"Aku bagai kurcaci yang berhasrat mengejar emas di ujung pelangi, tapi di penghujung jalan aku dapati emas itu telah dirampas orang lain."
Itulah kalimat terakhir yang tertulis di buku milik salah satu tersangka kasus pembunuhan seorang wanita di legian. Sambil menahan tawa, Ipda Jackson menutup buku tebal yang beberapa lembar halamannya ditulisi kisah kasih tak sampai itu. beliau berusaha tetap tampil berwibawa dihadapan salah satu tersangka pembunuhan yang terjadi di wilayah tugasnya itu.
"Friendzone ya?" Tersangka itu tetap diam tak merespon.
"Diantara beberapa tersangka lainnya, hanya anda yang kami anggap memiliki kapasitas nalar yang cukup untuk melakukan pembunuhan itu, dan ada barang bukti yang kami dapatkan saat menggeledah kamar anda. Apakah anda akan terus diam hingga pengacara anda datang?" Ipda Jackson menggeleng. Dia merasa gertakan Ipda Jelita tak akan membuat pria asing itu buka mulut. Karena jalan mereka buntu, Jackson mengajak Jelita keluar dari ruang introgasi. Mereka melanjutkan diskusi sambil mengamati tersangka dari balik cermin satu arah.
"Je, kalau dia mau panggil pengacara pasti sudah dari tadi dia panggil, tapi coba lihat dia, dia orang sakit Je."
"Bisa juga dia orang cerdas kan Jack? Coba lihat itu dia menatap kearah kita, dia pasti tahu sedang diawasi dari ruangan dibalik cermin."
Perlahan tersangka itu mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat seolah memanggil orang-orang yang mengawasinya di balik cermin. Dua penyidik kepolisian itu tersenyum dan merasa akan ada titik terang yang akan mengungkap kasus ini.
"Baiklah, apa ada yang ingin anda katakan?" tanya Jackson. Pria itu mengangguk. Lalu dengan senyum manis terkembang di bibir mungilnya Jelita bersiap mencatat keterangan dari tersangka itu.
"Sebenarnya saya...." Pria itu berhenti tak menuntaskan perkataannya.
"Iya, ... kenapa?" tanya Jackson dengan serius.
"Saya minta ijin ke toilet, melihat kalian berdua saya jadi tak tahan ingin berak." Ipda Jelita langsung menggebrak meja dan hendak menampar tersangka itu, tapi dia masih dapat mengontrol diri. Tentu berbeda antara menampar preman pasar dan warga negara asing bisa panjang nanti urusannya jika sampai tangan mulusnya sampai mendarat di pipi tersangka yang menyebalkan itu. Jelita pun keluar ruangan dengan perasaan Jengkel. Sementara itu Jackson hanya bisa menghela nafas dan dengan penuh kesabaran dia mengantar tersangka itu ke toilet. Sambil menunggu tersangka itu menyelesaikan hajatnya, Jackson mengamati foto-foto TKP dan korban yang ada di berkas laporan olah TKP. karena serius mengamati berkas-berkas tersebut Jackson sampai tak sadar bahwa tersangka terlalu lama berada di toilet.
"Jack, orang itu berak batu kah?" tanya Jelita. Jackson langsung melihat arlojinya dan sadar bahwa tersangka sudah hampir satu jam di toilet.
"Mungkin dia sembelit Je, lagipula dia bukan tikus yang bisa kabur dari lubang ventilasi selebar layar laptop." Karena tak puas dengan jawaban rekannya, Jelita memeriksa sendiri ke dalam toilet. Polwan itu langsung menggedor pintu bilik toilet tapi tak ada jawaban. Jackson yang menyusul masuk langsung menyadari ada hal yang janggal, diapun segera mendobrak pintu bilik toilet itu dan mereka berdua mendapati tersangka tersebut tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Di dekat tangan tersangka tersebut ada cairan pembersih toilet yang sebagian isinya tumpah. Dua polisi itu saling pandang meratapi nasib mereka yang sangat sial hari ini. Entah bagaimana mereka akan menjelaskan kejadian tersebut pada AKP Made yang beberapa jam lagi akan menggelar pertemuan untuk membahas kasus ini.
ESTÁS LEYENDO
Rivalry
De Todo"Setelah kematian ayahnya dalam sebuah kecelakaan, seorang atlet panjat tebing memutuskan untuk kembali pada ibunya di Indonesia, Alih-alih mendapatkan lagi kehangatan keluarga yang telah lama hilang, dia malah mendapati keluarga yang dulu ditinggal...
