1. RiJek

16 1 0
                                        

"Riani lemot cepetan elah udah terlambat nih" Suara teriakan Riano terdengar dari depan rumah Riani.

"Aduhh.. iya iya sabar dikit napa" Riani keluar dari rumahnya sambil menenteng sepatu sekolahnya, sementara dirinya masih menggunakan sendal jepit dan juga ada penampakan sisir yang masih menggantung dirambutnya.

"Sabar sabar udah telat nih" gerutu Riano lagi.

"Riani sayang kamu kan belum sarapan, tunggu bentar yah Mama siapin bekal aja nanti kamu makan disekolah" Mama Riani keluar dari dalam rumah mengikuti Riani.

"Yah Mah Riani udah telat nih, nanti aja ya Riani makan dikantin sekolah" Riani berkata sambil mencium pipi Mamanya.

"Riani berangkat yah Ma" Riani beranjak masuk ke dalam mobil milik Riano.

"Tante Riano berangkat ya.. Selamat pagi" ucap Riano sopan.

"Iya hati-hati dijalan yah" ucap Mama Riani sambil melambaikan tangan kemudian kembali masuk kedalam rumah.

Sementara didalam mobil Riani nampak sibuk memakai sepatunya dan Riano yang sibuk mengomeli Riani.

"Lo sebenarnya niat sekolah nggak sih?" Tanya Riano dengan nada yang sangat menyebalkan menurut Riani.

"Mau ke sekolah aja bangun telat, sepatu belum dipake, sisir masih dirambut...ck.ck.ck.ck" sindir Riano pada Riani. Sementara yang disindir masih bungkam. Riani terlalu malas untuk meladeni omelan Riano yang hampir setiap hari didengarnya.

"Dasar PuTi!" Ucap Riano lagi.

"Apaan tuh PuTi?" Tanya Riani sambil mengangkat kepalanya. Ia telah selesai memakai sepatunya dan mulai menyisir rambutnya yang masih agak basah.

"PUTRI TIDUR!" Teriak Riano sambil tertawa mengejek Riani.

Riani terlihat mengambil napas dalam-dalam dan dia langsung menabok kepala Riano dengan tangannya.

"Woi gila kali ya lo. Sakit nih" Riano terlihat meringis sambil memegangi kepalanya.

"Lo tuh RiJek" ejek Riani pada Riano.

"Apaan tuh RiJek?" Tanya Riano dengan alis bertaut.

"RIANO JELEKK" Teriak Riani sambil tertawa kencang.

Sementara Riano hanya menatap Riani dengan bingung. Tak lama kemudian ia menyentil dahi Riani.

"Wey lo bego yah. RiJek kan boleh juga diartiin RIANI JELEK" Ucap Riano.

Mendengar perkataan Riano, Riani jadi bungkam dan menundukkan wajahnya yang kelihatan memerah karena malu. Ia menyalahkan kemampuan otaknya yang dangkal. Dan kali ini terdengar tawa mengejek dari Riano.

"Riani...Riani..ck..ck.ckk.ck.." ucap Riano sambil meledek Riani.

Tak lama kemudian mereka pun sampai disekolah mereka dan untungnya gerbang sekolah belum ditutup.

"Dah sampai" ucap Riano saat mobilnya sudah terparkir diparkiran sekolah. Ia menghadap pada Riani yang masih menundukkan kepalanya.
Riano pun mengusap lembut kepala Riani. Usapan tersebut membuat Riani mengangkat kepalanya dan menghadap pada Riano.

"Ini nih hal yang buat gue harus ngejaga dan lindungin lo. Entah lo yang kelewat polos atau otak lo emang bego, lo gampang banget dibodohin orang tau gak. Karena itu gue harus selalu ada sama lo dan ngelindungin lo dari orang jahat. Gue nggak mau sahabat yang paling gue sayang ini dijahatin orang. Gue sayang elo Riani" ucap Riano tulus sambil menatap mata Riani.

Riani masih terpaku ditempatnya. Mendengar penuturan Riano membuat hatinya berdegup kencang. Ia menyadari bahwa mungkin rasa yang ia miliki untuk Riano belum hilang malah semakin membesar. Ia tidak dapat menghentikan rasa itu. Tetapi disatu sisi Riani sadar bahwa posisinya di mata Riano hanyalah seorang sahabat. Dan mungkin juga selamanya akan tetap menjadi sahabat.

"Gue juga sayang sama lo Riano" dan cinta sama lo lanjut Riani dalam hatinya.

To be continue

Hai readers...
Cerita ini bakal aku lanjutin kalo udah banyak peminatnya.
Jadi jika minat jangan lupa vote and comment yah biar aku bisa lanjutin ceritanya..
Makasihhh


Riano & RianiWhere stories live. Discover now