Prolog

56 6 4
                                        

Prolog

AKU PERNAH jatuh cinta.

Lucu memang—mungkin rada sedikit kekanak-kanakan—tapi itulah yang sebenarnya terjadi.

Aku tidak pernah menjalin hubungan—pacaran—dengan perempuan. Buatku sejak dulu yang terpenting adalah pendidikan seperti yang diajarkan ayahku.

Walau begitu, aku pernah menaruh hati pada seorang perempuan—yang tidak pernah aku sapa sekalipun—saat sekolah dulu.

Masih sangat jelas tergambar diingatanku. Namanya Arini. Saat itu aku duduk di kelas 12 sedang Arini duduk di kelas 10.

Secara visual, Arini terlihat biasa saja. Tidak terlalu menonjol seperti Susan, sekertaris Osis yang juga pemenang Gadis SMA Sentosa—sekolahku—tiga tahun berturut-turut ataupun Intan, bintang iklan shampo yang sering malang melintang di televisi.

Dia terlihat sangat biasa. Dengan potongan rambut pendek sebahu serta kacamata yang bertengger di wajahnya, membuatnya dia benar-benar biasa. Ditambah lagi tubuhnya yang mungil—sekitar bahuku—sehingga membuat dirinya terlihat sama saja seperti siswi pada umumnya.

Yang aku suka darinya adalah dia memiliki senyuman yang enak dipandang. Dia juga suka tertawa. Ya, walaupun aku mengetahuinya dari hasil curi-curi pandang ketika melewati kelasnya atau ketika dia melewati kelasku. Kadang aku juga suka memperhatikannya—dari jauh—ketika dia sedang ngobrol—sambil tertawa—di depan kelasnya sendiri.

Awalnya aku hanya suka melihat dia ketika tersenyum dan tertawa. Tidak ada rasa sedikitpun pada saat itu. Aku merasa bahwa senyumannya membawa kebahagiaan kepada orang yang berada di sekitarnya. Begitu juga denganku—walaupun hanya melihatnya dari kaca jendela kelas—yang juga merasakan kebahagiaan ketika melihatnya tersenyum dan tertawa.

Tapi, karena satu orang, Pri Sujono Priambodo—atau yang lebih dikenal dengan nama Joni, yang entah mengapa sangat tidak cocok dengan penampilannya—pria kurus—tapi berotot—berkulit gelap yang juga orang kepercayaanku.

Keluarga kami sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama. Kakek Joni dan kakekku merupakan sahabat, mereka bersahabat ketika masih kecil. Begitupun dengan ibunya dan bundaku. Dan sekarang, giliran kami berdua.

Kami berteman sejak masih bayi—mungkin—dan sejak saat itu kami sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan banyak sekali orang yang menyebut kami 'Kembar Sangat Tidak Mirip' karena saking seringnya kami bersama.

Tapi tak mengapa. Aku suka bersama dia. Joni bisa dibilang mirip Arini, sama-sama pembawa kebahagiaan. Ditambah sifatnya yang sangat supel, dia dengan mudahnya membawa kebahagiaan kepada banyak orang, termasuk diriku. Terutama diriku.

Aku ingat waktu itu ketika aku sedang memandangi—dari jauh—Arini yang saat itu sedang berada di depan kelasnya pada saat jam istirahat. Cukup lama aku memandanginya pada saat itu.

Sampai pada suatu ketika, tiba-tiba aku merinding. Semua bulu tanganku berdiri sampai-sampai bulu matakupun demikian. Seketika suasana kelasku mencekam. Aku merasakan aura kegelapan menyelimutiku. Menutupi pandanganku yang saat itu sedang tertuju pada Arini.

Tiba-tiba, aku merasakan aura kegelapan itu menyentuh pundakku. Terasa seperti mencekeram pundakku. Jantungku berdegup kencang. Sial, batinku berteriak. Aku tidak bisa bergerak, aku tidak mampu bergerak. Suaraku tidak keluar. Sampai akhirnya, aura kegelapan itu mengeluarkan suaranya. Suara yang amat sangat jelas ditelingaku.

"Lagi nge-..." Belum selesai sesosok itu berbicara, aku langsung terlonjak dari kursiku sampai hampir jatuh dibuatnya.

Aku langsung mengubah pandanganku yang semula berada mengarah ke kaca jendela langsung menuju ke sumber suara yang membuatku makin kaget dan secara refleks, melayangkan pukulanku tepat diperutnya hingga sosok itu hampir tersungkur karenanya.

One More WeekStories to obsess over. Discover now