Prolog

21 4 0
                                        


"AMORA?!!" teriak temannya, yang berada tak jauh dari dirinya.

Setelah beberapa saat tertunduk, Gadis bernama Amora itupun mendongakkan kepalanya melihat ke arah sumber suara tadi.

"Eh Liona, lo sekolah sini juga?" kata Amora dengan senyum manis diwajahnya.

"Iya dong, kan kita selalu bersama. Hehehehe."

"Wah gak nyangka, akhirnya kita ketemu lagi. Yaudah yuk kita cari daftar kelas kita." Amora dan Liona berjalan menyusuri koridor SMA Melati.

Mereka terus berjalan menuju mading sekolah yang letaknya tak jauh dari ruang kepala sekolah.

"Eh Ra, kita sekelas lagi." Ucap Liona heboh.

"Iya Na." jawab Amora, lalu merangkul Liona.

"Kuylah kita cuss ke kelas."

"Kuyyyyy."

Amora dan Liona adalah salah satu murid ajaran baru.
Katanya, lulus SMP kemarin, Liona bakalan melanjutkan SMA-nya ke luar kota. Tapi nyatanya Liona masih dikota ini, dikota yang sama.
Itu karena Ayah Liona tidak jadi pindah kerjaan.

Amora dan Liona sudah bersahabat sejak kelas empat SD, dulu mereka bertetangga, namun Ayah Amora membeli rumah yang dekat dengan kantornya, agar tak memakan perjalanan jauh.

*******

"Ra, coba deh lo liat cowok diujung itu, aneh banget ya?" ucap Liona seraya menujuk ke arah cowok yang duduk di ujung kelas dengan dagunya.

Kini Amora dan Liona sudah berada di dalam kelas. Dan mendapatkan tempat duduk ditengah.

Amora yang tengah asik memainkan handphone-nya, terpaksa menolehkan kepalanya dan melihat ke arah cowok diujung kelas itu.

"Memangnya dia kenapa Na?" Tanya Amora bingung.

"Itu, dia ngomong sendiri masa. Aneh banget kan? Atau jangan-jangan dia lagi ngobrol sama penunggu kelas ini Ra? Keluar yuk." Ucap Liona panjang lebar.

"Hush, lo apaan sih. Mungkin aja kan dia lagi nyanyi atau telponan sama keluarganya. Lagian ya, mana ada setan pagi-pagi begini. Udahlah Na, biarin aja." Amora kembali memainkan handphone-nya. Disisi lain Liona malah ketakutan. Dasar Liona aneh.

"Kira-kira wali kelas kita siapa ya, Ra?" tanya Liona.

"Gue nggak tau Liona." geram Amora.

"Wali kelas kita nanti killer apa nggak ya?" tanya Liona lagi.

"Ya Allah, gue nggak tau Liona. Gue juga murid baru sama kaya elo. Gini deh, lo kalo mau tau mending tanya langsung aja ke ruang guru, biar jelas Na." habis sudah kesabaran Amora, dia pun langsung berlalu pergi keluar kelas.

Melihat Amora keluar kelas, membuat Liona dengan sigap menyusul Amora yang entah kearah mana ia berjalan.

"Amora kemana sih? Aneh banget ah dia tuh." Gerutu Liona disepanjang jalan.

"LIONA?!" Panggil seseorang dibelakangnya.

"Gue kaya kenal deh itu suara, tapi siapa ya?" Tanya-nya dalam hati.

"Woi!" Orang itu mengejutkan Liona yang sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan-nya.

"Astaghfirullah Amora! Lo buat gue jantungan ih." Geram Liona.

"Lo sih ngelamun mulu, habis dari mana lo?"

"Seharusnya gue yang tanya. Lo kemana aja? Gue nyariin lo dari tadi." Tanya Liona kesal.

"Oh, gue tadi ke toilet sebentar." Jawab Amora.

"Kenapa ninggalin gue?!" Ketus Liona.

"Habisnya gue kebelet banget Na. Hehehe sorry ya." Jawab Amora dengan cengiran khasnya.

"Udah yuk, kita ke kelas lagi. Gue takut ada guru yang masuk entar."

Liona menarik tangan Amora dengan paksa. Amora yang tengah memperhatikan ke arah lapangan pun, terkejut bukan main.

"Lo kalo mau narik gue tuh, ngomong dulu kek. Sekarang gue yang jantungan nih." Amora terus-terusan ngedumel nggak jelas.

"Udah lo diem aja sih." Sahut Liona.

Keduanya terus berjalan menyusuri koridor-koridor sekolah. Setelah sampai di depan pintu kelas, kini Amora dan Liona bingung harus bagaimana. Pasalnya pintu kelas mereka tertutup, yang menandakan bahwa ada guru didalam sana.

"Gimana ini Ra?" Tanya Liona panik.

"Mana gue tau." Jawab Amora santai.

"Ini semua akibat lo."

"Loh, kok gue sih?" Jawab Amora kesal.

"Lo sih, pake kebelet segala." Jawab Liona tak mau kalah.

"Dari mana saja kalian?!" Ucap guru yang berada di pintu kelas Amora dan Liona.

"Eh, ada Ibu guru." Kata Liona sambil melihatkan sederetan giginya.

"Jawab!!!" bentak sang guru.

"Kita dari wc bu, tadi kebelet." jawab Amora gugup.

"Yaudah masuk." jawab Bu guru itu.

"Untung aja kita nggak di hukum, Ra." bisik Liona.

"Heh kalian!!" teriak Ibu guru.

"Ii-iya bu, kenapa?" tanya Liona sopan.

"Sini kalian. Perkenalkan diri kalian didepan!!" ucap Sang Guru.

Keduanya kini telah berada di depan. Terlihat semua murid yang berada di kelas itu terkekeh geli.

"Lo duluan Ra." bisik Liona lagi.

"Cepetan!!!" teriak guru itu lagi.

"Oke-oke. Perkenalkan nama gue Amora Chessy, gue alumni dari SMP Bakti Jaya. Gue blasteran antara Belanda dan Indonesia. Dan disamping gue ini adalah sahabat gue dari SD." ucap Amora panjang lebar.

"Nama gue Liona Qezia, gue juga sama kaya Amora, gue alumni dari SMP Bakti Jaya. Oiya, gue juga blasteran loh." ucap Liona.

"Blasteran dari mana lo?" tanya salah satu siswa.

"Sunda dan Dayak, Hahahahaa." sahut Liona yang dibarengi dengan seruan teman-temannya.

"Yeeeee, itu mah bukan blasteran. Tapi kesasar. Hahahaha......" kelaspun berisik oleh tawa murid.

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*



Halloooo............

Aku lagi iseng nih. 😆😆😆

See you next part 👌

BE MY ONEOù les histoires vivent. Découvrez maintenant