Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

SATU

33 2 1
                                        

Aira menatap tetesan air hujan yang membasahi jendela ruangannya membuat jendela itu kini berkabut. Hawa dingin dari pendingin ruangan semakin membuat tulang-tulangnya ngilu dan iapun menarik selimut tebalnya hingga menutupi sampai kedadanya.

Aroma dari obat-obatan yang begitu kuat membuat Aira mendecih. Ia selalu tidak suka jika harus dirawat di rumah sakit. Ia adalah seorang dokter, tugasnya adalah merawat orang sakit, bukan dirinya yang malah butuh dirawat.

Ia menerawang menatap bulir-bulir air yang jatuh perlahan dari kaca jendelanya mengingat kejadian dua hari yang lalu saat ia terpaksa harus dilarikan kerumah sakit karena pingsan di kamar mandi.

Waktu kecil, Aira memang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Ia sering sakit dan tidak diperbolehkan main diluar, atau makan makanan sembarangan. Sehingga seluruh waktunya hanya ia gunakan untuk membaca didalam kamar ketimbang bermain dengan teman-temannya. Sampai saat ia SMP, tidak sengaja ia menonton sebuah film dimana seorang dokter menolong mengoperasi seorang anak kecil yang divonis bahwa hidupnya tidak lama lagi, tetapi akhirnya anak itu sembuh. Walaupun pemeran utamanya adalah gadis kecil itu, namun entah kenapa Aira begitu menyukai pemeran dokter itu yang walaupun hanya muncul tidak lebih dari 10 menit tapi bisa memberikan kesan yang dalam untuknya.

Menurutnya menjadi seorang dokter itu keren. Dan jika ia menjadi dokter, ia akan bisa menyebuhkan dan menyelamatkan orang. Itulah pemikirannya saat masih kecil.

Aira tertawa kecil mengingat dirinya yang dulu dengan polosnya minta kepada orangtuanya tanpa mengetahui biaya untuk menjadi dokter yang amat mahal.

"Kamu lagi mikir apa, sih? Senyum-senyum sendiri." Aira mengalihkan perhatiannya kepada wanita paruh bayah dibelakangnya. "Mama dari mana?" Aira menatap mamanya yang sudah tua. Usianya sudah kepala lima dan rambutnya juga sudah mulai memutih. Tapi dimatanya, mama masih cantik seperti dulu.

"Mama habis dari ruangan Dokter Arfan." Ah, Arfan Hendrawan. Juniornya di universitas dan sekarang juga menjadi dokter di rumah sakit ini. Arfan juga yang kini menanganinya.

"Dia bilang apa?" Tanya Aira. "Yah... begitulah." Aira sudah bisa menebak apa yang tadi Arfan katakan.  Ia tersenyum kepada mamanya yang kelihatan lelah "it's gonna be okay, mom. Don't worry." Mamanya balas tersenyum. Membelai pelan rambut putrinya yang lusuh karena sudah dua hari hanya tertidur diatas tempat tidur.

"Sore sehabis check up terakhir, kamu sudah boleh pulang." Kata mama masih sambil membelai rambut Aira. "Hah... akhirnya. Aku nggak bisa ninggalin pasien-pasien aku."

"Ya. Tapi kata Dokter Arfan, kamu jangan terlalu berlebihan, jangan terlalu memforsir tubuh kamu. Dan perbanyak istirahat." Kata mama menasehati.

Aira memutar bola matanya bosan "yah... yah... aku tahu itu ma. Aku kan juga dokter."
"Beneran ya... mama nggak mau lagi kalo sampai mama denger kabar kalo kamu pingsan karena kecapean. Kalo perlu kamu bisa kembali tinggal dirumah."

sejak setahun yang lalu, Aira memang memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen dekat rumah sakit tempat ia bekerja. Selain lebih menghemat waktu, akan lebih cepat kalau-kalau ada telepon darurat dari rumah sakit. Lagian, dia sudah cukup dewasa untuk bisa tinggal sendiri.

"No, mom. Aku tetap mau pulang ke apartemenku." Mama kelihatan tidak puas dengan keputusan Aira. Tapi ia memilih tidak berdebat. Percuman berdebat dengan Aira, Ia tidak akan mau disuruh pulang. "But you promise me, kamu akan jaga kesehatan kamu, banyak istirahat, dan jangan makan junk food. Okay?"

Aira tersenyum sambil memeluk tubuh mamanya.  "okay, mom. I promise. Love you so much." Mamanya balas memeluk tubuh putrinya dan membelai rambut Aira "love you too dear."

AimerStories to obsess over. Discover now