"Kamu tahu siapa yang kamu panggil Abi, kamu tahu Abi itu masih punya istri?" begitu sebagian rentetan pertanyaan sempat terdengar dari suara di seberang telepon seluler yang baru saja memaksaku tersadar dari tidur pulas pagi itu.
"Ibu sudah selesai bicaranya?" tanyaku beberapa saat kemudian. Suara seorang perempuan masih meledak-ledak dengan amarahnya jelas terdengar dari helaan napasnya yang tak beraturan. Kemudian menutup pembicaraan dengan kasar.
Dia menyebut Abi, panggilanku untuk seorang pria yang hampir setahun ini bisa dikatakan mempunyai hubungan khusus denganku. Apakah itu suara Ummi yang tidak lain adalah istri Abi? Benakku mulai mencari jawaban tentang siapa yang baru saja menelepon.
Telepon pagi itu seperti Alarm yang tidak hanya memaksaku bangun, tetapi juga membuka mata lebar-lebar memandangi cermin yang mulai menelanjangi dengan sikap permisifku selama ini.
Di mana Dinda yang dulu sangat menentang dan mengutuk habis perempuan yang menjadi orang ketiga, Dinda yang tak pernah sepaham dengan posisi perempuan idaman lain dan saat ini tanpa sengaja memerankan tokoh itu? Ribuan pertanyaan seolah menyerbu sosok yang ada di balik cermin.
Satu pekan setelah telepon itu, Abi tak pernah menghubungiku. Aku semakin yakin tentang siapa penelepon itu. Tetapi aku tak punya cukup keberanian untuk memberitahukan atau mengadukan kejadian pagi itu. Seperti biasa aku lebih baik menunggu kabar dari Abi.
Aku mengenal Pak Adam hampir dua tahun yang lalu ketika aku diminta bantuan untuk membuatkan web perusahaannya. Ia adalah sosok yang cukup sopan sehingga dengan mudah aku merasa nyaman bekerja sama dengan perusahaannya tak terkecuali Pak Adam secara pribadi. Tugasku kemudian bertambah tak hanya mengelola web perusahaannya, sering kali Pak Adam memintaku menyiapkan bahan presentasi, skrip untuk pers konferen dan lain-lain karena menurutnya skrip yang aku buat mudah dipahami ketika ia sampaikan di depan koleganya. Sehingga untuk memudahkan ketika ia membutuhkan pekerjaanku pada akhirnya aku hampir selalu diminta ikut ke mana pun ia pergi.
Caranya memperlakukan aku dengan sopan sehingga aku pun selalu hormat padanya. Begitu pula ketaatan melaksanakan ajaran agama semakin menambah kekagumanku pada sosoknya. Setahun aku bekerja padanya sekalipun ia tak pernah mengusik hal-hal yang bersifat pribadi. Mungkin itu bentuk sikap profesional yang ingin ia tunjukkan kepada semua karyawan, begitu pula kepada aku.
"Dinda, besok kita bertemu dengan klien kita yang akan memberikan investasi cukup besar untuk tambak udang di Banyuwangi, termasuk pengembangan tambak baru di Pangandaran, tolong siapkan berkas-berkasnya." perintahnya tanpa mengalihkan perhatian dari secangkir black coffee yang ada dalam genggamannya.
"Baik pak sudah disiapkan, ada beberapa hal lagi yang masih harus diperbaiki." seperti biasa pandanganku tak pernah benar-benar lurus padanya.
"Dinda, bisa duduk sebentar?" pinta Pak Adam.
"Iya pak, ada lagi yang bisa dibantu?" pertanyaanku dijawab dengan gelengan kepala.
"Kamu duduk di sini, ada yang ingin saya sampaikan." sambil menunjuk kursi di depannya.
"Baik pak." jawabku ragu namun tetap menuju kursi kemudian terduduk diam, dan masih terus menundukkan pandangan.
"Saya merasa senang ketika kamu bersama saya."
"Sudah menjadi tugas saya pak. Saya juga merasa senang jika semua pekerjaan sesuai dengan yang bapak harapkan." jawabku berusaha keras untuk tetap nyaman selama duduk begitu dekat dengannya.
"Bukan itu maksud saya." beberapa saat Pak Adam terdiam.
"Saya belum mengerti pak." aku masih belum memahami ke mana arah pembicaraannya.
YOU ARE READING
Aku di antara Abi dan Ummi
Short StoryKetika seorang perempuan menjadi pilihan namun harus rela berbagi hati, tetapi di sisi lain sebenarnya perempuan mempunyai hak untuk menentukan pilihan.
