Aku pernah di satu masa ketika aku tak ingin membangun apa-apa. Setelah patah yang membuatku pasrah, kau datang dengan tanpa rasa bersalah. Awalnya aku bersikap biasa saja, tak pernah menganggapmu istimewa karena aku tau diriku sedang berusaha untuk kembali seperti biasa.
Kau hadir saat aku sedang memaki takdir. Mencaci semesta dan segala bentuk cerita yang membuatku derita. Kau hadir dengan sebuah ulasan sunggingan biasa. Lengkungan biasa yang ternyata mampu membuatku jatuh ke dasarnya.
Hingga akhirnya cerita itu sekarang hanya menjadi sebuah memori belaka. Menjadi pengusik ketik sepi berbisik. Menjadi pilu ketika rindu sedang menggebu. Cerita singkat untuk cinta yang begitu padat. Cerita sejenak tapi tak pernah terhapus dalam benak.
Aku yang hampir menghapusmu. Tapi ternyata
Tuhan kembali menghadirkanmu dalam mimpi-mimpi belakangan ini. Entah apa maksudnya. Aku yang sedang menabuh bahagia dengan berusaha menggerusmu dalam kepala, ternyata tak pernah bisa. Sejauh apapun aku pergi, seberapa banyak apa yang kulakukan untuk bersenang-senang, ternyata rasanya tetap berkurang; karena kau tak lagi di genggaman.
Aku yang hampir merelakanmu, karena aku tahu bahwa memaksamu untuk bersamaku tak akan membuatmu merasa bahagia. Tetapi semesta kembali menguji ketika bayangmu kembali menghantui ketika hitam sedang menduduki cakrawala. Hitam yang mengusik kenangan yang ternyata membuatku kecanduan untuk terus mengingatmu- walau hanya sebatas angan.
Aku yang hampir melupa tapi ternyata kau masih berada dalam urutan teratas atas definisi bahagia. Bahagiaku lebih tepatnya.
