Hawa panas berbaur aroma garam, mengeringkan kulit yang telah lama hitam. Sampan yang mengantarku ke Pulau Tangah, Tiku, sudah pergi berbalik arah meninggalkan diriku dengan beberapa nelyan, yang tak lain kawan dan sanak saudaraku yang akan melaut.
Telah menyambut di hadapanku bagan besar bersayap persegi panjang. Badannya sepuluh kali lipat dari sampan yang kupakai tadi. Di tengahnya ada sebuah kamar petak bertengger di sana. Aku mulai mendekatinya.
Deburan ombak di pulau menjangkau kakiku kemudian mundur melepaskan kembali. Makin lama celana hawai bercorak tentara mulai basah hingga lutut kerena air laut yang kian mendalam.
Sebelum memanjat untuk naik, kuraba tubuh bagan yang terbuat dengan kayu raksasa itu. Terasa kasar dengan cat yang mulai terkikis dibentur ombak. Tertoreh pula nama “Ilahi” di sana.
“Ondeh, katanya untuk menertibkan dan membantu nelayan dalam mejaga ketertiban laut, tapi malah menyusahkan.” Sesampai di atas bagan, muluku mengoceh-ngoceh benci akan keberadaan poisi laut yang menyusahkan para nelayan sepertiku. Es balok yang baru datang disusun ke dalam fiber-fiber muatan 1 ton. Aku ikut membantu. Es balok itu berguna untuk membekukan ikan nanti.
“Betul itu, aku tak suka dengan polisi laut yang sok keras mencari-cari kesalahan,” sambung Andin. Ia bolak-balik mengambil es balok dan mengantarkannya padaku.
“Oh, aku masih ingat yang kemarin,” Amaik yang tengah merapikan keranjang ikut-ikutan bicara. “Kau sungguh hebat menghardik poisi Negro yang tak tau diri itu.” Acungan jempolnya mengarah padaku sambil memamerkan gigi kuning akibat rokok yang selalu ia hisapnya.
“Aku yakin, kata-katamu kena ke hatinya,” tambah Andin bak orang yang paham akan segala yang terjadi ketika itu. padahal dia tak menyaksikannya. Aku akui perkataanku memang keterlaluan menghardik polisi kemarin. Kata-kata kasar terlepas dari mulutku begitu saja. Namun aku merasa kata-kata itu memang itu pantas ia dapatkan.
“Aku kesal Din, mengapa mereka meminta denda,” alasanku menyangkut hati yang telah tertanam benci pada poisi laut. “Kenapa untuk menyelamatkan bagan, kita didenda juga? Tak masuk akal. Coba kau pikir, ketika itu badai datang. Aku dan Amaik yang tengah menunggui bagan tidur di tepi Pulau Tengah. Untuk menghindari badai, kami segera melarikan bagan ke tempat yang aman. Namun kami dipertemukan dengan polisi keriting berkulit hitam dengan tampang sangar. Ia menyalahkan kami yang hanya dua orang di atas bagan. Katanya mengapa hanya berdua? Kalian tak tahu aturannya harus delapan belas? Dan pada ujugnya si sangar itu meminta denda. Aku tak habis pikir, apa yang ada di otaknya. Untuk apa bertanya berapa banyak aggota? Sangat tidak ada sangkut pautnya. Kita nelayan ini kuat-kuat. Melaut sendirian pun kita juga bisa. Bahkan dia juga meminta surat izin. Padahal dari dulu nenek moyang kita tak ada memakai suarat izin. Apalagi dengan racun api, kembang api, pelampung? Mengapa kini diwajibkan juga? Setahuku barang-barang itu tak pernah kita gunakan. Kalau sampai bertemu lagi, akan kuhabisi dia.” Aku menggenggam tinjuku, geram.
“Poot, poot, pooot,” terdengar suara kalason bagan yang dibunyikan Ajo Manih. Ia seorang Tunganai. Semua komando terletak padanya. Memberi tanda keberangkatan pada 18 anggota nelayan di bagan ini. Mesin buatan jepang telah siap mendorong bagan dengan energi solarnya. Sama memang mesin yang digunakan dengan mesin mobil. Akan tetapi kapal ini hanya mempunyai dua gigi. Gigi untuk maju dan gigi untuk mundur.
Deru mesin beriringan dengan suara air laut. Pulau yang tadinya tempat parkiran bagan mulai menjauh di pandangan mataku. Lokasi menjaring ikan kali kami putuskan lebih jauh dari Pagai, tempat yang biasanya dilakukan. Lantaran memang tak musim ikan di sana. kami khawatir dengan hutang solar dan bekal bagan yang belum terbayar. Bisa-bisa keluarga kami tak makan. Rejeki laut itu tak dapat dipastikan. Kadang kaya mendadak dibuatnya, dan kadang miskin mendadak pula jadinya.
Tak berselang berapa lama, kami telah sampai di tujuan. Aku hanya mengenakan celana bokser tanpa membalut badan dengan sehelai benang pun. Karena tak pernah betah untuk memakai baju di laut malam yang panas. 130 buah lampu yang mengelilingi bagan. Jika dilihat dari kejauhan, pastilah tampak bersinar terang di lautan yang teramat gelap. Kami bercerita berkelompok-kelompok. Biasanya terbagi menjadi dua golongan. Golong muda dan golongan tua, seperti detik-detik proklamasi saja. Tapi memang begitu adanya. Yang tua biasanya bercerita tentang biaya, biaya, dan biaya. Sangat tidak menarik untuk golongan muda yang masih membujang seperti kami. Tema cinta seperti patah hati, mak comlang, dan segala yang berbaur cinta kami konsumsi di cerita malam untuk menghabiskan waktu sebelum kembali bekerja menyebar jaring penangkap ikan.
Tiba tiba, disela-sela cerita asmara yang sedang hangat-hangatnya, terdengar teriakan “makan-makan!” Irfan, koki bagan membawa mie lambok sekuali besar. Semua penduduk bagan segera mengambil piring dan menyerbunya. Masakan Irfan terkenal enak, mengalahkan hasil buatan perempuan. Memang jika diliahat dari cara gerak tubuh dan bicaranya hampir seperti perempuan. Tapi ia selalu marah jika dipanggil Irfani.
“Emm, banyak juga.” Aku bersama Amaik makan mie lambok duduk berdua di kursi tunganai. Aku memerhatikan bintik-bintik yang ada di layar sonar. Bintik-bintiki itu tak lain adalah ikan yang ada di dalam laut sana. Rasanya akan banyak panen hari ini.
“Sudah, bekerja kita lagi!” Beberapa lama setelah makan, Ajo Manih mengintip sonar dan bersorak-sorak memerintahkan kami para anggota untuk mulai bekerja. Wah, teramat ribut jika ingin menentukan strategi untuk menurunkan jaring yang masih tergulung di balik kayu yang kini sedang kupijak. Pembagian kerja kami tak pernah pasti. Salah satunya berjalan atau pun merangkak agar sampai di ujung sayap bagan. Biasanya siapa yang berumur paling muda, ia yang paling sering ketiban sial disuruh-suruh. Dan malangnya, aku termasuk anggota yang umurnya paling muda.
“Barr” Aku pun terjatuh. Kesalahan yang paling sering aku lakukan adalah jatuh ke laut tatkala memasang jaring pada sudut kerangka sayap bagan yang paling ujung. Dengan basah kuyup aku kembali naik. Sekarang, jaring telah dipasang. Bingkainya pun telah di turunkan. Satu persatu lampu bagan dimatikan dengan berurutan pada bagian depan dan belakang. Hingga yang tersisa hanya dua lampu, bawah kiri dan kanan. Hal ini berguna untuk menjebak ikan agar mengejar cahaya.
“Yes, terperangkap sudah. Cukup banyak,” gumamku meliahat ratusan ikan yang terkepung dengan mudahnya beberapa jam kemudian. Kami segera menarik bersama jaring hitam yang telah menampung ratusan ikan.
Sejumah fiber muatan satu ton telah terisi, tambah dua fiber isi tujuh ratus lima puluh kilogram. Aku bahagia melihat banyaknya fiper yang penuh oleh ikan-ikan Tuna. Aku tak sabar ingin segera menghitung. Pasti dompetku akan bengkak diisi lembaran-lembaran uang.
“Sudah, telah cukup lebih. Tak usah jaring diturunkan lagi, kita pulang saja!” Begitu kata yang keluar dari mulut Ajo Manih. Kami para anggota senang akan berkah besar yang di berikan tuhan. Tak sabar akan hari bagi hasil besok. Aku yakin hutang-hutang kapal terbayar lunas. Apa lagi dengan tagihan motorku yang telah menunggak selama tiga bulan, bisa segera di lunasi. Belek kosong akan kupenuhi dengan beras Solok.
Jangkar telah di naikkan, Ajo Manih mulai menggas kapal untuk berbalik pulang. Hembusan angin menerpa tubuh serta mengibas-ngibaskan rambut gondrongku. Kunikmati dalam-dalam kesegaran ini dengan mengepakkan kedua tanganku seolah yang kukepakkan ini adalah sayap. Namun angin yang semula memberi kesegaran berubah menjadi ganas. Hembusannya kencang, hal ini sama sekali di luar perkiraan.
“Badai!” teriak Amru, temanku yang sedang menggulung tali jangkar.
“Paling tidak ini badai singgah,” jawab Amaik enteng. Namun Amru cemas. Tak yakin pada perkataan Amaik. Bersama muka khawatir, ia bergegas masuk ke kamar. Ia takut kalau ini bukan badai singgah.
Bendera biru bagan robek seketika. Tanpa komando dari Ajo Manih, semua anggota bergegas masuk ke dalam kamar. Ajo Manih mengemudi bagan dengan cepat, jauh lebih cepat dari biasanaya.
“Tuhan, selamatkan kami.” Aku berdoa dengan sangat khusuk di dalam hati. Tak tau apa yang terjadi di luar sana. Aku tak ingin mengintipnya dari jendela seperti yang dilakukan para nelayan lain.
Akhirnya kami tersesat dan menepi di pulau yang tak tahu pulau apa namanya. Yang jelas aku dan para nelayan lain selamat. Tapi kami tak ingin berlama-lama di pulau itu. Nyamuk banyak dan ganas. Menggigiti kulit yang tiada henti.
“Solar kita tinggal sedikit tak cukup untuk pulang” Ajo Manih bicara dengan nada putus asa. Memang terlalu jauh perjalanan kami menghindari badai.
“Apa? Tak bisa pulang?” Semua nelayan tampak kebingunan dan takut. Terpancar dari wajah mereka yang lesu setelah mendengar perkataan Ajo Manih.
“Oh tuhan, bagaimana ini?” Aku menutup muka kesal akan bencana ini. Aku bergegas kembali ke dalam kamar dan mengeluarkan handphone. berusaha menghubungi seseorang. Untuk meminta pertolongan.
“Telpon seseorang yang bisa mengantarkan solar pada kita” kuserahkan handphone pada Andin yang sedang sibuk menyusun keranjang-keranjang yang dihamburkan badai.
“Masalahnya kita tak tahu berada dimana sekarang.” Andin tak menerima handphone yang aku berikan. Ia masih melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa tidak ada sinyal?” Suara Amaik, temanku dari belakang mengejutkanku. Iya menatap layar handphone yang berwarna hitam dengan pandangan nanar.
“Oh tidak, sistem radio sinyalnya rusak,” Amaik mendongak ke arah antena.
Malam yang gelap, ditambah dengan ribuan nyamuk yang berdengung-dengung di sekeliling kian menambah gundah hatiku. Lampu bagan tak bisa hidup karena energi mesin belum terpenuhi. Segala upaya telah kami lakukan agar bisa pulang. Kembang api pertolongan hanya tertinggal satu, yang lainya sudah habis dibakar. Tapi si penolong tak kunjung datang. Aku takut ikan yang banyak ini sia-sia. Ikan ini harus sampai ke tangan pembeli sebelum membusuk.
Hingga tuhan mengabulkan pintaku. Setelah setengah jam kembang api yang tinggal satu batang itu di hidupkan, sebuah kapal melaju kencang ke arah kami. Lapisan cat bewarna putih membaluti badannya. Tertoreh tulisan POLISI di sana. Tapi aku kecewa. Mengapa harus kapal polisi yang datang? Aku yakin mereka sedang tertawa melihat kami, mangsanya.
Seketika mataku terbelalak saat kapal itu mendekat. Aku tak percaya dipertemukan kembali dengan si sangar yang aku hardik kemarin. Amaik menatapku, memberi isyarat kalau itu memang polisi kemarin. Ketika aku mendekatiya, Ajo Manih menyuruhku diam. Aku tak berkutik. Menentang Ajo Manih bukanlah keberanianku karena kesegananku padanya.
“Mana tuganai? Surat izin berlayar? Perlengkapan? Racun api? Kembang api pertolongan? Pelampung renang?”Semua pertanyaan itu dilontarkan si sangar kepada Ajo Manih. Sama persis dengan pertanyaan yang ia lontarkan kemarin pada aku dan Amaik.
Kami merapat mendekati Ajo Manih dan lima poisi laut itu. Semua serba dicek. Sepertinya si sangar mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari teman-temannya. Pekerjaannya hanya mengoceh-ngoceh. Sedangkan temannya yang lain memcek apa yang ia perintahkannya.
Ternyata polisi ini tak bisa mendenda kami yang telah memenenuhi peraturan perlayaran. Ajo Manih pun angkat bicara bahwa kami tersesat karena menghindari badai. Polisi ini hanya angguk-angguk saja dan menjelaskan bahwa kami berada di Pulau Sandin. Tempat ini memang jarang dilalui kapal. Ternyata begitu jauh kami tersesat. Kata polisi ini kami hanya perlu berlayar ke arah Barat Daya
“Jadi yang bapak butuhkan Solar?” Si sangar bertanya.
“Iya pak. Kalau ada solar, telah dari kemarin kami pulang,” jawab Ajo Manih. Si Arang itu berbisik dengan teman di sebelahnya. Entah pembicaraan apa yang mereka sembunyikan.
“Kami akan beri bapak solar.” Polisi ini memberikan secercah harapan. “Tapi dengan syarat, bapak harus membayarnya kapada polisi laut yang ada di Tiku!” tawarnya pada pada Ajo Maih. “Nanti biar saya hubungi teman saya yang ada di Tiku.”
“Baik sekali si Arang ini. Apa aku tidak salah dengar? Ia akan meminjamkan kami solar. Jadi ini maksudmu tuhan? Kau perlihatkan kebenaran bahwa polisi ini memang dibutuhkan nelayan. Kalau tidak, apa jadinya ikan yang ada di fiber itu,” gumamku.
***
Tangki minyak bagan telah meneguk banyak-banyak solar yang kami tuangkan ke mulutnya. Bagan kini telah melaju kencang menuju kampung halaman dengan membawa ikan yang akan segera dijual. Awalnya aku cemas dengan batu es mencair dengan ikan yang akan membusuk di dalam fiber. Untung ada si sangar. Kalau tidak, punahlah apa yang aku harapkan.. Malah sebelum berangkat, ia sempat mengajakku bercerita tentang hal kemarin. Pantas saja ia meminta denda, karena aku sama sekali belum memberi alasan mengapa aku hanya berdua dengan Amaik di atas bagan. Semua karena aku telah disulut emosi.
Aku menyesal selama ini berfikir negatif. Aku baru sadar kalau keberadaan polisi laut itu sangat berguna untuk ketertiban laut, dan untuk membantu para nelayan.
Hingga saat ini, jika bertemu dengan si arang yang sedang berpatoli. Aku hanya diam menahan rasa maluku atas perbuatanku yang telah mencaci makinya.
###
Keterangan:
Ajo Manih: Gelar dalam bahasa Minang yang berarti abang manis.
Bagan: Kapal nelayan yang bersayap, berukuran 30 M x 30 M.
Belek: Keleng besar untuk menyimpan beras.
Fiber: Kotak besar yang berisi es agar ikan membeku.
Lambok:Bahasa Minang yang berarti basah, tapi maksud di sini adalah rebus.
Pagai: Sebutan untuk laut Mentawai.
Pulau Sandin: Sebuah pulau di perairan Sumatera.
Sonar: Singkatan dari Sound Navigation and Ranging yang berguna untuk mendekteksi apa yang ada di dalam laut.
Tunganai: Nahkoda bagan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagan
Cerita PendekCerita pendek dengan latar bagan di lautan. Bagaimana kehidupan nelayan bersama polisi laut. Terdapat budaya Minang Kabau di dalam cerpen ini. Apa saja rintangan yang dihadapi nelayan. Bagaimana cara polisi bersosialisasi dengan nelayan. Adakah kes...
