"Toloooooong!!!" terdengar teriakan dari gua itu. Entah sudah berapa kali ......
Aku mulai merinding, menatap gua itu. Terdiam. Aku merasa pernah ke gua ini, bahkan bermain di dalamnya. Tapi kenapa sekarang rasanya menyeramkan? Aku bahkan merasa getaran aneh sejak tadi, seperti yang mungkin kita rasakan jika déjà vu.
"Too .... toloooong ......"
Eh? Aku tercengang sendiri, kenapa suara itu semakin lama semakin kecil? Seperti kehabisan suara, atau lebih tepatnya .... kehabisan napas? Ada apa?
BRRAAKKK!!!
Deg! Jantung ku serasa mau copot! Aku melompat mundur karena kaget, lalu membelalak menatap gua itu. Gua itu jatuh! Atap-atap gua itu ambruk ke tanah, lalu menyatu dengan rumput-rumput ini.
"Heiii!!! Suaranya berasal dari sana!!!"
Aku menoleh. Haduh, gawat, itu warga sekitar sini! Aku panik, jangan-jangan nanti aku dikira pelakunya!? Dengan cepat, aku buru-buru memakai tudung jaket ku, lalu berlari cepat memutari gua yang roboh. Di belakang gua itu, ada beberapa pohon pinus lebar yang berjejer, bisa dijadikan tempat sembunyi.
Set! Nah, aman. Aku terengah-engah, mencoba membenarkan pernapasan ku. Capek! Gua tadi sangat besar, mulut gua nya saja sekitar 40 meter! Jadi, memutarinya bisa sangat melelahkan, apalagi kalau berlari!
Sambil membenarkan napas dan baju yang berantakan, aku menatap warga-warga yang mengerubungi gua itu. Dari suara ribut mereka, sepertinya mereka bingung kenapa gua penambangan kecil seperti itu bisa ambruk. Hah? Penambangan?
Aku tercengang, ternyata gua itu penambangan berlian! Semakin lama mendengar percakapan mereka, aku semakin mengerti.
"Sayang sekali, semua berlian dan intan yang ada disini harus tertimbun," ujar salah seorang pemuda dengan kesal.
"Hei, kamu yang melihat saja kesal, apalagi yang punya! Mungkin Pak Dojosman merasa sedih sekali!" kata seorang bapak paruh baya, mendesah pelan.
"Tidak mungkin! Pak Dojosman orang kaya, dan masih punya beberapa gua penambangan yang tersebar di Kalimantan! Satu gua kecil ini bukan masalah, tapi pikirkan para pekerjanya!" ibu-ibu berusia 30-an pun balas berteriak.
"Betul kata Bu Desi! Apa kalian tidak memikirkan mereka yang tertimbun!? Sedikit kemungkinan mereka akan selamat!" seorang ibu-ibu juga, namun kira-kira berusia 20 tahun yang membawa anaknya memelototi bapak paruh baya dan pemuda tadi.
Mereka berdua terdiam, tapi yang lainnya masih saja berisik. Sampai ada seorang kakek-kakek berjenggot lebat dan berpeci yang datang, mereka masih tidak menyadarinya.
"SUDAH, SUDAH!!! INI ADA APA INI!?"
Woh! Ternyata, udah kakek-kakek suaranya masih segede ini, koyo singo! batinku sambil menahan tawa.
"Eh .... ehm, Pak Tetua ...."
"KENAPA!? KENAPA GUA PENAMBANGAN INI BISA AMBRUK!!?" Pak Tetua, yang mereka sebut tadi, pun berteriak. Lebih keras, lebih galak. Mata nya tajam, menyapu pandangan ke semua warga desa yang ia pimpin.
"Ehm, anu, anu Pak .... tadi, sewaktu kami dengar suara barang ambruk yang sangat keras, kami langsung berlari ke sini, tapi udah roboh guanya ...." bapak paruh baya tadi memberanikan diri menjawab, dengan agak cepat (takut disela lagi).
"TAPI KENAPA KALIAN CUMA DIAM SAJA!!! ENGGAK PANGGIL SAYA!? ENGGAK TELEPON AMBULANS!!!"
Semua warga diam saja, pasrah dimarahi oleh pemimpin mereka. Mau gimana lagi, lha wong udah tahu ada gua roboh, ada pekerja yang mungkin tertimbun atau sekarat, malah ribut komentar-komentor kayak komentrator sepak bola! Bedanya, komentrator bola, kalau ada pemainnya yang luka atau cedera mungkin langsung panggil pertolongan juga! Lha ini apa!?
Berinisiatif nolong sendiri aja enggak, manggil ambulans aja enggak, gimana sih!!! aku menjerit dalam hati, diam-diam masih menonton mereka dari balik pohon.
"SUDAH! JANGAN DIAM LAGI, CEPAT TELEPON AMBULANS!!!" teriakan Pak Tetua kembali membahana.
Para warga pun ribut, haduuhh, ini apa lagi!? Ternyata, ENGGAK ADA YANG BAWA PONSEL!!! Pak Tetua juga, ternyata waktu ditelepon satpam desa soal ribut-ribut disini, langsung pergi alias ponselnya ditinggal!
Aku yang melihat dari jauh pun gemas jadinya. Aku meraba kantong jaket, fuuh, untungnya aku bawa! Eh, tapi, gimana kalau aku tiba-tiba datang nanti dikira pelaku? Duuh, gimana nih!? Pinjemin enggak ya?
Aku menatap semakin cemas dari balik pohon. Beradu pikiran sendiri dalam hati.
---------BERSAMBUNG---------
===================================
Halooo para pembaca!!
Gimana, seru enggak? Maaf ya, kalau masih ala kadarnya, maklum masih amatiran ....
Jangan lupa vote dan comment, ya! Vomment mu sangat dibutuhkan, biar aku semakin semangat nulisnya!
Nah, itu saja pesan dari aku, makasih buat yang udah read + vote + comment!
Salam,
Princess Night Ladybug ^^
YOU ARE READING
Diamonds
General FictionApa yang kamu pikirkan saat mendengar kata "berlian" atau "diamond"? Apakah sebuah berlian biasa yang berwarna putih bening atau mungkin biru? Perhiasan, seperti kalung berlian, gelang berlian, cincin, atau anting? Atau apa? Hmm, pikirlah sesuka ka...
