Snow 1

34.2K 861 54
                                        

Kilatan apa ini?

Bukan. Bukan sebuah sambaran petir yang mengerikan. Bahkan lebih menyeramkan dari itu. Kepalaku terasa berdenyut menyakitkan. Napasku hampir tak terkendali. Aku sesak. Ingin menangis dan berteriak. Tapi tak mampu. Ada apa ini? Jantungku ... terasa ingin lolos begitu saja.

Hei?

Siapa dia?

Aku terasa mengingat sesuatu. Sebuah kilatan hitam putih seperti rol film masa lampau yang sudah usang. Samar-samar. Hanya sekadar bayangan yang samar namun entah mengapa hatiku begitu sakit saat melihat senyumnya.

Kilatan itu kembali lagi. Menampakkan sebuah senyuman penuh luka. Dalam kabur, sosok itu mendekat. Kulihat sebilah pisau tergenggam di tangannya. Aku ingin berlari. Tapi langkahku terasa berat seolah terpaku pasrah meski aku harus tercabik-cabik oleh sebilah pisau di tangannya.

"Ayaaah!"

Hah! Mataku terbuka.

Aku bermimpi.

Ya, mimpi buruk yang sering kali aku alami. Kepalaku terasa pening kembali. Itu mimpi buruk. Tapi entah mengapa aku selalu candu ingin melihat senyuman penuh luka itu.

***

"Mimpi buruk lagi, Tha?"

Melihat wajah sayu anak semata wayangnya, seorang pria tua yang berusia sekitar tia puluhan ke atas hamper kepala empat itu menggeleng pelan. Tanpa respon sebuah kaliat pasti, wajah sang anak yang kusam sudah memberinya jawaban.

Pagi hari yang begitu sunyi dan sepi. Hanya ada suara gesekan antara sendok dan piring. "Ayah tuh kalau masak pastiiii keasinan!" protes bibir nyinyir anak semata wayangnya.

Ayahnya –Tanu terkekeh. "Kebelet kawin, Tha."

"Ih, kayak ada yang mau aja sama Ayah."

"E-ehh, meskipun ayah jadul, tapi ayah populer loh! Emangnya kamu? Anak gadis kok nggak perawatan. Ntar kalau jadi perawan tua, ayah usir dari rumah ya."

Tanpa melanjutkan obrolan saling nyinyir itu, Tanu langsung berdiri membawa piring kotor miliknya dan mencucinya di wastafel.

"Oh ya, Tha. Kamu hari ini shift siang ya?"

"Iya, Yah. Jangan kangen ya."

"Nggak. Ngapain kangen sama anak gadis yang terlalu hemat air sampai jarang mandi gitu?"

"Ayaaaah!"

"Ada tambahan, Mas?"

Seseorang yang ditanya hanya diam tak menjawab. Ia pun menganggap kalau jawabannya adalah tidak.

Tangannya dengan lincah mengambil barang demi barang yang ada di keranjang belanjaan. Tak banyak, hanya ada sekitar lima barang yang seseorang itu beli.

"Totalnya dua puluh lima–"

"Tunggu, ada yang lupa."

Seseorang itu memotong ucapannya dan beranjak mengambil sesuatu yang ia lupakan. Ia melihat gerak-gerik seseorang itu yang tengah mengambil dua kaleng minuman soda. Kemudian, seseorang itu berbalik ke arahnya —kasir.

"Ada tambahan lagi, Mas?" tanyanya lagi sambil menerima dua kaleng minuman soda itu. Ia menambahkan catatan harga di daftar struk seseorang itu dengan fasih.

Lagi-lagi seseorang itu hanya diam. Membuatnya sedikit geram karena seolah sedari tadi ia hanya dianggap patung saja.

"Totalnya–"

"Emh, tunggu, ada yang lupa lagi."

Seseorang itu kembali beranjak dari tempatnya menuju ke tempat di mana ada barang yang ia lupakan.

Hello, Snowman!Stories to obsess over. Discover now