Kertas bertabaran dimana-mana, sebagian kursi dan meja berada bukan pada tempanya. Suara gitar, nyanyian, teriakan histeris para penonton horor dan suara anak-anak nakal yang mengganggu Tika, sedangkan Ernes sibuk dengan bukunya dan sahabatnya Leon sedang tertidur pulas di sampingnya. Ya itulah gambaran kelas XI IS 4, kacau dan brantakan. Karena hal tersebut kelas mereka selalu mendapat hujatan dari guru-guru bahwa mereka memang pantas berada di kelas akhir, bukan hanya itu Leon pun salah satu siswa dikelas itu yang di juluki sebagai singanya sekolah sekali mengaung semuanya tunduk juga sering berurusan dengan BK, bahkan dapat dikatakan hampir setiap hari. Namun, meski sikapnya seperti itu Leon merupakan anak yang berprestasi dalam bidang olahraga. Tiap kali ada perlombaan antarsekolah ia selalu membuat nama sekolah berada di peringkat pertama, ia juga selalu mendapat nilai tertinggi dalam mata pelajaran pendidikan agama. Dan mungkin karena hal itu juga ia tidak pernah di keluarkan dari sekolah meski tingkahnya mirip brandalan.
Suasana kelas terus bergemuru tidak teratur dan acak-acakan sampai sebuah langkah kaki terdengar semua anak-anak berlarian kesana kemari sibuk membersihkan kelas, mengembalikan meja dan kursi pada tempatnya dan berlarian kembali ke tempatnya masing-masing, seola-ola mereka tidak melakukan apapun kecuali duduk tenang di dalam kelas.
Suara langkah kaki tersebut berhenti ketika ibu Ruri selaku kepala sekolah sekaligus guru matematika datang bersama seorang gadis cantik menggunakan seragam sekolah yang berbeda dari yang lainnya. Melihat yang datang adalah kepala sekolah tanpa rasa takut ataupun ragu Ernes langsung membangunkan teman sebangkunya sekaligus sahabatnya itu.
Leon terbangun dan ketika membuka mata sosok bidadari sedang berdiri di hadapan matanya.
"Nes gue uda di surga ya?"Tanya Leon perlahan pada teman sebangkunya.
"Ngomong apa sih lo. Lo itu masih bernafas jadi mana mungkin lo itu ada di surga, lagian kan gue yakin kalo lo gak bisa langsung masuk surga. Lo kan banyak dosa ama anak-anak"jawab Ernes meledek Leon.
"Enak aja lu"balas Leon sambil mendorong bahu temannya." Tapi gak papalah, intinya gue seneng punya sahabat kayak lo"
"Ya jelas lah, tanpa gue lo gak bakalan pernah dapat nilai C"Ernes kembali meledek temannya.
Disamping mereka saling meledek bu Ruri memperkenalkan sosok gadis yang ia bawa.
"Anak-anak ini Angel, dia adalah siswi dari Australi yang mengikuti pertukaran pelajar antar sekolah dan mulai sekarang dia akan bergabung dengan kalian untuk mengikuti proses belajar seperti biasanya"ucap bu Ruri memperkenalkan Angel.
"Hai aku Angel"ucap Angel menyapa teman barunya.
"Hai Angel" seru satu kelas
"Hai cantik" ucap Leon menyapa Angel namun, sepertinya ucapannya itu di hiraukan oleh gadis berambut hitam itu.
"Nah Angel, kamu bisa duduk disana" ucap bu Ruri sembari menunjuk ke tempat Tika.
Angel berjalan melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukkan oleh ibu Ruri yang berada di sebelah Tika. Sebelum meninggalkan kelas tersebut bu Ruri memerintahkan kepada semua siswa agar mereka bisa membantu Angel selama berada di sekolah ini.
Tidak lama setelah ibu Ruri meninggalkan kelas itu singa sekolah pun beraksi.
"Hi, my name is Leon human very hansem in school"ucap Leon menggunakan bahasa inggris. Mendengar ucapannya itu Angel tertawa kecil, "Angel"balas Angel sambil tersenyum ceria.
"Kamu bisa bahasa indonesia?"tanya leon.
"Aku kan orang indonesia jadi aku pasti taulah bahasa indonesia, lagian tadi kan aku pake bahasa indonesia trus tadi aku juga ngerti yang di bilang sama bu Ruri"
"Iya juga ya, ngapain pake bahasa inggris ngomongnya. Mana gue gak tau lagi itu bener apa gak. Akh..bego banget sih lo Leon"ucap Leon dalam batinnya sambil menggaruk kepalanya sendiri karena merasa malu.
"Oh iya nama kamu siapa?" Tanya Angel
"Oh, nama saya Leon.Dan mereka ini sahabat saya Ernes dan Wirya"ucap Leon memperkenalkan kedua sahabatnya dan kedua sahabatnya hanya tersenyum melihat Angel "kalau perlu sesuatu kamu bisa bilang aja sama kita atau mungkin sama Tika cewek yang di samping kamu, iya kan Tik"
"I..ii..ya"jawab Tika gugup..
"Jadi nama kamu Tika?"
"Hm" jawab Tika tersenyum"
Beberapa saat setelah mereka berbincang seorang guru datang lagi namun kali ini bukan kepala sekolah dan yang dibawanya pun bukan seorang gadis tetapi wali kelas mereka yang membawa beberapa lembaran hasil ujian harian.
Satu persatu anak-anak menerima ujian tersebut, mereka semua tampak kecewa karena nilai yang di dapatkan anjlok berbeda dengan tiga orang ini yaitu Ernes iya mendapatkan nilai maksimal di kelasnya, Leon yang tidak peduli dengan nilai karena baginya yang penting iya telah mengikuti ujian dan mendapatkan nilai dan Angel ia adalah murid baru jadi ia tentu di khawatir atau pun bahagia, tapi satu hal yang membuat Angel kagum yaitu Ernes, disaat hanya dia yang mendapatkan nilai tuntas iya sombong dengan nilai yang iya dapatkan.
***
Krinnng....' suara bell istirahat
Kanting
Di sebuah meja panjang Ernes dan Wirya sedang duduk sambil menikmati sebuah minuman, tiba-tiba terlihat dua gadis cantik membawa sebuah loyang berisikan makanan dan minuman yang sedang mencari tempat untuk duduk dan gadis itu adalah Angel dan Tika. Melihat gadis itu adalah Angel tanpa tanggung-tanggung Wirya pun memanggil mereka untuk bergabung namun sepertinya, Tika tidak ingin bergabung dengan mereka, tetapi menurut Angel jika mereka tidak bergabung dengan kedua pria itu meraka akan duduk dimana?.
Angel terus membujuk Tika agar ia ingin ikut bergabung dengan kedua
pria tersebut hingga akhirnya Tika pun memutuskan ikut.
Berada satu meja dengan sahabat Leon membuat Tika merasa gugup.
"Kenapa Tik?" Tanya Ernes
"E'.. gak..gak apa-pa kok"Jawab Tika gugup.
Ernes tersenyum melihat tingkah Tika yang katanya ia tidak apapa tetapi tangannya terus saja bergetar.
Mereka terus berbincang hingga seorang pria dengan wajah memar, baju keluar tanpa lambang, dasi, ataupun papan nama dan pria itu tidak lain adalah Leon.
Leon yang muncul secara tiba-tiba serontak membuat semua orang meliriknya karena teriakannya.
"Akhh... sialan tuh anak"ra
Karena emosi ia tidak memperhatikan bahwasanya gadis yang ia sebut sebagai bidadari ada di dekatnya dan tak sengaja ia meminum minuman Angel.
"Leon"seru Angel "itu minumanku"
Leon segara melepaskan sedotan yang melekat di bibirnya "ya ampun sorry-sorry saya gak tahu itu punya kamu"
"Lo habis berantem lagi Le" ceplas Wirya.
Wirya yang ceplas ceplos melihat sahabatnya serontak di tegur oleh Ernes" apa sih lo Wir"
Melihat tingkah Leon Angel merasa risih bahwasanya orang yang ia jadikan teman adalah seorang brandalan. Namun, walaupun begitu Angel tetap berusaha menutupi kerisihannya itu dan tetap bercanda riya dengan temannya tersebut.
Di satu tempat yang sama namun berbeda meja sesosok gadis terus memperhatikan Leon dan gadis itu tidak lain adalah Aurine, gadis pintar, cantik dan sangat cerdik. Aurine adalah anak dari pemilik sekolah dan adik dari ketua osis Raihan. Aurine memiliki kertarikan ke pada Leon sejak mereka duduk di bangku SMP, sejak saat itu Aurine selalu melakukan segala cara untuk bisa berdekatan dengan Leon tetapi meski begitu ia tidak bertingkah seperti para gadis lainnya melainkan menggunakan caranya sendiri.
Melihat tingkah Angel dan Leon yang akrab membuat hati Aurine terasa panas namun dia tetap harus bermain cantik yang seperti biasa ia lakukan.
Angel, Leon, Wirya, Ernes, dan Tika semakin akrab bahkan Tika yang dulunya hanya diam kini mulai berbicara dan bergaul dengan mereka.
Mereka terus bercanda hingga tak sadar waktu berjalan begitu cepat bell masuk berbunyi dan mereka semua pun kembali ke kelas kecuali Leon yang lebih memilih untuk tidak masuk kelas.
Pelajaran terus berlangsung tanpa kehadiran Leon hingga bell pulang berbunyi.
"Ehmm Ngel, kamu pulang sama siapa?" Tanya tika sembari membereskan bukunya.
"Oh, aku pulangnya di jemput"
"Ya udah kalau gitu aku duluan ya"
Angel tersenyum membalas ucapan teman sebangkunya itu.
***
Satu persatu para siswa siwi berjalan melewati gerbang sekolah tetapi Angel masih saja berdiri di depan gerbang sekolah. Tidak lama seorang pria dengan motor pespa modern berwarna merah datang menghampiri Angel dengan suara klaksonnya.
"Pik..pik pik"
Mendengar suara klason motor Angel membalikkan badannya dan sesosok pria dengan motor pespa merahnya terlihat berhenti di hadapannya.
"Leon!"ucap Angel takjub.
"Hai, lagi nungguin jemputan ya?saya temenin ya!"
"Iya.. tapi kamu kok bisa-"
"Kenapa? Takjub liat saya naik motor pespa"
"Kamu kok naik motor pespa?"
"Gak apapa cuma mau naik motor ini aja, emang gak boleh ya naik motor pespa?"
"Bukannya gitu, aku pikir kamu-"
"Saya orang kaya, punya segalanya, kesekolah naik mobil! Dengerin nih saya mungkin orang yang punya tapi bukan berarti saya tidak bisa menikmati hal- hal yang di bawah"
"Iya aku tahu kok, aku juga gak bermaksud gitu, maaf ya"
Mendengar ucapan Leon membuat Angel merasa kagum padanya meski saat di kanting ia sempat membuat Angel merasa risih dengan tingkahnya.
Waktu terus berjalan sekolah kini sudah sepi hanya ada Leon dan Angel yang menunggu didepan gerbang.
"Ngel saya anterin aja gimana? Soalnya ini udah sore nanti kamu dicariin lagi"
"Makasih Le, tapi kalau aku di anterin kamu terus supirnya datang kan kasihan nanti dia harus cari aku lagi"
"Mang kamu gak kasihan sama saya!"
"Maaf ya Le tapi kalau kamu mau pulang gak papa kok aku bisa tunggu di sini sampai dia datang"
"Gak kok saya disini aja nungguin kamu lagian kamu kan perempuan gak sepantasnya saya sebagai laki-laki meninggalkan perempuan sendiri, gini aja mendingan kamu coba telpon supir kamu"
Angel mengambil ponsel dari saku bajunya dan mencoba menghubungi supirnya
"Gak bisa"
"Ya udah tungguin aja"
Mereka terus menunggu hingga akhirnya sebuah mobil hitam datang. Seorang pria dengan seragam hitam keluar dari mobil.
"Maaf ya neng bapak telat jemputnya soalnya ban mobilnya tadi bocor terus ponsel bapak mati" ucap supir merasa bersalah
"Iya pak gak apapa"
"Pak lain kali kalau jemput jangan telat lagi soalnya kalau bapak telat nanti Angelnya di antarin sama saya loh"sorak Leon
"Apa sih Leon"ucap Angel tersenyum"makasih ya"
***
Kamar Leon
"Huh" hembusan nafas Leon sembari melempar tasnya ke atas kasur dan merenggankan badannya.
Hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan bagi sosok Leon, karena kapan lagi ia bisa berduaan dengan gadis yang ia anggap bidadari surganya.
Di atas kasurnya itu ia terus menatap ke atas langit-langit rumahnya membayangkan masa-masa yang ia lalui bersama dengan Angel. Namun, seketika ia meranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kesana kemari, membuka laci dan lemari satu persatu hingga akhirnya ia menemukan sebuah plastik berisikan sebuah kalung dengan permatanya yang terbuat dari logam berbentuk melingkar dengan sebuah tulisan di tengah-tengah lingkaran permatanya.
YOU ARE READING
Leon
Romance"Membahagiakan wanita itu tidak harus dengan gombalan tapi dengan kejujuran" "Hari ini kamu bilang kamu seneng sama aku esok hari kankupastikan kamu mengatakan suka, sayang dan kemudian cinta kepadaku" "Sebenarnya aku tidak nakal, hanya menikmati...
