Malam itu Keira di jemput oleh supir pribadi ayahnya menuju restoran yang sudah di reservasi ayahnya sebagai tempat pertemuan mereka malam ini. Agusto berniat ingin
mempertemukan Keira dengan Meriam, sekretaris pribadinya di kantor.
Cahaya temaram dan nuansa gold yang mendominasi restoran tersebut langsung menyambut mata Keira yang sedang berusaha mencari sosok ayahnya diantara banyaknya pengunjung restoran di malam itu. Alunan jazz mengalun lembut dari mini stage yang disediakan di bagian tengah depan restoran dengan nuansa klasik yang cukup kental.
Salah seorang pegawai langsung menghampiri Keira yang berada di depan pintu masuk, yang terlihat seperti orang kebingungan karena matanya menjelajah ke setiap sisi ruangan yang cukup temaram itu hingganya ia harus menajamkan penglihatannya lebih dari yang sebelumnya.
“Permisi mbak, apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang pelayan dengan senyum ramah yang terpatri dari bibir tipisnya.
“Ya, saya mencari tempat yang sudah di reservasi atas nama Agusto Picasso”
“Kalau begitu mari saya antarkan ke tempat yang sudah di reservasi”
Pelayan tersebut berjalan mendahului Keira menuju tempat yang dimaksudnya tadi. Keira mengikutinya dalam diam, sambil matanya menjelajah dan mengagumi keindahan restoran ini.
Ternyata Keira dibawa ke sebuat tempat yang lebih mirip privat room. Ruangan kecil yang didalamnya terdapat beberapa kursi dan satu meja bundar. Sepertinya tempat ini benar-benar ekslusif. Batin Keira.
Yup, dan benar saja disana tengah duduk orang yang dicarinya sedari tadi. Anehnya ayahnya tidak duduk sendirian, melainkan bersama seorang wanita paruh baya yang hampir seumuran dengan mendiang ibunya. Wanita ini berpakaian formal ala kantoran, dengan dandanan yang bisa dikatakan cukup ekstrim, karena terlihat cukup tebal seolah dia telah memakainya beberapa lapis. Mirip dengan nenek sihir. Hahahha. (maaf author gaje).
Agusto yang menyadari kehadiran putrinya setelah Keira berada di dekatnya segera mengisyaratkan Keira untuk duduk di antara mereka. Keira pun mengikuti isyarat yang dilemparkan oleh tatapan ayahnya itu dan melempar senyum manis ala kadarnya sebagai bentuk sapaannya terhadap wanita yang duduk berhadapan dengan ayahnya itu.
Suasana terasa cukup canggung karena diantara mereka tak ada satupun yang angkat suara, sedangkan Keira hanya sesekali menatap ayahnya yang kelihatan menghela nafas seolah menghilangkan gugup. Pandangannya seolah meminta penjelasan kepada ayahnya.
Setelah beberapa kali menghela napas, akirnya Agusto meberikan sedikit deheman sebagai tanda bahwa ia akan mulai berbicara. Deheman itu langsung menyadarkan Keira dari pikiran melayangnya yang sedang mencoba membaca keadaan sekarang, dan mencoba menebak apa yang akan terjadi setelah ini.
“Ehmmm…Keira, perkenalkan ini Meriam. Dia sekretaris pribadi papa selama di kantor” ucap Agusto membuka percakapan.
“Meriam, kenalkan ini Keira dia anakku”, lanjut Agusto.
Keira pun ikut memperkenalkan kembali dirinya kepada Meriam, begitupun dengan Meriam.
“Papa, boleh Kaira nanya?”
“Bukannya sekretaris papa itu Mbak Nila, lantas kemana mbak Nila sekarang?” Tanya Keira setelah mendapat persetujuan dari Agusto.
“Nila sudah mengajukan resign semenjak dua tahun lalu”
Keira pun hanya mengangguk singkat sebagai respon dari jawaban ayahnya barusan.
Tak lama setelahnya pelayan datang dengan mendorong kereta yang berisi makanan yang mungkin telah dipesan ayahnya sebelum kedatangannya tadi. Pelayan tersebut menyajikan Salad Hawaian yang merupakan menu yang dipilih ayah sebagai appetizer di dinner malam ini. Selanjutnya ada Black Pepper Steak, dan terakhir ada Bavairose Hopyes sebagai menu penutup.
Benar-benar sajian yang menggiurkan mengingat Keira belum makan sama sekali semenjak sarapan paginya yang hanya di isi dengan sandwich buatan asisten rumah tangga di mansionya.
YOU ARE READING
Meteor Prince
Teen FictionMungkin hidup ini begitu memilukan, hanya saja rasa terbiasa telah mendatarkan perasaan gadis itu akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Mansion mewah dengan asisten rumah tangga yang begitu banyak. Diperlakukan seperti seorang putri namun terpenj...
