Sudah beberapa hari ini dia tidak sadar dari tidurnya, semua itu berawal saat Aku, Ari, Kamal, dan Fajar pergi ke sebuah gubuk yang terletak di seberang desa kami. Gubuk yang sudah cukup tua itu masih terlihat jelas dari desa kami walaupun diseberang sungai dan sudah ditutupi tumbuhan–tumbuhan yang merambat di sekitarnya.
Banyak orang tua yang menceritakan kepada anaknya bahwa dulunya di desa seberang ada seorang dukun yang sering menerima tawaran santet kepada orang orang tertentu sehingga banyak warga yang murka dan membakar dukun itu hidup-hidup beserta alat-alat santetnya, sesudah itu keadaan bukanlah menjadi lebih baik malahan menjadi lebih buruk lagi, banyak warga yang kerasukan dan gantung diri setelah ikut serta membakar dukun itu. Tetapi seorang temanku yang bernama Fajar tidak percaya akan cerita tersebut, dia malah mengolok ngolok cerita dari orangtuanya dan dia mengajak kami untuk pergi ke sana, tetapi Aku tak ingin pergi sebab banyak hal yang ditakutkan akan terjadi ataupun akan benar benar terjadi.
Dua hari telah berlalu dan kami tidak mengingat cerita itu lagi, tetapi lagi lagi Fajar menyinggung soal gubuk itu, ia terus mendesak kami agar pergi kesana sampai akhirnya kami pun menyerah dan mengikuti apa kemauan Fajar daripada persahabatan kami hancur lebih baik mengikuti satu orang gila ini. Fajar memang tidak mempercayai hal hal seperti itu walaupun ia sering menjumpai makhluk gaib,dia selalu menganggap bahwa itu kesalahan teknis penglihatan mata. Setelah semua setuju kami menentukan kapan akan pergi ke sana dan kami menentukan bahwa akan kesana pada malam sabtu karena berbagai macam alasan.
Malam yang Fajar tunggu tunggu pun tiba dan kami mulai menyiapkan sedikit bekal makan dan tak lupa membawa obat anti nyamuk yang dioles di sekitar tubuh , karena untuk sampai ke desa seberang kami harus memutar melewati hutan daripada harus berenang melewati sungai,ketika hendak berjalan menuju hutan tiba tiba Ari menggerutu
“ Duh masasih kalian berani melewati hutan ini malam malam tanpa adanya penerangan”.
Mendengar itu akupun menyadarinya bahwa kami tidak membawa alat penerangan apapun ke sana .
“Alah!!! Kaya gitu pun takut, tapi tenang aku ada bawa senter nih” sahut Kamal.
Ya kamal memang selalu menjadi andalan kami ketika semua orang lupa membawa sesuatu yang penting tetapi dia sangat sulit diandalkan ketika bermain sepak bola, jangankan menendang bola melihatnya pun dia sudah merasa ketakutan.
“Yasudah,yuk kita pergi, semuanya sudah lengkap kan?” kataku. “Yoi” sahut mereka serentak.
Disetengah perjalanan, tiba tiba kami menjumpai seorang perempuan paruh baya, yang membuat kami bingung adalah antara usia dengan wajahnya itu tidak sesuai, karena rupa wajahnya itu seperti seorang kembang desa, dia hanya tersenyum saat melihat kami berjalan tergopoh gopoh melewatinya. Melihat adanya seorang perempuan dimalam hari, ditengah hutan seperti ini membuat kami penasaran dan ingin menanyakan sesuatu padanya. Tetapi kami tidak berani mengeluarkan sepatah katapun hanya saja karena kami penasaran, Aku menyuruh Fajar menanyakan sesuatu kepada perempuan itu.
“mal tanyakan sesuatu kepada perempuan itu dong” ucapku dengan nada yang rendah.
“Ah, kamu ada ada saja , mana berani aku menanyakan sesuatu pada orang asing, suruh saja Fajar, dia kan orang gila yang paling berani diantara kita” jawab kamal dengan sedikit jengkel.
“Hahaha bener juga tuh” kata Ari
“Jar sini deh aku mau bisikin sesuatu" Ajakku.
“apa?” tanya fajar
“coba kamu tanya kepada perempuan itu, ngapain dia malam malam dihutan sendirian” bisikku.
Dengan rasa berani Fajar menanyakan pertanyaan pada perempuan itu. “mbak, ngapain malam malam sendirian dihutan” Tanya Fajar. Perempuan itu tidak menjawab apapun dan tetap tersenyum.
“mbakk ngapain malam malam disini jawab dong” tanya Fajar sekali lagi dengan agak sedikit kesal.
Perempuan itupun menurunkan senyumannya dan mulai mengeluarkan erangan yang membuat kami ketakutan setengah mati. Tanpa pikir panjang kami berlari tergesa gesa sampai sampai kaki Ari tersandung akar pohon yang cukup besar tetapi untungnya dia tidak mengalami luka yang parah sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sana.
Setelah berjam jam kami berjalan akhirnya kami pun sampai disana tetapi tak seorang pun ada di desa itu padahal tadi kami bertemu seorang perempuan paruh baya yang mengeram tadi.. berarti dia bukanlah manusia biasa, menyadari itu Kamal dan aku langsung mengajak Fajar dan Ari untuk pulang.
“eh pulang yok , disini gak ada orang loh . tau gak yang kita lihat dihutan tadi apa?” ajak Kamal.
“alahh, kuntilanak?? Masasih kuntilanak dihutan, ngapain dia di hutan? Nyarik anak?” ujar Fajar.
“ya kamu fikir saja , mana ada manusia yang di tengah hutan malam malam begini, perempuan lagi” sahut Ari.
“alah pokoknya aku gamau tau, aku masih pingin ke gubuk itu, aku penasaran tau, masa kalian enggak?” kata fajar.
“iya sih aku juga penasaran, yuk kita ikuti saja dia daripada dibunuhnya kita” ucapku sambil sedikit bercanda
Awalnya kami ingin pulang, tetapi karena Fajar orangnya keras kepala, kami pun terpaksa mengikuti keinginannya. Jadi kami pun melanjutkan perjalanan ke gubuk itu. Di tengah perjalanan kami dikejutkan oleh perempuan yang tadi kami temui, tetapi kali ini dia mengatakan sesuatu
YOU ARE READING
GUBUK MISTERI
Horrorkarena rasa penasarannya dia pun menanggung akibatnya sendiri, semua itu bermula saat...
