota sebelah. Jadi, aku langsung pergi ke parkiran sepeda. Aku mengambil sepedaku dari deretan sepeda yang tertata rapi itu, aku mengayuhnya dengan bersemangat.
Aku sampai di depan pintu rumahku, aku membuka pintu dengan perlahan. Aku melihat Ibu sedang menonton berita di televisi. “Assalamualaikum buk.” ucapku. “Waalaikum salam. Loh, Ran? Kamu kok sudah pulang?” tanya ibuku. “Iya buk, Rani pulang pagi. Tapi sebentar lagi mau diajak keluar sama temen temen.” jawabku. “Kemana nak?” tanya ibuku lagi. “Ke kota sebelah buk, jalan jalan.” jawabku.
“Sore ini, akan terjadi badai besar di kota ini. Diharapkan kepada para masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah dan keluar seperlunya saja.” berita di televisi itu membuat pembicaraan antara aku dan ibu hening seketika. “Liat itu Ran, berita di televisi bilang kalau nanti sore akan ada badai besar di kota ini. Kamu gak usah kemana mana dulu, temeni ibuk.” ujar ibuku. “Ibuk, Rani sudah janjian sama temen temen. Naik mobil kok, jadi ga akan kena badai. Nantik diusahain pulang sebelum sore deh buk.” ucapku. “Iyaudah kalo kamu maksa, jangan pergi lama lama. Temani ibuk.” ujar ibuku. “Iya iya.” ucapku.
Aku pergi menuju kamar, mengganti pakaian dan mempersiapkan barang barang. Dari luar ada suara klakson mobil berbunyi, ibuku memanggilku untuk segera turun. Aku langsung turun membawa barang barang yang sudah aku persiapkan didalam tas. Ternyata teman temanku sudah tiba, aku segera berpamitan kepada Ibuku agar segera berangkat ke kota sebelah. “Buk, Rani pergi dulu.” ujarku. “Jangan pergi lama lama, temani ibuk.” ujar ibuku dengan wajah datar. “Iya buk.” ujarku. Aku keluar dari rumah. Tiba tiba, ibu menyusulku dan memelukku dengan erat. “Rani, jangan pergi lama lama, temani ibuk.” ujar ibu. Aku menatap kedua matanya, kedua matanya berlinang air mata. Ada yang aneh disini. “Iya iya ibuk iya.” ujarku. Ibupun melepas pelukannya.
Aku segera masuk kedalam mobil, ibupun masuk kedalam rumah. Mobil mulai berjalan, desingan mesin mobil ini mulai terdengar. Mobil yang aku tumpangi melaju dengan sangat kencang, jalanan benar benar sepi kali ini. Jarang sekali ada kendaraan yang berlalu lalang, trotoarpun sepi dari para pejalan kaki. Entah, tak seperti biasanya saja.
“Wah, ini jalanan kok sepi banget ya, gak kayak biasanya.” ujar Viona. “Iya juga ya, kok bisa kek begini.” ujar Dea. “Ini semua karena berita yang dikeluarkan tadi, berita tentang adanya badai yang sangat besar.” ujar sopir memotong pembicaraan. “Oh, begitu ya pak.” ujarku.
Mobil kami berhenti di pusat perbelanjaan ternama. Kami turun dari mobil dan masuk kedalam swalayan itu. Rona lampu lampu gedung megah itu menyinari tiap tiap sudut bangunan, orang orang berlalu lalang membawa barang belanjaan. Kami bersenang senang di dalamnya, bermain main di sebuah arena permainan sampai mencoba baju dan alat make-up. Tak terasa, jarum jam menunjukkan pukul 16.30. Di luar sedang ada hujan lebat, tapi tak ada yang peduli. Semua masih sibuk bersenang senang, melepas jeratan pilu ditiap raga dan membentuk rasa bahagia. Aku berjalan ke sebuah toko elektronik, didepannya terpajang televisi datar berukuran sangat besar. Televisi itu sedang dalam keadaan hidup dan menampilkan sebuah tayangan berita.
“Dikabarkan kepada seluruh warga kota untuk lebih berhati hati, badai besar telah melanda kota sebelah. Banyak rumah yang hancur, kerugian masih tidak bisa dihitung. Masih belum ditemukan korban jiwa. Untuk saat ini, badai sudah selesai. Diperkirakan badai akan berjalan menuju ke arah utara.” ujar reporter di berita itu.
Aku yang mendengarnya benar benar terkejut, aku langsung berlarian mencari teman temanku. Aku menemukan mereka. “Ran? Kamu denger berita tadi kan? Kita harus cepet cepet pulang.” ujar Rere. “Iya aku denger, ayo kita pulang.” ujarku ketakutan. Kami langsung menuju mobil milik Dea, mobil itu mulai berdesing lagi. Kali ini, mobil yang aku tumpangi benar benar melaju dengan kencang. Rintik air hujan membasahi kaca, suasana di dalam mobil benar benar hening. Semua memikirkan keluarga mereka masing masing.
Raut raut awan mendung menggantung di atap cakrawala, Rinai hujan menjadi deras menutupi semburat lembayung senja yang mulai muncul di tepian angkasa. Deretan hempasan tajam air hujan menujam menerjang ke atas bumi, hujan kali ini mengalir dalam pelupuk sunyi.
Dalam hening kali ini, ku pinta pada Allah untuk melindungi ibuku. Menggantungkan harap agar aku masih bisa bertemu walau tak ber-sua. Waktu terasa lambat sekali, padahal mobil ini sudah melaju dengan benar benar kencang. Tapi rasanya jarak yang ditempuh berkali kali lipat dari jarak yang sebenarnya. Angka jarum jam seakan berhenti. Entahlah, aku mungkin terlalu terburu buru untuk melihat kembali wajah ibuku. Aku berusaha menenangkan diri dalam rapalan doa yang khusyuk dengan hati yang mulai merajuk.
Mobil ini sampai di depan rumahku. Aku benar benar terkejut melihat keadaan rumahku, hancur berantakan. Banyak orang yang berkumpul di depan rumahku, aku langsung melompat dari mobil itu. Berlarian menuju gerombolan warga itu. “Ran, kamu anak yang kuat.” ujar salah satu tetanggaku dengan wajah murung. “Kamu harus kuat ya nak.” sahut yang lain. Aku tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Aku melihat sosok wanita terbaring lemas tak bernyawa sambil memeluk sebuah bingkai foto. Itu ibuku, aku langsung menghampiri jasadnya. Aku menangis diatasnya, kata kata dari mulutku mulai menjadi hampa, aku seakan dibawa masuk dalam sebuah batara jiwa yang dibalut erat dengan rasa duka. Teman temanku merangkul ragaku dengan erat. “Ran, sabar ya! Kita semua turut berduka cita, kamu harus kuat.” ujar Dea. Aku tak menjawabnya.
Aku mengambil foto yang dipeluk ibu, itu adalah fotoku dan ibu bertahun tahun lalu. Aku mendekap potret itu dengan erat, tepiannya menusuk tajam ke dada, masuk jauh kedalam hati dan menerawang kalbu yang terdalam. Hidupku terasa tak berarti, aku dan ibu kini sudah terpisah dimensi. Ingin aku bertatap muka, ingin aku kembali ber-sua. Tapi, semuanya terlambat. Kini aku tahu maksud ibu untuk menyuruhku jangan berlama lama diluar rumah. Dia ingin bersamaku disaat saat terakhir dihidupnya. Andai aku menurutinya, mungkin aku punya lebih banyak waktu bersamanya sebelum pada akhirnya terpisah selamanya di dunia.
Aku bersimpuh disebelah raga ibuku yang kini sudah tak bernyawa. Dibawah rintik hujan dan siratan rona lembayung senja, dengan angin dingin yang menampar tiap bagian tubuhku, batinku kini remuk tak bisa berbuat apa apa. Allah telah mengambil wanita hebat yang amat berarti bagi hidupku dari dunia yang fana. Kini, dalam keheningan aku berdoa pada Allah, berdoa agar ibu mau memaafkan segala kesalahanku dan Allah mau mengampuni dosa dosaku.
Ibu telah pergi, perginya membuatku masuk kedalam jurang nestapa dan menjadikan hidupku didera sepi yang tak bertepi. Ingin aku ber-sua dengan ibu, tapi dia sudah tiada. Aku hanya bisa berharap untuk dipertemukan dengannya kembali di tempat yang lebih baik lagi.
