"Rania, kamu Rania kan?"
Sapa seorang lelaki yang sekarang berada di depanku. Kemeja batik sepadan dengan celana panjangnya, sementara kaca mata hitamnya bertengger manis di atas hidung bangirnya. Tangan kanannya terulur ke depan menjabat tanganku. Sedikit ragu ku sambut tangannya.
Aku masih terdiam, mencoba menerka siapa lelaki di balik kacamata hitamnya. Dan seperti mengerti apa yang ada dalam benakku, lelaki itu tersenyum sambil melepas kaca mata. Sepasang mata hitam yang rasanya tak asing bagiku.
"Kenang."
Kataku sedikit terpekik, hingga beberapa pengunjung bandara yang lain seperti terganggu dengan suaraku tadi. Bahkan beberapa orang menoleh ke arahku, memandang sedikit curiga.
Dengan sedikit malu, ku gerakkan kedua telapak tangan saling melekat ke depan dada, sebagai ungkapan maafku, karena ulahku sudah menganggu mereka.
Kemudian aku menggeser posisi dudukku, untuk memberi tempat duduk pada lelaki itu, Kenang Pramudya namanya. Sahabat kecilku, yang tidak terdengar kabar hampir dua puluh tahun.
Dan hari ini, di Bandara Juanda, di antara semilir angin senja,
"Kamu sendirian?" Kenang bertanya sambil memutar pandangan ke sekelilingku. "Apa kabar Rania? kamu masih seperti dulu, aku dengan mudah bisa mengenalimu."
"Kamu juga nggak banyak berubah."
Semoga juga perasaannya padaku. Karena sampai detik ini aku tidak pernah membuka pintu hatiku buat yang lain. Aku menunggunya, walau aku belum sempat membalas suratnya waktu itu. Surat yang Kenang berikan waktu kami pulang ngaji. Senja itu tak pernah ku lupa. Wajahnya bersemu merah, tangan juga gemetar saat menyerahkan surat bersampul biru muda. Surat untukku.
Ken tidak tahu betapa bergetarnya hatiku saat membaca surat itu. Namun belum sempat membalas ungkapan hatinya pada secarik kertas, Kenang pergi bersama Ibunya meninggalkanku. Tanpa penjelasan apapun.
"Rania, mungkin ini terlambat, tapi aku harus mengatakannya. Sungguh puluhan tahun ini menyiksaku." Kenang mengembuskan napas sedikit berat. "Aku kacau saat kejadian kala itu, hingga aku tak berani menemuimu."
Kudengarkan Kenang bercerita tentang perpisahan orang tuanya. Tanpa berani membantah dia memilih ikut ibunya dan tinggal di Batu Licin. Hari ini dia datang lagi ke kota kelahirannya, terkait kepindahan pekerjaannya.
"Tidak ada yang kebetulan kan di dunia ini, Rania? Seperti pertemuan kita kali ini."Kenang berkata lagi, dan semakin ku rasakan degup jantungku tak berirama. "Aku ingin jawaban dari lembaran kisah kita dulu, ku harap kedatanganku kali ini belum terlambat."
Terlihat di ufuk barat senja menjingga, semburatnya mampu menentramkan rindu pada kenangan yang selalu terpatri pada bilik hati. Seperti juga surat bersampul biru itu masih tersimpan rapi di kamarku. Diatasnya ada satu surat lagi, surat atas jawaban pertanyaan Kenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ayah
Fiksi UmumAku tak pernah mengerti, mengapa Ayah melarangku menemui Gilang, lelaki pujaanku.
