Kembar.
Ketika mendengar kata itu, hal yang pertama kali terbayang adalah dua anak dengan wajah sama, baju sama, dan kelakuan yang juga sama. Arva, Arvel, dan Arvin juga pernah mengalami masa-masa seperti itu. Di mana setiap hari memakai baju yang s...
Langit berwarna biru cerah dan meskipun masih pagi, sinar matahari sudah begitu terik menyengat kulit. Yah, di lapangan begini tidak ada pohon atau atap apapun yang bisa digunakan untuk berteduh. Peluh menetes di pelipis Pak Widodo, namun hal itu tidak membuatnya berhenti mengoceh di podium. Walaupun suara laki-laki paruh baya itu terdengar tegas dan berwibawa, tapi tetap tidak bisa meredam keluh kesah barisan siswa di depannya. Kepala sekolah SMA Lentera itu masih betah berbicara tentang pentingnya nasionalisme juga pentingnya menghargai jasa para pahlawan, padahal sebelumnya tiga lembar kertas HVS berisi pesan dari Kemendikbud sudah dia bacakan.
Arva sudah berjongkok di tengah barisan kelasnya, kakinya pegal dan bajunya lengket karena keringat. Di belakangnya, Faisal dan Haikal sudah lebih dahulu berjongkok. Sementara di depannya, Kintan baru saja menjatuhkan pantat ke lapangan tanpa peduli kotor sambil terus mengumpati Pak Widodo yang banyak bicara. Satu tahun sekolah di Lentera, Arva mulai paham kalau Upacara Hari Kemerdekaan memang selalu menjadi upacara terlama, apalagi Pak Widodo memang suka mengoceh.
Arva memanggil Gibran yang masih betah berdiri di sampingnya.
Gibran menunduk, memandangnya, "Apa?"
"Masih lama nggak sih?"
"Tau dah si Widodo lama amat ngocehnya!" Kata Haikal.
"Gue denger dari anak-anak habis selesai amanat bakal ada pelantikan OSIS baru," Gibran menjawab, "Jadi masih lama."
Faisal, Haikal, dan Kintan serempak mengeluh. Sementara Arva mendadak teringat pada Arvin yang berpakaian sangat rapi tadi pagi sebelum berangkat, bahkan adik kembarnya itu meminta dia untuk berdiri di depan, yang jelas dia tolak mentah-mentah.
"Jadi gegara mau dilantik tuh bocah rapi banget tadi pagi," Dia bergumam.
Kintan di depannya tiba-tiba menoleh, "Eh iya! Si Arvin kan menang ya kemarin! Kembaran lo jadi ketos dong Va," Lalu cewek berkucir cepol itu tertawa, yang langsung mendapat lirikan tajam dari anak-anak rajin yang baris di depannya. Ditatap begitu, Kintan justru balas mendelik, membuat mereka melengos.
"Nah, tuh mulai pelantikannya," Perkataan Gibran membuat Arva langsung berdiri dan menjulurkan leher agar bisa melihat ke depan, tempat di mana Arvin mulai berjalan masuk bersama anggota OSIS baru yang lain.
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
Arvin dengan lantang menirukan sumpah yang dibacakan Pak Widodo, sumpah untuk menjadi OSIS yang baik dan bertanggung jawab. Teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Mereka sudah diseleksi oleh anggota OSIS sebelumnya, dan khusus untuk Arvin, dia juga telah melewati masa pemilihan umum untuk menjadi ketua OSIS. Seperti yang diduga banyak orang, Arvin berhasil menang dan menjadi ketua umum.
Selesai membaca sumpah, Arvin dan ketua umum OSIS tahun sebelumnya maju ke depan, menuju meja yang sudah disiapkan di depan podium. Mereka menandatangani surat peralihan jabatan, lalu saling berjabat tangan. Setelah selesai, semua anggota OSIS, baik yang baru maupun lama, kembali ke ruang OSIS.