page 3

95.3K 6.2K 520
                                    

TDR––Page 3

××××××××

Aku membalikkan badanku dan menghadang lelaki bernama Regan itu.

Eh, namanya Regan, ‘kan? Aku lupa.

“Lo kenapa sih, ngikutin gue mulu?” tanyaku seraya memicingkan mata, kesal.

Regan–atau siapalah namanya–bersiul dan menatapku.

“Gue ‘kan udah bilang, gue gak mau lo kenapa-kenapa.”

Aku membalikkan badan dan kembali berjalan.

“Lo gak punya kerjaan sampe ngikutin gue mulu? Lelah batin ini,” ucapku dramatis.

Regan tertawa kecil mendengar ucapanku.

“Lo harusnya bersyukur. Kemaren, gue udah bayar ganti rugi yang harusnya lo tanggung. Sekarang, gue ngikutin lo, buat jagain lo.” Regan tiba-tiba merangkulku.

Aku mendelik dan menepis tangannya.

“Iya, lo jagain gue karna kalo gue kenapa-kenapa, gak ada yang ganti uang lo.”

Regan tertawa kecil.

“Ngarep banget ya, gue jagain karna tulus?” tanyanya jahil.

Aku menatapnya tajam.

“Siapa yang ngarep.” aku mempercepat jalanku.

Bisa kurasakan, Regan masih mengikutiku di belakang. Huh, dia mengikutiku pasti karena takut diculik sama ibu-ibu psikopat yang rencananya tinggal di cottage sebelah.

Mikir apa sih.

Aku duduk di sebuah batang kayu yang cukup besar. Regan mendekat dan duduk di sebelahku.

“Kenapa malah duduk di sini?” tanyaku kesal.

“Gue ‘kan, mau jagain lo.” Regan tersenyum miring.

“Udah gue bilang, jangan senyum kayak gitu!” aku memukul kepalanya pelan.

Regan meringis dan memegangi bekas kejahatanku. Rasain!

Aku memandang lurus ke depan. Tak ada yang lebih indah selain pemandangan matahari terbenam.

“Lo sekolah di mana?” tanya Regan.

“Ke-po,” jawabku tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

“Susah banget buat ngejawab itu doang, Neng.”

Aku meliriknya sekilas kemudian mendengus.

“Lantern HS,” jawabku singkat.

Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting yang dilontarkannya.

“Serius?” tanyanya dengan nada kaget.

Aku menoleh ke arahnya.

“Kenapa? Jangan bilang lo sekolah di sana juga,” ceplosku asal kemudian membuang pandangan.

“Gue emang sekolah di sana. Jakarta, ‘kan?” tanyanya memastikan.

Mataku melebar. Aku menatapnya shock dan langsung mengguncang-guncang kedua lengannya.

“Lo serius sekolah di Lantern?”

Tuhan, mengapa dunia begitu sempit?!

“Wo wo wo, santai!” Regan menahan kedua tanganku agar tak mengguncang bahunya.

Aku memperhatikan detail wajahnya. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, iris matanya berwarna coklat terang–

Siapa ya? Rasanya aku pernah melihat wajahnya.

The DestroyerWhere stories live. Discover now