Suara berisik terdengar dari seberang panggilan yang baru tersambung, walaupun sedikit samar masih dapat ditangkap oleh telinganya yang tetap sabar menunggu. Perlahan suara tuts piano ditekan satu persatu mengalun pelan dan membentuk suatu irama serta melodi yang indah. Seseorang mulai bernyanyi, lagu yang sama seperti sebelum-sebelumnya,
Ku tlah miliki rasa indahnya perihku,
Rasa hancurnya harapku
Kau lepas cintaku
(Bukankah kamu yang melepaskan terlebih dahulu, jangan salahkan aku jika mengikuti caramu)
Rasakan abadi sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Ku pikir ku salah mengertimu
(Sepertinya kita tak pernah saling mengerti, jangankan salah, memahami perasaan masing-masing pun kita tak mampu)
Oo..oo
Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya hayalku bersamamu
(Hanya hayalan sayang, itu semua cuma ilusi dalam pikiranmu)
Tuk lalui, waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku, di sisa akhir nafas hidupku
(Aku pun sama inginnya menikmati setiap jengkal jarum yang berdetik hanya denganmu, namun sayang tidak dengan cinta, jangan.)
Suara indah yang mengalun pelan samar menghilang digantikan dentingan piano yang semakin lambat sama seperti waktu. Padahal hanya menyanyikan setengah bait lagu namun entah mengapa terasa lama.
"Halo, masih disana? Halo halo"
Tersadar dari lamunan, ia segera berbicara "Hei, kok udahan?"
"Emang udah"
"Lagi lah masa segitu doang"
"Kamu lagi dimana sih? Suaramu kok gitu?"
Gadis terheran, ia menegakkan tubuhnya dari posisi selonjor bersandar di tembok, tiba-tiba merasa aneh ia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Aku di kamar kok, kenapa?"
"Ehm.. kaya ketahan gitu suaranya,"
Gadis tak jadi parno, ia kembali menyandarkan tubuhnya lagi seperti posisi awal sambil bergumam dalam hati 'Kirain kenapa. Iyalah, suaraku gini soalnya lagi gigit-gigit bantal habis denger kamu nyanyi hhh' gemasnya.
"Engga papa kok, ini ehm.. tenggorokanku barusan agak gimana gitu..Ehem!" dehemnya berpura-pura.
"Kamu sakit? Eh tapi suaramu kalo kaya gitu kedengeran..em..enak?"
"..." Gadis terdiam, sampai kemudian tawa renyah terdengar, ia tersenyum membalas sarkas "Enak emangnya makanan? Dasar aneh."
"Bener deh, jadi pengen lama-lama denger suaramu. Gantian kamu ngomong ayo" membuat gadis pendiam itu bingung, hal apa yang harus ia ceritakan jika hari-harinya hanya seperti itu -biasa saja.
"Cerita apa? Aku ga ada cerita"
"Ya cerita apa aja, ayolah" lagi suara tawa disertai nada pemaksaan.
"Aku ngga ngapa-ngapain serius" malah kata-kata yang dikeluarkan begitu ambigu seperti orang yang sedang diintrogasi karena ketahuan melakukan sesuatu.
"Ngga mungkin, masa kamu ngga ngapa-ngapain ih! Kan aku ngga tahu keseharian kamu, kalo menurutmu biasa aja siapa tahu menarik buat aku. Ayolah sekalian latihan biar ga pasif haha"
Akhirnya gadis menyerah, ia pun mengumpulkan beberapa memori di ingatannya lalu mulai bercerita panjang kali sedikit lebar, dan entah mengapa mengalir begitu saja.
Mereka bahkan asik bertukar pendapat, saling tertawa dan mengejek dengan cara masing-masing. Bercengkrama, berbagi cerita dan tawa.
"Haha duh bisa gitu ya.." tawa masih terdengar perlahan mulai mereda. "Eh, udah lama lho kita berdua telfonnya"
"Ha?"
"Dua jam kurang!? Gila" suara itu terkejut lalu kemudian tertawa lagi.
Gadis menjauhkan telefon dari telinganya, menatap detik yang terus berjalan pada aplikasi chatting sekaligus telfon gratis tersebut.
02.00.00, tepat dua jam sudah.
"Udahan?" tanyanya ragu padahal masih ingin mendengarkan suara di seberang lebih lama. Tak apa walau hanya dihabiskan dengan tawa, asalkan mendengar suara itu.
"Gimana? Ya udah" sudah membalikkan pertanyaan lalu dijawab sendiri. Gadis menghela pasrah.
"Ya udah"
"Iya udah ya.. Duhh, tapi aku masih pengen telfon sama kamu"
Gadis tersenyum senang, dalam hatinya ia berkata 'sama' namun tak diungkapkan, gengsi sama pasif beda dikit dan dia lebih suka menjuluki diri sebagai manusia pasif.
"Ya kapan kapan telfon lagi. Lagian kan kamu habis ini ada yang nyariin" sesak terasa menjalar di dadanya tepat setelah menyelesaikan kalimat, ia tak ingin lebih berharap sebenarnya.
Cukuplah 2 jam ini untuk memuaskan rasa rindunya yang selama ini tak ia gubris, cukuplah dua jam mendengar suaranya dapat menjadi simpanan untuk beberapa jam-hari-bulan bahkan tahun ke depan.
"Masih jam segini kok" nada datar disana, tak berminat.
"Ah masa? Paling bentar lag-"
Belum selesai berbicara, suara sedikit panik terdengar di seberang sambungan.
"Duh! Gara-gara kamu bilang gitu jadi nelfon beneran kan orangnya"
Gadis memutar matanya, menahan sesuatu dalam diri, merutuk perkataannya sendiri.
"Angkat gih" ucapnya pelan berbarengan dengan jari telah siap untuk mematikan panggilan.
"Udah mati. Dia kan bisa liat kalo aku lagi ada di panggilan lain."
Mereka diam pun Gadis. Ia merasa bahwa masih akan ada panggilan susulan -dari orang yang tidak ia harapkan- yang akan menganggu quality time tidak langsung mereka.
"Halo, kok diem."
"Hmm?"
"Gausah dibahas lagi yang tadi, ganggu aja orang lagi pacaran juga"
Deg!
"Apa?" tidak yakin dengan apa yang didengar, ia bertanya.
"Tau ngga, kita kaya gini kaya orang pacaran hehe"
Gadis tidak bisa mengontrol diri untuk menyembunyikan rasa senang sekaligus panik setelah mendengar pernyataan lawan bicaranya.
"Hih mentang-mentang aku jomblo, ngga usah sok nyenengin deh.." harusnya bukan jawaban itu yang keluar tapi bagaimana, terlanjur.
Disana, tawa tergelak terdengar kemudian berangsur mereda, mereka berdua tersenyum di tempat masing-masing. Sayangnya suasana hening yang nyaman itu harus berakhir, saat suara nafas jengah disana diikuti gerutuan kesal.
"Dia telfon lagi."
Gadis diam mencoba mengerti,
"Aku matiin ya?" kata 'ya' keluar sebagai jawaban.
Sebelum benar dimatikan, ditahannya sebentar kepergian suara itu.
"Bentar,"
"Hm, kenapa?"
"Gapapa deh, yaudah tuh diangkat. Pangeranmu udah nunggu" Gadis tersenyum jahil saat mendengar dengusan kesal di seberang sana.
"Hihh.. Yaudahlah, dah Gadis"
"Iya Putri. Daah"
Panggilan berhenti tepat di jam kedua lebih lima belas menit.
Senyum mengembang di bibirnya, dapat dipastikan seorang Gadis tak akan bisa tidur malam ini, atau malah tidurnya menjadi sangat nyenyak karena mungkin sang Putri akan singgah walau hanya sebentar di alam mimpinya.
Entahlah.
Putri & Gadis
January
2 0 1 8.
