"Jen,"
"Hmmm."
"Jen."
"Apa, Ikal?"
"Gue sayang sama lo. Banget."
Lantas gadis yang tadi dipangil Jen itu menoleh. Ia membuang novel yang sedari tadi ia baca, memfokuskan perhatiannya pada pria yang sudah satu tahun ini mengisi hatinya. Gadis itu tersenyum. "Gue tahu." Ucap Jen. Gadis itu mencubit gemas pipi pria di hadapannya itu. Pasalnya, pria itu sudah banyak sekali mengatakan cinta hari ini. Jen tak ingin membalas. Toh, pria itu juga pasti tau bahwa Jen juga mencintainya. Sangat.
"Gue nggak mau ninggalin lo, Jen." Pria itu membelai pipi Jen. Menatap mata coklat Jen dengan dalam.
"Ya. Lo memang nggak boleh ninggalin gue." Jen tersenyum lagi. Cintanya begitu besar untuk pria kesayangannya ini.
"Lo tahu, Jen." Pria itu menarik nafasnya dalam-dalam, mencari oksigen yang rasanya seperti habis karena pesona Jen membuatnya kehabisan nafas. Setelah selesai menetralisirkan nafasnya, pria itu pun lanjut bicara. "Lo adalah wanita kedua yang paling gue sayang, setelah Mama." Katanya. Pria itu lagi-lagi menarik nafasnya dalam. Terlihat sedikit kegelisahan pada wajahnya.
"Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan di setiap detiknya. Lo membuat gue semakin mencintai lo. Lagi dan lagi. Jen, demi tuhan, gue benar-benar mencintai lo." Pria itu menggenggam erat tangan Jen. Tangannya dingin dan basah. Pria itu gugup, dan takut. Dia bahkan tidak berani menatap mata Jen. Dia... terlalu takut.
"Gue tahu, Kal. Gue tahu."
Pria itu terdiam. Bingung, dan juga takut. Ada banyak yang ingin ia bicarakan dengan Jen. Tapi dia terlalu pengecut. Dia, Haikal. Pria itu tidak lagi mampu berkata banyak. Seolah tenggorokannya tercekat, atau pita suaranya yang tiba-tiba terputus. Haikal kalut.
"Lo kenapa?" Tanya Jen. Gadis itu sadar benar dengan sikap prianya yang tiba-tiba berubah, jadi aneh.
"Nggak apa-apa. Yuk, pulang." Ajak Haikal. Pria itu menarik lembut tangan Jen, membantunya bangkit dari kursi taman yang belum lama mereka duduki. Jen menurut. Ia memilih diam, walaupun ia tahu ada yang tidak beres dengan kekasihnya ini.
Mungkin dia butuh sendiri, pikir Jen.
Haikal pun mengantarkan Jen pulang, ke rumahnya yang tidak jauh dari taman Kota. Dengan berjalan kaki, mereka memang sudah terbiasa seperti itu.
Sesampainya dirumah Jen, Haikal langsung pamit pulang. Entah apa yang terjadi, tapi dia kelihatannya buru-buru sekali. Jen memaklumi saja. Mungkin dia ada latihan fustal sore ini, pikirnya.
Jen memasuki kamarnya dengan gontai. Ia lelah sekali. Pasalnya ia langsung pergi saja saat baru pulang sekolah tadi, bersama Haikal. Ia bahkan belum mengganti seragamnya. Padahal, Haikal sudah menyuruhnya untuk ganti baju dahulu. Tapi bukan Jen namanya jika tidak suka membantah. Ia tidak sabar untuk jalan-jalan bersama Haikal. Padahal, mereka bertemu setiap harinya disekolah. Begitulah. Jen memang sangat fanatik dengan pria bernama Haikal itu. Pria itu bagaikan candu baginya.
Jen merebahkan tubuhnya dikasur dengan asal. Sekarang ia mengantuk. Baru saja ia ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dengan malas Jen membukanya. Seketika wajah malasnya tergantikan dengan wajahnya yang berbinar. Pesan dari Haikal. Pantas saja.
Jen
Apa?
Kangen...
CZYTASZ
Shit. I'm In Love With That Boy?!
Dla nastolatkówDitinggal pas lagi sayang-sayang nya itu memang hal yang paling sial. Tapi... Jatuh cinta dengan orang seperti itu? Itu adalah hal yang lebih sial!!! Ya, walau ku tahu, sial ini akan menjadi hal yang indah. Dan aku akan menantikan hal indah ter...
