°1°

212 41 11
                                        

.
.
.
.
.
.
Kita sudah berteman terlalu lama,
tak bisakah status ini berubah?


"Irene, kemari" Mino memanggil sembari melambaikan tangannya kepada Irene yang baru saja memasuki cafe langganan mereka. Suasana cafe tak terlalu ramai, itu memudahkan Irene mencari sumber suara yang memanggilnya. Tak perlu lama Irene lalu bergegas melangkahkan kakinya menuju ke arah Mino.


Irene datang mengenakan kaos putih sederhana dipadukan dengan jeans dan sepatu putih andalanya, sederhana namun tetap cantik dengan gaya ponytail pada tatanan rambutnya. Tas selempang sedang memberi kesan manis pada gaya Irene saat ini. Berbeda halnya dengan Mino yang di temuinya. Mino bergaya sedikit urakan dengan hanya mengenakan celana training dan hoodie hitamnya.

Menarik kursi perlahan, Irene duduk memposisikan diri berhadapan dengan Mino. Tak banyak bertanya diawal karena Irene tau, laki-laki di depannya baru saja ditolak oleh gadis incarannya. Gadis yang sudah tiga bulan ini menjadi bahan perbincangan mereka berdua.

Siapa yang tak kenal Jennie Kim, gadis cantik dengan kemewahan yang menyertainya. Dan Mino dengan tidak sadar diri, berani-beraninya mengajak gadis itu berkencan. Tentu saja Mino di tolak mentah-mentah. Sebagai seorang teman Irene sudah mencoba mengingatkan. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Nasehatnya benar-benar tak berguna. Maka dari itu mereka disini sekarang, berdua dan Irene sebagai teman keluh kesahnya.

"Ini" Mino menyodorkan sebuah kotak kecil berisi parfum racikannya.

Irene mendecih, hafal betul kebiasan mino yang satu ini. "Ini seharusnya kau berikan untuk Jennie kan?"

Mino hanya melirik sekilas. "Kau tak mau?, kembalikan kalau begitu!" berusaha merebut kembali kotak kecil berisi parfum dari tangan Irene.

"Ya! Aku hanya bertanya. Ish.."
"Kapan aku bilang aku tak mau.. " segera Irene masukkan parfum itu ke dalam tasnya.

"Tingkah mu mengatakan begitu" Mino mencubit sekilas hidung Irene dengan gemas.

Irene menatap Mino dengan wajah bersemunya, ia tak biasa dengan perlakuan manis Mino seperti ini. Meski mereka berteman cukup lama, skinship dalam pertemanan mereka sangat jarang dilakukan. Keduanya sepakat untuk berteman sewajarnya, agar hubungan baik ini tidak rusak nantinya.

"Kau sudah memesan sesuatu" Irene memecah keheningan.


"Eum?.. Aa belum" jawab Mino gugup.

"Seperti biasa Americano kan?"

Mino mengangguk menyetujui pesanan Irene. Pelayan datang mencatat pesanan mereka. "satu Americano dan satu Latte ya, terima kasih"

...

Pesanan mereka datang, secara kompak keduanya menyeruput minuman yang mereka pesan.

"Apalagi sekarang?" tanya Irene.

"Kau mungkin sudah tau alasan ku mengajak mu kemari, jangan di ungkit lagi" jawab mino sambil merebahkan kepalanya diatas meja cafe.

"tentu saja aku tau, ku pikir kau akan menceritakan yang lain"

Suasana kembali hening, posisi mereka saat ini adalah Irene yang hanya menatap bagian tutup hoodie kepala mino, dan Mino yang masih enggan mengangkat kepalanya.

"Irene.." bisik mino lirih.

"Kau memanggil ku?" tanya Irene, dilihatnya mino mengangkat wajah dan mendudukkan dirinya dengan lebih nyaman.

"Memang siapa lagi" jawab Mino sedikit kesal. Irene hanya tersenyum manis.

"Bagaimana kalau aku berkencan dengan mu saja?" kata Mino melanjutkan. Ditatapnya mata Irene dengan wajah tak terbaca.

Irene yang mendengar hal tersebut merasa kaget sesaat, digenggamnya erat gelas kopi ditangannya, lalu Irene bertingkah seperti biasa lagi.

"Kau bercanda?, ini tidak lucu!" jawab Irene ketus.

"Bagaimana kalau aku serius?"

"Itu lebih tidak lucu lagi"

Lalu Irene melihat tawa Mino. Jelas sekali laki-laki di depannya ini hanya bercanda. Dan Irene cukup cerdik untuk tidak terhanyut dengan perkataan Mino.

"Berhentilah menggodaku, aku tak menyukainya" protes Irene. Mino menghentikan kekehannya.

"Aku tau, tapi saat kesal kau sungguh terlihat cantik. Aku tak bercanda, asal kau tau" jawab Mino tulus.

"Aku memang cantik, kau saja yang baru sadar" balas Irene dengan percaya diri. Diaduknya latte miliknya dengan asal.


Benar, kemana saja Mino selama ini? Kenapa ia seakan melupakan sosok manis dan cantik di depannya. Kenapa tak pernah terbersit bahwa Irene lah yang selalu ada untuknya. Kenapa Mino baru menyadarinya sekarang?.

Menyeruput kembali kopi Americano milikinya. Mino kembali berujar "Aku menyukai rasa Pahit ini, persis seperti perasaan ku sekarang"

"Kau tau irene, aku sudah terlalu banyak melewatkan sesuatu karena Jennie" lanjutnya,

"Tak apa, sesuatu itu mungkin masih bisa kau raih lagi" jawab Irene masih memeperhatikan Mino yang nampaknya akan bercerita banyak. Mendengar jawaban Irene, ia hanya bisa tekekeh kecil.

"Aku tak yakin, harusnya aku.. " ucapan Mino terpotong oleh nada dering ponsel Irene. "Angkatlah"

Irene bergegas merogoh tasnya, mencari posel pintar miliknya. Ditatap sekilas layar ponsel yang menampilkan info orang yang meneleponnya.

"Suho kekasihku, sepertinya penting. Aku permisi sebentar ya" pamit irene sambil tersenyum dan menggoyangkan layar ponselnya ke arah Mino. Mino hanya mengangguk mengiyakan.

Ditatapnya kepergian Irene ke bagian depan cafe. Melalui jendela, Mino dengan jelas melihat Irene nampak bahagia berbincang dengan orang yang menelponnya.

Kemudian ia meminum kembali kopi pesanannya yang tersisa sedikit. Mino melanjutkan perkataan yang seharusnya ia ucapkan pada Irene tadi.

"Kau tau Irene, seharusnya aku tak melewatkan mu. Dan ada banyak 'seharusnya' yang terus ku pikirkan tentang mu. Intinya aku menyukaimu, dan aku terlambat menyadari itu"

.
.
.
.
.
.

End 😂
Yay saya datang lagi? Ada yang nungguin kah? Kayaknya sih engga haha.
Untuk yang sudah menyempatkan membaca dan memberi vote, saya ucapkan terima kasih banyak 😘. Semoga kalian suka.
Kalai berkenan boleh tinggalkan jejak lagi lewat voment ya hihi.

Terima kasih banyak ❤️
..., Januari 2018

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 17, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Inginnya Manis, Nyatanya PahitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang