"Abang, bangun udah pagi!" seorang gadis kecil menarik-narik selimut yang membalut tubuh cowok yang tetap terlelap tanpa terusik sedikit pun.
"Kata Mama, kalo Bang Lano gak bangun uang jajannya bakalan dipotong."
Jeng! Ancaman yang paling Alano takuti akhirnya keluar dari mulut kecil itu. Mau tidak mau ia harus beranjak dari tidurnya sebelum sang Mama benar-benar memotong uang jajannya bulan ini. Alano menatap kesal pada Alana, gadis kecil yang baru saja menganggu mimpi indahnya di akhir pekan. Alana yang mendapat tatapan tidak enak dari Alano hanya tersenyum acuh lalu beranjak keluar dari kamar bernuansa biru laut milik Alano. Dengan malas, cowok itu bergerak menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum menemui Mamanya dibawah.
Alana yang melihat kedatangan Kakaknya diruang makan langsung berteriak, "Mama, tadi Abang jutekin Alana!"
"Anak kecil ngadu aja bisa nya."
"Lano! Abang ga jutek kok, sayang. Mungkin tadi Abang masih ngantuk makanya Alana di diemin aja sama Abang," Andien mengusap pelan rambut Alana agar gadis kecil itu tidak terus ngambek dan membuat pertengkaran dengan Kakaknya.
Alano tidak memperdulikan Adiknya yang masih menampakan wajah kesal padanya. Ia memakan sarapannya dengan tenang seolah tidak terjadi apapun. Sedangkan, Andien masih berusaha membujuk Alana agar mau menghabiskan sarapannya.
"Bang, abis sarapan anterin Alana ke sanggarnya Tante Rini, ya?"
Sekali lagi, gadis kecil itu menghancurkan akhir pekannya.
***
Audi membantu membawakan barang-barang keperluan sanggar milik Bundanya. Ia memindahkan satu-persatu kardus berisi properti drama ke dalam sanggar. Brak! Kardus terakhir yang harus dibawanya jatuh berantakan didepan pintu sanggar. Seorang cowok yang tidak Audi kenal berdiri dihadapannya dengan wajah datar.
"Kalo jalan hati-hati dong, Mas! Ini jalan umum bukan jalan nenek moyang lo! Liat tuh barang-barang gue jadi berantakan semua gara-gara lo. Pokoknya lo harus beresin gue gak mau tau!" Wajah Audi memerah karena menahan emosinya.
"Punya tangan, kan? Rapihin aja sendiri. Jadi orang tuh mandiri!" Cowok itu melipat kedua tangannya di dada dan menunjuk barang-barang yang berceceran dengan dagunya.
Mata Audi membulat setelah mendengar jawaban cowok yang baru saja menabraknya, "Eh, ini tuh gara-gara lo, dasar cowok gila!"
"Eh, ya ampun, Audi kenapa ini bisa berantakan, nak?" Tari yang baru datang terheran melihat kardus dengan isi yang berceceran di lantai.
Audi melirik sinis cowok dihadapannya, "Bunda tanya aja sama cowok gila ini."
"Eh, Alano kan, ya? putranya Mba Andien. Tadi Mama kamu udah telpon tante katanya gak bisa anter Alana jadi kamu yang anter. Ngomong-ngomong mana Alana?," Sikap Tari pada Alano membuat emosi Audi naik 2x lipat.
Alano Putra Lazendra. Cowok 16 tahun. Berdarah Spanyol-Indonesia. Jutek, kadang jahil. Banyak yang suka.
"Iya, Tan. Alana udah Lano anter ke dalem. Kalo gitu, Alano titip Lana ya, Tan. Alano pamit dulu, Assalamualaikum," Alano mencium tangan Tari sebelum kembali kerumah.
"Iya, hati-hati, Waalaikumsalam."
"EH GILA, TANGGUNG JAWAB DONG LO!" Audi berteriak sekencang-kencangnya, ia tidak peduli menjadi pusat perhatian banyak orang.
"AUDI!" Tari menarik Audi agar tidak semakin menjadi pusat perhatian.
***
Alano menghempaskan tubuhnya dikasur kesayangannya. Ia ingin kembali melanjutkan tidur nyenyaknya. 5 menit memejamkan mata, suara Mamanya membuat mata laki-laki itu kembali terbuka lebar. Untuk ketiga kalinya, akhir pekan Alano benar-benar hancur.
---
Haii! Aku penulis baru di Wattpad. So, kalo masih banyak salah kata mohon maaf yaa. Kritik saran juga boleh ditulis di komentar, hehe. Jangan lupa Vomments nya, sampai ketemu di next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
Pleasure
Fiksi Remaja"Aku cuma mau aku dan kamu jadi kita. Gimana?" -Alano Putra Lazendra. "With my pleasure," -Audi Zaretta Kalila.
