Memory

11 1 0
                                        

Momoka duduk di pinggir sungai sembari menatap kosong ke air kelabu yang mengalir perlahan. Bassnya yang berwarna cokelat tergeletak di sampingnya, menunggu untuk dimainkan. Tak berapa lama ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah cermin saku berwarna biru muda. Ia memandangi pantulannya di cermin lalu mendengus sambil tersenyum sinis.

Dilihat dari sisi manapun, penampilannya terlihat seperti laki-laki. Gaya rambutnya yang dipotong pendek sampai sebatas telinga, wajahnya yang tirus dengan warna kulit yang sedikit pucat, serta matanya yang besar dan tajam. Pokoknya, siapapun yang baru mengenal gadis itu langsung menyangka kalau ia laki-laki. Mau tahu rasanya ditolak masuk toilet wanita ketika sudah nggak tahan lagi untuk buang air? Tanya saja Momoka, dia sudah merasakan itu setiap kali pergi ke suatu tempat. Sejak itu ia selalu berpegang untuk hanya percaya pada toilet rumahnya saja.

Pernah satu kali ia mencoba gaya yang sedikit feminim. Tapi hasilnya malah membuatnya merasa bukan dirinya sendiri. Pada akhirnya ia kembali dengan gaya seperti sekarang, tak peduli komentar teman-temannya, terutama yang laki-laki karena merasa tersaingi dengan Momoka.

Momoka memang populer, terutama di kalangan teman sekolah perempuannya. Bukan hanya karena gayanya, tapi juga karena kemampuannya bermain bass. Momoka dulu sempat bergabung dengan sebuah band yang lumayan terkenal di kota tempat ia tinggal. Setiap minggu pasti mereka melakukan pertunjukan di live house. Selain itu suaranya juga lumayan bagus, ia juga merupakan salah satu yang menulis lagu-lagu untuk bandnya.

Pokoknya Momoka terlihat sempurna. Hanya saja ia memiliki satu rahasia yang selalu membuat ia takut jika suatu saat terbongkar. Ia takut kalau semua orang yang ia kenal tahu, maka mereka akan meninggalkannya sendirian lagi.

Setelah beberapa menit memandangi pantulannya di cermin, ia akhirnya memasukkan kembali benda mungil itu ke sakunya lalu mengangkat bassnya. Ia mulai dengan kunci-kunci dasar sebelum akhirnya memainkan sebuah lagu milik bandnya. Suara bass yang dalam memecah keheningan tempat gadis itu sejak tadi duduk. Tangannya dengan lincah berpindah dari satu kunci ke kunci yang lain sementara tangan satunya memetik senar bassnya dengan mantap.

Ia memainkan lagunya dengan tenang. Matanya terpejam, berusaha merasakan suara bassnya yang mengalun di udara dingin musim gugur hari ini. Tak lama ia akhirnya bernyanyi.

Ketika aku berusaha mengingat sebuah kenangan,

aku menyadari kalau aku beranjak pergi;

entah ke masa depan atau masa lalu.

Aku ingin pergi,

melintasi waktu dan mengejarmu;

Aku ingin pergi,

dan menemukanmu sekali lagi;

Ada satu hal yang lupa kusampaikan,

tentang cintaku yang selama ini terpendam;

Saat kenangan itu kembali,

aku hanya terdiam;

Aku selalu menyesalinya,

Semua kebodohan yang kulakukan karena menyembunyikannya;

Aku ingin pergi,

melintasi waktu dan mengejarmu;

Aku ingin pergi,

karena kutahu kau takkan kembali;

Momoka mengakhiri lagunya. Tak terasa ada air mata yang mengalir di pipinya. Hangat meski udara musim gugur terasa menusuk sampai ke tulang. Momoka buru-buru menghapus air matanya. Tak keren rasanya kalau ada orang yang melihatnya menangis hanya karena lagu yang ia nyanyikan. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu menepuk kepalanya. Sudah jam tujuh lewat tiga puluh menit. Ia sudah di sini selama tiga jam dan lupa kalau sebentar lagi pekerjaan paruh waktunya dimulai. Ia buru-buru merapikan bassnya. Tak sengaja selembar foto yang ada di dalam tas bassnya jatuh ke tanah. Ia meraihnya dan memandang foto itu.

Hatinya kembali remuk saat melihat foto di tangannya. Foto itu menampilkan Momoka dengan seorang gadis lain berambut hitam yang terlihat sangat cantik. Foto itu dihiasi berbagai stiker berwarna-warni dan beragam bentuk. Ada satu stiker yang bertuliskan 'Sedang berkencan!' berwarna merah muda. Gadis itu dulu sahabatnya. Mereka tak pernah terpisahkan sampai akhirnya satu kesalahpahaman membuatnya pergi.

Momoka mengelus gambar Si Gadis Berambut Hitam sembari tersenyum. Matanya berair, mengingat bagaimana keduanya menghabiskan waktu bersama.

"Ah, andai waktu kamu bertanya aku nggak hanya diam dan mengatakan kalau kamulah yang aku cintai, mungkin aku nggak akan sesakit ini. Ternyata memendam rasa itu sakit, terutama ketika orang yang kucintai malah meninggalkanku tanpa tahu perasaanku yang sebenarnya," gumam Momoka pelan.

Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

"Semoga kamu selalu bahagia. Maaf karena nggak bisa jujur di hari itu," ujarnya sebelum menyelipkan foto itu ke saku mantelnya dan menyampirkan tas bassnya lalu melangkah pergi.

Jakarta, 31 Januari 2018

Acing 

Kumpulan CerpenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang