"Ari.. Bangun. Udah pagi ari..."
"Apaan sih syah? Masih jam berapa?"
"Ini udah jam 06.30. Nanti kita bisa telat."
"Iya, ya gue bangun."
Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu.
"Cepetan, ari.. " teriak aisyah sambil menarik tangan ari agar masuk kamar mandi.
"Iya."
Seperti anak kecil yang menurut kata ibunya, ari masuk kamar mandi dan bersiap siap untuk ke sekolah. Aisyah menunggunya di bawah.
Tak perlu waktu lama, ari sudah siap dan berangkat ke sekolah bersama aisyah.
"Yah, pagernya sudah ditutup ri."
"Yah, terus gimana?"
"Ih, gara gara lo kita nanti kena hukum." sahut aisyah cemberut sambil meyilangkan tangannya didada seperti anak kecil
Ari yang gemas melihat tingkah laku aisyah langsung mencubit pipi aisyah.
"Apaan sih ri sakit tau!"
"Lo sih pakek cemberut segala. Gue kan jadinya gemes."
"Tapi lo parah ri, pipi gue jadi sakit." ucap aisyah sambil mengelus pipinya.
Ari pun tersenyum. Perlahan tangannya menyentuh pipi aisyah lalu mengelusnya."
"Lo kenapa sih syah, kok jadi
deg degan. Padahal kan lo udah sering diginiin sama ari." batin aisyah.
"Syah? Lo nggak papa? Kok pipi lo blushing sih?" goda ari.
"Si.. Siapa yang blushing? Gue kepanasan aja kok."
"Lo nggak usah bohong syah, gue tau."
"Enggak ari."
"Ya deh, percaya." sahut ari mengalah.
#
#
#
"Kalian kenapa telat?" tanya bu Rosa. Guru paling killer di sekolah.
"Tadi, macet bu." sahut ari. Aisyah hanya diam.
"Nggak usah bohong. Sekarang kalian berdiri di lapangan menghadap bendera sampai bel istirahat!" kata bu Rosa sambil meninggalkan ari dan aisyah.
Mereka berdua mau tidak mau melangkahkan kaki ke lapangan dan mulai menghadap bendera.
"Lo nggak papa syah?" tanya ari sedikit cemas karena keringat bercucuran di muka aisyah.
"Enggak papa kok ri." sahut aisyah.
Padahal aisyah sudah tidak kuat menahan kakinya untuk berdiri.
Brukk
Badan aisyah ambruk dan membuat ari kaget.
Ari langsung menggendong aisyah ke uks. Untungnya di sekolah mereka, uks sudah memiliki dokter pribadi untuk menangani siswa yang sakit.
"Gimana keadaan teman saya bu?" tanya ari cemas.
"Dia baik baik saja kok, dia cuma kecapean. Oh ya, apa dia tadi belum sarapan?"
"Astaga, gara gara gue, aisyah lupa sarapan." batin ari.
"Mungkin bu."
"Ya sudah, ibu tinggal sebentar ya."
"Ya bu, terima kasih."
Ari pun melihat keadaan aisyah yang lemas.
"Kasian bener aisyah. Kok gue bodoh banget sih sampek lupa aisyah belum sarapan." sahut ari sambil mengacak acak rambutnya.
"Gue dimana? Lho kok ada lo ri?"
"Tadi lo pingsan. Maafin gue ya syah, gara gara gue lo jadi pingsan."
"No problem, ri." sahut aisyah tersenyum.
Ari pun mengacak acak rambut aisyah.
"Kok lo acakin sih ri?"
"Gue gemes liat lo."
"Emang gue panda? Bisa bikin lo gemes."
"Mirip dikit sih." sahut ari.
"Dih, gue disamain sama hewan. Tapi nggak papa deh, panda kan imut."
"Pede nya... Emang siapa yang bilang lo imut?"
"Elo lah."
"Kok gue?"
"Kan lo bilang gue kayak panda, gemesin."
"Iyain aja biar seneng."
"Ri, ke kantin yuk! Gue laper."
"Yuk."
Mereka bergandengan tangan menuju kantin. Semua siswa banyak yang menggosipkan tentang hubungan mereka berdua.
Ari dan aisyah hanya menganggap gosip itu seperti angin lewat.
"Syah, lo mau makan apa?"
"Bakso sama es teh."
Ari pun memesan dua porsi. Tak lama kemudian bakso mereka sudah jadi.
Aisyah dengan cepat mengambil sambel 4 sendok.
"Syah, jangan banyak makan sambel. Perut lo nanti sakit." tutur ari.
"Kan kalo nggak pedes nanti hambar ri."
"Udah, nurut aja kenapa!" ucap ari yang sedikit membentak.
"Gue nggak mau makan."
"Kenapa lagi sih, syah?"
Aisyah tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya dari ari.
"Lo, mau gue suapin?" sahut ari.
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya dan tetap diam.
Tangan ari memang dagu aisyah agar dia tidak memalingkan wajahnya. Tangan satunya lagi memegang sendok untuk menyuapin aisyah.
"Ri, gue bukan anak kecil lagi."
"Cepetan makan, nanti lo sakit. Gue nggak mau itu terjadi."
Oh tuhan...
Aisyah rasanya ngefly...
Sering kali dia di buat baper oleh seorang ari. Hingga muncullah perasaan itu.
Tapi tidak untuk Ari. Ari hanya menganggap aisyah sebagai sahabat.
"Iya, gue makan."
PART 1 masih belum apa apa ya...
Buat yang sudah baca, tolong vote ya... Biar aku jadi semangat lanjutin ceritanya. 😄😄 terimakasih.
YOU ARE READING
Friendzone
Romance"Makasih ya syah, lho udah mau jadi sahabat terbaik gue. Gue beruntung punya sahabat kaya lo" - Ari. Aisyah hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Andai aja lo tau ri, kalo gue anggep lo lebih dari sahabat." - Aisyah. Aisyah hanya bisa men...
