Pagi ini aku berangkat sekolah sedikit terlambat. Pintu gerbang sekolah tinggal selangkah lagi, Ada apa ini, kemarin aku galau, tapi pagi ini malah penuh drama, ada semacam ketakutan, atau apalah namanya. Mungkin ini pertemuan terakhirku dengan Jihan, cewek paling populer di sekolah ini, yang sudah menjadi pacarku.
Dari awal aku tahu, Jihan memacariku karena dia butuh orang yang bisa ngerjain pr-pr matematika dan fisikanya. Siapa sih yang gak mau di pacari cewek paling cantik di SMA ini? secara aku juga belum punya cewek, atau mungkin cewek-cewek yang enggan mendekatiku. Aku Jono yang cupu, begitu titel yang melekat pada diriku. Meskipun aku siswa dengan nilai tertinggi.
Sebenarnya Jihan termasuk cewek yang pintar, hanya saja dia gak pernah serius dengan sekolahnya. Pergaulan dengan teman-teman sosialitanya yang sudah di ambang batas buat cewek seusia mereka. Ngabisin duit ortu buat jalan-jalan di mall atau nyalon.
Aku juga tidak peduli sikap Jihan yang terkadang jutek, saat dia ngajakin aku nonton. Atau sikapnya yang berubah manis, saat dia butuh rumus-rumus fisika dan matematikanya.
Bahkan aku kemudian menyesal karena sudah di tembak Jihan dan menuruti kemauannya. Begitu banyak serentetan peristiwa yang menganggu duniaku yang semula tenang tanpa riak, memang sih aku sering jadi bahan candaan teman-teman, tapi aku sudah terbiasa. Tapi sejak Jihan memproklamirkan hubungan kami, maka mimpi buruk itupun selalu mulus mendarat di hidupku.
"Hai, Jono... kalau kamu masih dekat-dekat Jihan, siapkan saja kalimat terakhirmu!"
Bunyi ancaman Donny, cowok tajir yang ingin jadi pacar Jihan.
Belum lagi, Andika yang jago sepak bola, dia paling suka ngerjain aku. Aku harus mengerjakan setiap ada tugas pr, belum lagi menyiapkan peralatan bolanya kalau dia sedang merumput. Bahkan saat turun hujan dan aku menggigil kedinginan.
Setelah bertubi-tubi aku menerima nasib tragis, maka aku memberanikan diri ngomong dengan Jihan kala itu.
"Kita sudahi saja."
Kulihat kening Jihan mengernyit, mencoba mencari tahu apa maksud kata-kataku.
Jihan terdiam sebentar, lalu berkata, "Makasih ya, sudah ngajarin aku selama ini."
Jihan berlalu meninggalkanku, dan sejak saat itu, Jihan sudah jarang menemuiku lagi. Sebenarnya otak Jihan itu cerdas, kalau dia emang tekun dan mau belajar. Hanya selama ini dia salah bergaul aja. Lebih suka nongkrong di mall dengan teman-temannya
Tapi apa yang terjadi dengan hatiku selanjutnya, perasaan yang aneh, aku takut kehilangan Jihan, bagaimana kalau sekarang dia sudah paham dan jago rumus-rumus fisika, tentu dia tidak akan membutuhkanku sebagai pacarnya? atau seseorang yang pantas dimintai bantuan untuk pr-pr nya?
Kepalaku terasa pening memikirkan ini semua, bodohnya aku tidak memahami rumus cinta ala anak muda, dan malah melarikan diri, menerima tawaran nenek, yang memintaku tinggal bersamanya dan pindah sekolah setelah setengah semester ini. Aku takut untuk jatuh cinta beneran sama Jihan. Dan kemudian aku menjadi gila kalau kenyataannya Jihan mendepakku.
"Jono..."
Jihan tiba-tiba muncul dihadapanku. Dia berjalan di sampingku, kali ini kuberanikan melirik binar matanya. Hangat sekali. Tidak jutek seperti biasanya. Bahkan Jihan tidak cerewet. Aku seperti tidak rela melepasnya. Aduh. Jangan-jangan sikap manisnya kali ini wujud terima kasih nya padaku, karena sudah membantu pr-pr nya. Karena sudah jadi pacarnya, meski hanya berhenti pada status. Jelas sudah seperti kisah sinetron yang sering di tonton ibuku di tv.
"Jon, kita janjian yuk, setelah kita lulus nanti, maukah kau jadi pacarku lagi?"
Jihan nembak aku lagi, di depan gerbang sekolah, disaksikan teman-teman dan pak satpam.
