The Most I Hated Person

34 3 0
                                        

Aku mulai berjalan gontai menuju koridor kelasku yang letaknya cukup jauh dari gerbang utama. Ya, aku masuk di salah satu sekolah menengah atas yang terkenal akan nakalnya murid, kurangnya fasilitas, serta minimnya kejuaraan. Aku sama sekali tidak menyangka mendapat nilai akhir yang sangat mengenaskan dan berakhir terdampar di sekolah yang menyedihkan ini. Aku melemparkan tas yang sangat berat di atas bangku yang mulai reyot.

"Ah semoga saja ada wifi disini." ujarku yang mulai mengutak atik pengaturan wifi di ponsel pintarku.

Namun, selang 5 menit aku menanti adanya jaringan internet yang masuk, hasilnya nihil. Aku tidak menemukan satu jaringan yang masuk di ponsel kesayanganku itu.

"Argh ... sungguh sial pagiku hari ini." kataku sambil keluar kelas.

Ketika aku kembali ke kelasku, tiba-tiba sudah banyak murid yang berseragam sekolah menengah pertama yang berbeda-beda. Ada yang sudah bergerombol dengan kawan barunya, ada yang sibuk membaca buku, ada juga yang tertidur lelap.

Bel sekolah pun berdering. Semua anak di kelasku duduk di tempat duduk mereka semula.

"Selamat pagi adik-adik." sapa lelaki berperawakan tinggi tegap dengan suara lantangnya.

"Selamat pagi kak." sahut beberapa anak dengan suara malasnya. Sedangkan manusia- manusia lainnya terutama kaum hawa sedang bergumam tidak jelas. Salah satu topik pembicaraannya yaitu memuji ketampanannya secara terang-terangan.

Aku pun mulai malas dengan keadaan kelas yang seperti ini, akhirnya menatap jendela luar kelas yang memperlihatkan pertandingan basket.

"Hei yang pakai kuncir pita biru yang lagi lihat luar kelas!" teriaknya di sela-sela lamunanku.

"Eh, saya kak?" tukasku yang jujur saja terkesiap karena disindir tadi.

"Iyalah kamu, siapa lagi? Nama kamu siapa?" tanyanya sambil menunjukku dengan penggaris kayu panjang.

"Christa Ingrid Adityawarman, ada apa?" jawabku dengan tak kalah lantangnya.

"Kamu tau saya siapa?" tanya ia dengan sama lantangnya.

"Ehm, sejujurnya tidak." jujurku yang berakhir dicibir oleh kawan satu kelasku.

"Baik, jika kau ingin tahu saya siapa, sepulang pra MOS ini kamu harus ke ruang OSIS secepatnya." suruhnya, lalu ia keluar kelas sambil membawa buku catatan.

Lalu, perempuan bertampang lugu dan manis masuk dengan beberapa temannya.

"Selamat pagi adik-adik! Perkenalkan, aku Ilse Camilla, biasa dipanggil Ilse. Di OSIS saya menjadi wakil ketua OSIS. Laki-laki yang baru saja keluar tadi itu ketua OSIS SMA Ramstein ini." jelas perempuan bernama Ilse itu.

"Oh ketua OSIS rupanya. Baik aku sudah tahu. Jadi, aku tidak perlu ke ruang OSIS." riangku dalam hati.

Jujur saja, aku mulai bosan dengan penjelasan tentang SMA Ramstein yang sama sekali tidak aku sukai ini. Ilse, wakil ketua OSIS itu seperti membaca sejarah panjang sekolah ini. Bahkan lembaran-lembaran itu kini seperti buku dongeng yang sering mutter ceritakan sebelum tidur. Ah, jadi rindu mutter.

Setelah Ilse selesai berdongeng tentang sekolah ini, semua siswa diperbolehkan istirahat.

"Hai namaku Isabel Ramdita, dari SMP Netzaberg." tiba-tiba uluran tangan ada di hadapanku.

"Hai, aku Christa dari SMP Internasional Munich." jawabku dengan membalas uluran tangan perempuan bernama Isabel ini.

"SMP Internasional Munich? Yang benar saja, itu sama sekali bukan sekolah yang murah." tukasnya sambil berdiri.

"Ehm, ya bisa dibilang begitu." jawabku dengan tidak semangat.

"Baik, maukah kau berteman denganku? Sungguh, sedari tadi kuingin mengajak bicara denganmu. Tapi kau terlihat ingin sendiri. Jadi kuurungkan saja niatku." pinta Isabel dengan wajah harapnya.

Aku pun masih menimbang apakah Isabel ini tulus ingin berteman denganku atau tidak. Namun, kali ini aku sedang berbaik hati, jadi kuiyakan saja.

"Boleh saja." jawabku singkat.

"Benarkah? Oh tuhan, ingin rasanya kusujud padamu." kata Isabel sambil mulai bersujud.

"Oh lihatlah, berlebihan sekali ia. Jika aku tidak sedang berbaik hati, pasti ia sudah merengek tidak jelas." gerutuku dalam hati.

Setelah istirahat selesai, para siswa diperbolehkan pulang sambil membawa selembaran barang-barang apa saja yang harus dibawa besok.

Aku menuju gerbang utama sekolah yang menyebalkan ini dan rindu akan kehangatan kasur tebalku itu.

Aku ingin segera pulang.

■■■■■
Author's Note:

*mutter: ibu

Holaaa ... maapkan jikalau banyak typo bertebaran :).

Vote+comment diharuskan!!! /canda

Saran dan kritik sangat diterima :)
Thanks!

#tbc

-rainbowmozza

One MinuteWhere stories live. Discover now