"....punya dua mata tapi yang dipakai hanya sebelah saja; akan kubuat orang-orang semacam kalian memakai kedua matanya dengan baik dan benar!"
-oOo-
Ujung tongkat baseball itu tumpul, tapi kerasnya bukan main. Apalagi jika digunakan untuk memukul. Yah, memukul apa saja; benda, manusia, atau sesama tongkat baseball itu sendiri. Dan nyatanya, tongkat-tongkat tersebut sedang berkumpul di sepertiga malam, tepat di dalam luasnya bumi Seoul.
Di sudut kota terisolasi berisikan para pengerat brutal, tongkat-tongkat itu terlihat saling berayun, berlomba baku hantam untuk saling mematahkan. Teriakkan, keributan, korban, dan segala yang terjadi pada gulita hari sungguh semarak memekakkan kuping.
Telah terjadi sebuah tawuran antar dua kubu. Hebatnya, dua kubu ini satu sekolahan. Sepertinya, ini adalah tawuran bergenre incest, saling bertikai dengan saudara sendiri. Mungkin, melakukan tawuran bersama sekolah lain sudah mulai kuno.
"AKU BILANG BERHENTI!"
Dan itu adalah suara lantang dari pita suara milik satu orang pemuda. Kelantangan suaranya hampir menyamai auman binatang. Ia lepas kendali. Ia sangat emosi. Ia telah melewati batas amarahnya tanpa disengaja. Semua tikus bertongkat itu yang mendorongnya untuk menjadi Lee Jooheon mode murka. Sosok itu berada di tengah pergolakkan tawuran, berusaha membubarkan.
"Aish, bocah culun itu lagi. Minggir kau ulat daun!"
"Kapan dia datang kemari? Orang itu mau cari mati, ya?"
"Heh mata kecil, jangan sok' menjadi pahlawan. Menyingkirlah dari sana sebelum kau menjadi bangkai pada esok hari!"
"Buang-buang waktu, hiyaaaaa!"
Satu orang dari kubu sebelah kiri terlanjur dibuat naik meteran darahnya. Gara-gara orang ini pula, yang lain terbawa pecah kesabaran. Aksi tukar-menukar pukulan pun kembali bergerak setelah hening sekejap.
Siapa sangka?
Aura dingin Jooheon sendiri semakin padat kentara, segelintir orang seketika kehilangan nafsu tawurannya tatkala tak sengaja menabrakkan iris pada dua mata sosok itu.
"BAJINGAAAAAN!"
Pemuda yang disebut culun dalam tawuran incest itu mengeluarkan keaslian jiwanya. Dua mata si pemuda berubah menjadi merah padam, dibarengi kilat yang menghujam pandang. Dua kaki kokoh Jooheon lekas menyetarakan lesatan penuh lincah, imbang bersama zig-zag moving dalam refleks tarung tingkat tinggi.
"Aaargh!"
Gesit. Lincah. Cepat.
Serangan secepat cahaya yang harus dilihat secara slow motion dari power attack tangan Jooheon sungguh luwes. Pergerakkan dan kemarahannya malam ini sungguh tak terkendali. Orang-orang yang melihat kebrutalan itu sampai mengkhianati netranya sendiri.
"Lihat si mata minimalis itu! Dia...."
"Apa aku tidak salah lihat? Su-sulit dipercaya!"
"Omoo, ketua kita terluka parah!"
"Daripada ikutan terluka, kita kabur diam-diam saja, ayo cepat lari!"
Empat pelajar di barisan paling belakang adalah tikus pecundang yang kerjaannya hanya menyimak, tidak berguna. Ukuran mental orang-orang sialan ini sungguhlah kerdil. Tongkat-tongkat baseball yang erat digenggam itu tak ada fungsinya sama sekali, hanya aksesoris pelengkap agar nampak keren. Kasihan, pemukul baseball itu kehilangan wibawanya yang alami.
BUAK!
BUGH!
CTAK!
POW!
Empat tikus pecundang yang berusaha kabur melalui gorong-gorong gelap ternyata salah langkah. Jooheon yang detail, tak membiarkan pengerat manapun enak-enakkan melarikan diri.
"Jej-Jooheon!? A-ampuni kami! Amp-aarkhhh!"
Jooheon sangat memusuhi jenis manusia kecut macam mereka. Memang dasar munafik, sok' nyalang di depan naungan para preman sekolah, lalu minggat seenak jidat ketika naungannya tumbang.
"MATI KALIAAN!"
Malam itu.
Seluruh pelajar yang marah pada Jooheon terlihat bergeletakkan bagai puluhan stik es krim yang tumpah dari wadahnya. Seluruh tetua dari tawuraners di sini bertumpukkan tanpa bentuk yang terancang.
Lee Jooheon.
Dia yang menghabisi semuanya hanya dengan refleks tarung murni, bakat alaminya. Sedikit bicara, banyak kerja nyata. Basa-basi itu menjijikkan, bukanlah gayanya.
Inilah kekuatan yang amat dahsyat yang ia miliki, istimewa. Lagipun, Jooheon hanya ingin menuntut kedamaian di dalam kesatuan sekolahnya.
Dialah pria berkekuatan Iblis malam itu.
"Tawuran? Menjadi agen Narkoba? Menghamili anak gadis?" Jooheon mulai angkat bicara di antara stik-stik es krim yang telah dibuat bergelimpangan tiada daya. "Aku akan menutup celah peluang hal-hal itu bagaimana pun situasinya. Jangan pernah remehkan aku," pria ini lekas mengambil tongkat baseball baja dari tangan Choi Shin, ketua tawuran dari kubu kanan; seniornya sendiri. "Mataku kecil, tapi setidaknya...,"
KRUUKH!
Jooheon mematahkan tongkat baseball berbahan baja itu dengan sempurna. Matanya merah menyala. Aura kejamnya semakin berasap, seolah bertransformasi menjadi kabut tebal mencekam. Jooheon menjadi Iblis pembela kebenaran.
Malam itu,
"Jangan pandang Lee Jooheon dengan sebelah mata. Kalian ini punya dua mata tapi yang dipakai hanya sebelah saja; akan kubuat orang-orang semacam kalian memakai kedua matanya dengan baik dan benar!"
-oOo-
HALO! SAYA AUTHOR BARU. YOU CAN CALL ME GAS, GAS ELPIJI, BAGAS, GASGAS, AGAS, ATAU APA SAJA; ENAKNYA KALIAN AJA, WKWKWK.
KRISAR SEPERTINYA WAJIB ANDA CANTUMKAN KE DALAM KOMENTAR. MOHON VOMMENT-NYA READERS-NIM!
TERIMA KASIH!
/BOW/
YOU ARE READING
Ma Way, Ma Life, Ma Story
FanfictionSeberapa sering kalian melihat berita tindak kriminal yang dalangnya adalah para pelajar? Seberapa sering kalian mengumpat dalang-dalang muda itu? Seberapa sering kalian menyalahkan para penjahat cilik yang berstatus pelajar itu? Pernahkah kalian be...
