Prolog

33 2 0
                                        

Cinta itu perjuangan, kita tidak akan pernah memperjuangkannya sampai kita dipaksa untuk berjuang. Dan persahabatan adalah kesetiaan, kita tidak akan setia sampai kita dipaksa untuk setia. Sehingga cinta dan persahabatan adalah sebuah perjuangan dan kesetiaan.

Namun, bagaimana jadinya jika cinta itu berujung perpisahan yang membuat sebelah pihak merasa tersakiti karnanya?

Amsterdam, Belanda.

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang merona, segera ia mengusap nya menggunakan tisu yang berada di sebelah kirinya.

Baru saja ia menyalakan televisi dikamar nya, sebuah quotes yang dibawakan oleh seorang wanita sebagai reporter, menarik perhatiannya. Ia larut akan kata-kata yang ia dengar, sampai-sampai ia menangis dalam diam.

Ia mematikan televisinya. Malas menumpahkan air matanya lebih banyak. Ia bosan. Ayah dan Bundanya yang sibuk bekerja membuat rumahnya semakin sepi saja, mengingat ia anak tunggal, dan hanya seorang pelayan yang bekerja di rumah nya.

"Huft. Nelpon Edgar gapapa kali, ya?" Ia menekan-nekan tombol pada white intercom yang disediakan di kamarnya.

Nada tersambung mulai terdengar ditelinga kanan nya. Hingga satu menit kemudian, Edgar menerima panggilannya.

"Hal–"

"Lo tau sekarang jam berapa di Indonesia, hah? Empat subuh, Vir. Gue bukan kalong yang matanya kebukak semaleman." berangnya dari seberang telepon.

"Sorry elah, Ed. Mana gue tau kalo disana lagi tengah malem, disini aja udah jam sembilan pagi."

"Ada yang penting, emang? Sampe nelpon malem-malem gini" suara Edgar melembut.

"Enggak, cuma bosen aja, hehe."

"Yaudah gue mati'in!" Tut.

Ck! Gatau orang lagi bosen apa?! Maen akhirin panggilan seenaknya! Dasar cowo ga peka! Ia menggerutu kesal sambil membanting ponselnya. Untung saja ponselnya mendarat mulus di ranjangnya.

Tok tok. "Non, ayo sarapan dulu."

Alvira berjalan malas ke arah pintu. Lalu tangan kanannya memutar knop pintu.

"Vira lagi males makan, Bi. Entaran aja."

"Mau bibi bawa'in ke kamarnya Non Vira?"

"Gausah deh, Bi. Entar biar Vira aja yang ke bawah."

"Yaudah kalo perlu apa-apa cari Bibi di dapur."

"Iya, Bi."

Setelah pelayannya pergi, ia menutup pintu kemudian menjatuhkan dirinya di ranjang,  membenamkan wajahnya pada bantal kesayangannya.

Let Me KnowWhere stories live. Discover now