1

1 0 0
                                        

Matahari bersinar terik di hari Minggu siang ini. Membuat beberapa orang harus bersanding di depan kipas masing masing. Begitupun yang sedang di lakukan oleh seorang gadis SMA berperawakan tinggi tersebut.

Namanya Gixa Ayasa, anak kedua dari 3 bersaudara yang tinggal di salah satu perumahan modern di Jakarta Selatan.

Gixa sedang duduk di depan kipasnya sambil mengirim pesan pada sahabatnya untuk datang ke rumah.

Si bangsul

Woeyyy

Paan

Maen sini. Rumah sepi.

gamau nanti hilap

Yeu si goblok. Kita kan sama sama cewe

Woiya lupa

Buru elah ke rumah gue

Gamau. Mager. Kaki lemes

Hmmm. Mau apa?-_

Es serut 2 mangkok berani?

Iya.

0tw. 10 menit

Tai.

Ada ada saja kelakuan Tina, sahabat baik Gixa. Sambil menunggu Tina datang, Gixa memainkan jari jari tangannya dengan cara mengayun-ayun kannya di udara.

Awalnya biasa saja. Lalu secara tidak sengaja, jari telunjuk Gixa mengarah ke robekan kertas di atas kasurnya. Secara tidak terduga, kertas tersebut mengikuti arah ayunan tangan Gixa.

"Eh gila. Ko bisa gitu" Gixa langsung membawa jarinya kebawah. Otomatis kertas itupun ikut terjatuh.

Gixa terkejut. Apa yang terjadi barusan? Tidak ada yang aneh hari ini. Sekarang hari minggu. Ayah dan ibunya sedang pergi berbisnis. Umurnya 16 tahun. Kelas 2 SMA. Dia tidak sedang diare. Tidak pusing, masuk angin, apalagi muntaber.

Saat sedang berpikir keras. Gixa teringat bayangan dirinya saat masih berumur empat tahun. Dimana dia bisa memindahkan gelas susu dari lantai ke kulkas.

Tapi itu sudah lama sekali. Gixa bahkan hampir tidak ingat jika saja ia tidak mengalami kejadian barusan.

Ah udahlah lupain aja. Palingan tadi itu kertas ada kecoak nya. Batin Gixa.

Meski kejadian tadi tidak masuk akal. Tapi Gixa.l tetap positif thinking terhadap apa yang tadi terjadi. Gixa kembali melamuni kejadian tadi.

"Yuhuuuu spedaaa..  aim kaming tu yuu spedaaa..." suara Tina menggelegar, disusul gebrakan pada pintu kayu kamar Gixa.

"Yaelah sabar beon" teriak Gixa sembari beranjak menuju pintu dan membuka kuncinya. Setelah pintu di buka, muncul wajah manis seorang Tina. Yang sangat kontras dengan sikapnya yang amburadul.

"Lama banget si buka nya. Gue udah teriak teriak juga" ucap Tina sembari nyelonong masuk ke kamar Gixa. Lalu tiba tiba duduk dikasur.

Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: Apr 27, 2020 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

POKRITOWo Geschichten leben. Entdecke jetzt