Untukmu, yang (sepertinya) tempat hatiku jatuh
Selamat pagi, tuan.
Adakah gaung debaran rasa ini sampai disana?
Kamu tahu?
Rasa yang selama ini aku rawat sendirian, kian hari kian berkembang
Kamu tahu?
Cinta yang dulu aku sepelekan, kini perlahan mulai membuatku bimbang
Tuan, aku harus apa?
Setiap aku menatap terbitnya matahari,
rasanya ingin aku menenggelamkannya lagi
Kenapa?
Sinarnya seperti mengejek
Seperti ini katanya, "sudah berkali-kali aku menampakkan diriku di semesta, tapi rasamu itu belum juga tersampaikan pada tuannya? Kasihan"
Setiap aku menatap kilauan bintang-bintang malam,
rasanya aku ingin menyapu mereka semua
Kenapa?
Kilaunya seperti mengejek
Seperti ini katanya, "sudah berkali-kali aku menampakkan diri di langit malam, tapi tuan yang selama ini kau idamkan tak pernah mengatakan bahwa kau lebih cantik dariku. Tak pernahkah kau menginginkan itu? Kasihan"
Tuan, bolehkah?
Kalau aku menyebut namamu pada setiap doaku
Diantara sajadah dan keningku?
Boleh? Harus.
Selamat berbahagia hari ini tuan
Semoga tak pernah ada air mata barang setetes yang jatuh darimu
Aku tak rela.
Dariku,
Yang hanya mampu menumpahkan rasa dalam goresan tinta
KAMU SEDANG MEMBACA
Tanya hati
PoetryTentang hati yang tak siap dan tak tahu harus bagaimana menanggapi rasa cinta
