We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Murid Pindahan

115 9 8
                                        

Namaku Masaki Ichiro tahun ini aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku memiliki postur tubuh yang biasa seperti cowok SMA pada umumnya. Tinggiku 170 cm dengan rambut dan mataku yang berwarna cokelat. Hobiku membaca novel bergenre Komedi – Romantis. Yah, sebuah cerita klasik dimana kebanyakan si tokoh utama atau Heroine akan menemukan cinta sejatinya dan berakhir dengan Happy End.

Sejujurnya aku sangat iri dengan tokoh utama dalam cerita sebuah novel, contohnya saja seorang tokoh utama yang memiliki kehidupan yang sangat beruntung dimana dia memiliki wajah yang tampan, kecerdasan, pandai olahraga, pandai bersosialisasi sehingga banyak cewek yang menyukainya. Sedangkan diriku, wajah tidak begitu tampan, kecerdasan bisa dibilang rata – rata, payah dalam olahraga, apalagi dalam hal bersosialisasi aku sangatlah payah untuk bisa melakukannya.

Bukan kah menurutmu aku ini adalah orang yang membosankan?, Yah, aku hanyalah orang bodoh yang tidak mengerti cara menjalani kehidupan dengan benar. Apakah itu bisa disebut benar atau salah, yang pasti sebuah kehidupan sempurna yang dibayangkan oleh banyak orang, hal semacam itu tidak akan pernah ada.

###

Pagi yang cerah serta suara kicauan burung di luar membuatku terbangun dari tidurku. Pagi ini merupakan hari pertama masuk sekolah setelah melewati liburan kenaikan kelas.

Ketika aku membuka mataku secara perlahan, aku mendengar suara kecil seperti sedang memanggilku.

"Kak..kakak..." Suara itu keluar dari lantai bawah.

Aku menghiraukan suara itu dan berpikir mungkin salah dengar, namun sepertinya suara itu semakin jelas terdengar oleh telingaku yang membuat mataku terbuka lebar sambil melihat ke arah jam dinding.

"Ah, sudah jam 6," ucapku yang masih setengah mengantuk.

Menurutku suara tadi adalah suara dari Akina yang mencoba membangunkanku dari bawah. Setelah bangun dengan keadaan lemas, aku berusaha berjalan ke arah pintu kamar dengan mata yang masih setengah tidur.

Namun saat aku berjalan, secara tidak sengaja aku menendang sebuah buku di lantai tempat kamarku ini. Terlihat banyak novel yang masih berantakan di atas lantai. Mungkin sekitar 10, tidak bahkan lebih banyak. Aku terdiam sebentar sambil melihat ke arah bawah.

"Sudah berapa novel yang kubaca semalam? Tidak bukan itu semalam aku tidur jam berapa?," ucapku dengan nada datar.

Sejenak aku memikirkan kejadian semalam, aku mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam di kamarku.

Kalau tidak salah aku mulai membaca novel saat sedang berbaring di ranjang kasurku pada sore hari. Aku yang bosan tidak melakukan apa – apa selain menatap ke arah atap rumahku, tiba – tiba aku memikirkan untuk menghabiskan waktu terakhir liburku dengan membaca novel.

Aku terus membaca novelku tanpa memperdulikan keadaan sekitar sehingga saat kusadari waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bukannya pergi tidur, aku malah terus melanjutkan membaca novelku hingga larut malam.

Namun setelah itu aku tidak mengingat apapun, kepalaku terasa sakit saat aku mencoba untuk mengingatnya kembali.

Dari balik pintu terdengar suara seseorang yang sedang memanggilku dengan sebuah ketukan.

"Kak...Bangun!." Suara itu keluar bersamaan dengan beberapa kali ketukan di pintu kamarku.

Mendengar suara itu aku pun kaget dan melihat ke arah pintu dimana suara itu berasal. Seketika itu aku menjadi panik sambil memperhatikan sekelilingku. Sepertinya adikku mencoba untuk membangunkanku.

Aku tidak mau adikku melihat isi kamarku yang terlihat sangat berantakan. Karena aku telah mendapatkan peringatan darinya yang mana jika aku masih membuat kamarku berantakan, maka dia tidak akan mengajakku bicara sampai aku meminta maaf kepadanya. Itu pun termasuk Akina tidak akan menyiapkan makanan untukku.

I Want To Change My LifeStories to obsess over. Discover now