Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Awan (1)

20 0 0
                                        


Dari pada sulit mengingat namanya, Gamawan Putra Nirlara, maka ayah dan ibunya sepakat memanggilnya dengan nama kesayangan 'Awan!'. Kebetulan, ayahnya penyuka awan. Jika awannya bertumpuk-tumpuk, lalu melayang-layang dan melintas di kepalanya, maka sang ayah menyebutnya gemawan. Artinya banyak awan.

Apakah ada aturan awan untuk sedikit, menjadi gemawan jika awannya banyak? Itu urusan ahli tata bahasa. Ayah Awan -- kuberi tahu ya namanya, Rimba Bengkirai -- tak peduli tepat atau tidak, benar atau salah, ia tak hirau. "Suka-suka akulah. Aku kan ayahnya. Sebagaimana orang-orang lain bebas memberi nama anaknya.

"Mereka memberi nama anaknya Putra Nusantara, Gatot Suaka, Maribaya, Judra Kartika, Candra Frontline, Georgius Antroplogia, Sukiran, Nanang Pelet, Asep Setia, Cecep Cipaganta, Murtono Laga, Nanang Gagah Perkasa, Utuh Amuntai, Bidun Syair, Rida Amalnya, Gasak Begawi, aku tak peduli. Itu kebebasan. Jangan dipersoalkan. Karena itu, jangan dipermasalahkan nama anakku Gamawan Putra Nirlara." Kata Rimba pada kawan-kawannya saat rehat siang di sebuah bangunan kayu setengah jadi. Bangunan itu adalah rumah Iyan Mixer.

Rimba adalah tukang kayu. Istilah tukang kayu adalah pengganti istilah pekerja bangunan. Bangunan yang dikerjakan berbahan kayu. Kalau bangunan terbuat dari beton sebutannya tukang beton. Kalau bangunannya terbuat dari besi, ya tukang besilah. Memang ada bangunan terbuat dari besi? Ya, inikan misalnya!

"Nama itu adalah doa. Seseorang memberi nama anaknya Selamet, maksudnya agar anaknya selalu selamat, dunia dan akhirat. Orang memberi nama anaknya Wulan maksudnya agar anaknya cantik seperti bulan. Apa maksudmu memberi nama anakmu seperti awan?" Tanya Aryanto Tok, sahabat sepekerjaan dengan Rimba.

"Terserah orang menafsirkan. Tapi, jangan remehkan awan. Awanlah yang membawa hujan. Hujan turun di gunung larut ke sungai dan masuk ke tenggorokanmu. Manusia, juga kamu, tidak akan bisa hidup tanpa awan, kan?"

Mata Totok menengok atap bangunan. Seakan sedang berpikir keras. Apa hubungan awan dengan air putih, sangu dari bininya itu dengan awan? Matanya terpejam. Lama. Lalu kepalanya terkulai. Nasi ransum dari bininya yang ia lahap sampai ludes telah menyihir matanya. Ia mengangguk. Juga lama. Lalu mengalirlah air liurnya.

Rimba tak peduli Totok -- nama singkatan Aryanto Tok -- ngorok. Karena Miun dan Bion, dua pekerja lainnya belum semaput matanya, maka kepada mereka Rimba menjelaskan lagi.

"Awanlah yang melindungi kita karena ia menutup sinar matahari yang garang di siang hari. Saat kita memasang atap, wajah dan bahu kita seperti dibakar. Kepala kita bisa pening. Maka, jika awan berarak datang, apalagi mendung dan mendungnya tidak tumpah menjadi hujan, kita akan merasa sejuk, dan kita pun akan bekerja dengan nyaman."

Miun dan Bion tak menyahut. Keduanya tak terlalu suka dengan bahasa Rimba yang berbelit-belit, berputar-putar seperti benang kusut. Sudah lama mereka menganggap Rimba salah jurusan. Harusnya Rimba menjadi penyair, pemain film, penulis skenario. Bukan tukang kayu.

Rimba bukan tidak menyadari kemampuan dan kehebatannya dalam melukiskan setiap impian, harapan dan cita-citanya melalui kata-kata. Karena itu, telah sebelas kali ia mengajukan lamaran dan melampirinya dengan ijasah SMA, berharap dapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Semua lamarannya ditolak. Tujuh lamaran ditolak dengan alasan tidak sesuai dengan tenaga yang diperlukan dan empat lamaran sisanya diabaikan.

Empat lamaran yang tidak berbalas itu ia tujukan ke Bank Perkreditan Rakyat. Tentu saja surat tak berbalas itu mengecewakan Rimba. Melukai perasaannya. Bersungut-sungut Rimba, selalu di hadapan bininya.

"Mereka lupa, kemampuanku sangat cocok untuk mengisi bagian yang menangani pemasaran. Bukankah bagian pemasaran itu membutuhkan orang seperri diriku yang mampu membius calon nasabah agar menabungkan uangnya di Bank mereka?" Sungut Rimba di depan bininya yang sedang mengulak sambal.

Akibat penolakan itulah akhirnya Rimba memilih menjadi tukang kayu. Apa hubungannya kemampuan mengolah kata dengan tukang kayu? Jelas ada. Hubungannya ialah, bini dan anaknya perlu makan dan Rimba adalah lelaki setia yang bertanggungjawab. Ia harus bekerja.

"Jadi, kawan, Awan itu bukan sekedar nama. Awan ialah lambang kehidupan karena hidup harus terus bergerak sebagaimana awan. Awan adalah sumber kehidupan karena tanpa awan tidak ada hujan." Kata Rimba bersemangat di depan Bion dan Miun.

Bion dan Miun menyusul Totok. Tubuhnya terkulai di dinding bangunan yang separo jadi. Mereka sama-sama memeroduksi air liurnya.

"Kalian tidak tahu, air liur itu juga dari awan. Awan berubah jadi hujan. Hujan mengalir di sungai-sungai. Dijadikan sumber air minum. Jika kalian tidak minum, mustahil kalian punya air liur!" Kata Rimba seraya memandang awan berarak dari celah bangunan yang belum ada dindingnya.

Di pondoknya, gang Sejahtera, blok M paling ujung yang buntu itu, Awan sedang lelap di pangkuan bundanya. Awan yang sudah kelas 2 SD itu dengan setia menunggu ayahnya pulang bekerja. Hari Sabtu tengah bulan begini biasanya ayahnya gajian. Biasanya, ayahnya selalu membawa oleh-oleh 5 tusuk pentolan. Satu buat dirinya, dua buat bininya, dua lagi untuk Awan tercinta.

Gerimis turun.
Sabariah, bini Rimba, mengangkat tubuh Awan, membopongnya ke dalam bilik. Hatinya tak nyaman karena suara azan bergema di surau dekat pondok mereka. Rimba, suaminya, ayah belahan jiwanya ini, belum juga tampak batang hidungnya.

#Sempaja, 090417

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 18, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AwanStories to obsess over. Discover now