Oneshot

781 79 10
                                        

Another Kyumin Fanfiction
Genderswitch
Rate : M for language

~ oOo ~

Sebelumnya terima kasih untuk masukan dan vote yang sudah diberikan di cerita-cerita sebelumnya. Jadi semangat sendiri buat saya. Sambil nunggu Missing You, nyempil deh ini just oneshot yang tiba-tiba idenya nyantol gitu aja. Maaf ya kalau banyak typo atau alur ending yang kurang menarik.
Enjoy.

~ oOo ~

Sore ini hujan deras mengguyur distrik Gangnam, banyak orang mengerubuti kedai kopi persimpangan jalan —hanya untuk berteduh dengan kedok menyesap secangkir kopi yang tersaji di kedai itu. Kedai itu memang terkesan minimalis, berdinding kaca transparan sehingga siapa saja yang berada di dalam kedai tersebut dapat mengamati pemandangan jalanan Gangnam. Nuansanya tenang, didominasi oleh warna hitam, cokelat dan abu-abu tua khas kedai kopi masa kini.

Kedai yang penuh sesak tidak menyurutkan tekad seorang wanita yang sudah lama mengidam-idamkan segelas es Coffee Tea, menu andalan kedai kopi tersebut. Ya, hanya kedai itu yang menjual Coffee Tea —sejauh wanita itu tahu. Coffee Tea adalah perpaduan ekstrak kopi dan teh hitam, diseduh hingga tidak terlalu kental dan dengan tambahan sedikit tumbukan daun mint dapat mereduksi sepatnya rasa campuran dua minuman berkafein tersebut. Entahlah bagaimana rasanya, yang jelas minuman itu sudah menjadi candu tersendiri bagi wanita itu —setelah sexual activity tentunya.

Karena penuhnya daftar antrean demi segelas kopi konyol itu, wanita tersebut tanpa diberitahu oleh pelayan pun sudah begitu paham bahwa waktu menunggu tidak akan sesingkat biasanya. Ia edarkan matanya ke seluruh sudut ruangan kedai kopi berukuran sepuluh kali lima belas meter itu hingga mendapati sebuah meja kosong yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja kasir.

BINGO!

Ia berpikir bahwa bangku itu akan menolong pantatnya yang sudah pegal minta didudukkan. Tapi, niat itu ia urungkan karena sesaat kemudian sudah ada sepasang muda-mudi yang semena-mena memonopoli meja itu. Wanita itu sedikit berdecak —andai gerak tubuhnya lebih cepat dari otaknya, pikirnya.

Sesaat ia edarkan pandangan lagi, namun nihil. Semua meja penuh. Karena rasa kesal yang ia dera —karena ia berjalan kaki sepulang dari kantornya kemari kurang lebih lima ratus meter jauhnya, tanpa rasa malu ia menghampiri meja di sudut kedai kopi tersebut. Masa bodoh, pangkal pahanya sudah pegal bukan main mengingat sudah 10 menit ia berdiri. Meja itu tidak kosong, muat untuk dua orang pengunjung, namun kursi satunya tidak ada yang menempati. Hanya seorang pria setengah tua yang sedang duduk disitu. Eits, entahlah, wajahnya tertutup majalah bisnis yang sedang dibacanya.

"Permisi, Tuan."

"Hn."

"Boleh saya duduk di sini?"

"Silakan", balas lelaki itu singkat.

"Sendirian saja, Nona?", lanjutnya.

Cih. Penggoda.

Lelaki itu menutup majalah yang sedang dibacanya, lalu meletakkannya di meja. Sungmin —wanita itu, sedikit terperangah akan penampilan lelaki di hadapannya. Kemeja abu-abu tua fit body dengan lengan tergulung sebatas siku, oh jangan lupakan kerah kemeja yang terbuka dua kancing teratasnya. Paduan kulit pucat, wajah datar, model rambut dengan poni kaku yang disibak ke samping serta bibir kemerahan lelaki ini membuat kesan seksi dan manly secara bersamaan. Ternyata lelaki itu tampak seumuran dengannya. Ia terlihat lelah sepulang bekerja, ditandai dengan jas hitam dan dasi merah maroon yang tersampir di bangku lelaki itu.

Coffeetalk // KYUMIN GSStories to obsess over. Discover now