Kuning

17 0 1
                                        



Tata menunggu laki-laki berkulit legam terbakar matahari itu, seperti biasa, dengan dua bungkus nasi dan kunciran rambut yang mulai berantakan. Bagaimana tidak, ia ditinggalkan sejak pagi. Tata tak bisa menyisir sendiri. Tangannya masih terlalu pendek untuk sampai di kepala, begitu selalu ia beralasan.

Rumput kering dan lapangan semakin berdebu. Hujan sudah lama tak turun sementara kaki-kaki pengunjung tak memberi kesempatan rumput untuk sekedar hijau. Tapi Tata tak bergeming saat debu mencoba masuk ke matanya. Ia mengerjap sedikit, takut yang ditunggunya lewat saat ia memejamkan mata.

"Unu!"

Teriakan itu akhirnya meraung sepanjang lapangan, membelah sore dan dengungan pelan para lelaki yang sedang merubungi misen diesel dari komidi putar yang tampatknya rusak. Sambil meloncat girang diiringi deringan sepeda ontel milik Unu, Tata melambai-lambaikan bungkusan nasi di udara.

Dari kejauhan, lelaki itu tak bisa menyembunyikan senyumnya. Dengan sebelah kakinya ia menghentikan laju sepeda tepat di depan tubuh mungil Tata.

"Kenapa nggak tunggu di tenda?"

Tata mengedip. "Emm...takut Unu nggak lihat?"

Tawa lelaki itu pecah. Sambil mengacak rambut gadis itu dengan gemas, ia berkata, "Kamu pikir kamu sekecil semut?"

Memilih tak menyahut, Tata menggiring laki-laki itu masuk ke dalam tenda yang sudah dipenuhi oleh beberapa pria yang memiliki kulit sama kotor dan legamnya dengan Unu.

"Baru datang, Nu?" sapa lelaki berambut panjang kusam yang sedang duduk memainkan rokoknya.

"Iya," Unu membuka kausnya yang bersimbah peluh."Kita bisa main di lapangan mereka."

Tawa dan sorakan kegembiraan menyambut berita yang dibawa Unu.

"Kita pindah lapangan lagi?" Tata melongok, memandang Unu yang tubuhnya hampir tiga kali lipat lebih tinggi darinya. Unu tersenyum, meraup gadis itu ke dalam gendongannya dan berkata,

"Iya, kita ke Solo."

Tata hanya mengangguk, namun tak sepenuhnya paham. Jika Unu tersenyum, artinya Unu bahagia. Jika lelaki itu bahagia, maka Tata juga pasti bahagia.

Persiapan menuju lapangan berikutnya selalu membutuhkan waktu cukup lama. Tentu saja, tenda-tenda besar dan loket tiket tidak berangkat sendiri. Dibongkar, dilipat baik-baik agar gampang dipindah.

"Taa, bisa bantu?"

"Buat Unu aku bisa segalanya,"

"Penjilat," Unu mengalihkan pandangannya dari cermin."Pijet punggung Unu bisa? Pegel."

"Siap bos Unu!"

Tawa Unu bercampur dengan tawa dari arah lain.

"Kau harus mulai panggil dia 'kakak', Ta. Jangan panggil 'Unu' terus."

"Kenapa? Tata sudah gede, bulan depan lima tahun!" Pernyataan itu diiringi lima jari pendek yang mengacung di udara. Tak ada bantahan akan kalimat Tata, hanya tawa yang kembali menggaung sepanjang tenda. Tata hanya mengangkat bahu. Toh, kenyataan kalau dia sudah besar.

Unu menatap gadis kecil yang sedang sibuk menyombongkan kembali umurnya yang akan bertambah. Lima tahun.

"Hey, mikirin apa?"

Titin menyenggol bahunya, menghadap wajah Unu dengan mata menyipit karena tersenyum. Perempuan paruh baya dari loket tiket itu adalah satu-satunya tempat bercerita Unu. Ia punya dua anak. Suaminya bertugas menjaga komidi putar. Mungkin karena naluri keibuannya, ia yang selalu paling pertama khawatir soal mereka berdua.

KuningWhere stories live. Discover now