Hujan deras sudah sedari tadi namun ada seorang gadis kecil berdiri mematung tanpa ada niatan berteduh. Bukan karena ia suka hujan namun hujan seolah memahami perasaannya yang tengah kacau.
Di tengah keheningan malam ini ia berteriak, mengucap sumpah serapah yang ia pendam sedari pagi. Mungkin saja ia lelah tersenyum dan lelah untuk terlihat baik-baik saja.
Tak sedikitpun ia menyadari hadirku yang tersembunyi di balik semak-semak, memperhatikannya. Sesekali aku menggigil kedinginan. Sampai kapan akan seperti ini?,batinku. Naluriku berkata bahwa aku harus mendekatinya dan menenangkannya seperti biasanya. Namun kali ini aku mencoba diam dan tetap memperhatikannya.
Tiba-tiba ia berlari menjauh, aku mengikutinya sambil sumpah serapah sesekali keluar dari mulutku. Ternyata lagi dan lagi ia ke sebuah makam. Ia menangis di sana hingga kesadaran merenggutnya. "Astaga!! Rain!!" Aku berlari mendekatinya dan membawanya menuju rumah besarnya.
***
First story hehe...
Jangan lupa voment yaa
YOU ARE READING
RAINA
Teen FictionRaina, si gadis hujan itulah namanya. Dia terbiasa hidup dalam kebohongan. Ia tersenyum ketika sedih dan menangis ketika ia sudah lelah. Bukannya ia tak bersyukur namun trauma membuatnya hidup dalam kesuraman yang sangat rumit.
