"Untung foto itu masih kusimpan baik-baik."

19 1 0
                                        


Ibuku teriak-teriak dari arah dapur. Memanggil namaku dengan keras. Tulip, Tulip, Tulip, begitu terus sampai kepalaku pening. Iya, namaku Tulip, nama yang menurutku uniseks, bisa untuk laki-laki atau perempuan. Aku laki-laki, berambut panjang, seperti perempuan. Banyak yang bilang seperti itu.

Aku menghampiri ibu, ibu menyuruhku ke warung di ujung jalan sana, untuk membeli telur. Aku ambil duit dari ibu dan bergegas ke warung. Sesampainya, aku memanggil pemilik warung. Mas Oka panggilannya. Setelah kudapat telur yang diminta ibu, aku pulang. Kuberikan ke ibu telur itu.

Duduk di meja makan, ibu mengampiri dengan sepiring telur dadar beserta sepiring nasi yang masih hangat. Sembari makan kami berbincang. Ibu selalu menanyakan kabar Mas Oka. Aku pun heran, sampai-sampai aku menuduh bahwa ibu menyukai Mas Oka. Iya, ibu sudah menjanda selama dua tahun. Ayah menghilang tanpa kabar, dan kami sepakat bahwa ayah sudah meninggal. Ayah meninggalkan kami tanpa persiapan yang matang. Kami melarat, kami miskin.

Kalau ibu menyukai Mas Oka, ibu salah. Dia hanya pemilik warung kecil, hidup susah seperti kami. Ibu hanya diam saja mendengar ocehanku yang tidak ada habisnya. Ibu diam, ibu bingung, ibu meneteskan air mata. Aku mendadak sedih.

Aku memilih pergi keluar dan meninggalkan ibu sendiri. Pilihan yang bodoh, tapi aku terlanjur kesal dengannya yang seakan melupakan ayah, dan menginginkan laki-laki lain karena kesepian.

***

Setelah 20 tahun menikah, aku masih teringat dia. Walaupun aku menikah dengan orang lain. Siapa yang bisa menolak lupa, orang yang sering mencumbumu waktu muda? Beradu bibir hingga hujan pun enggan berhenti untuk mendinginkan kami yang sedang panas-panasnya. Aku tahu kabarnya dia, di mana dia tinggal. Tapi aku malu untuk menghampirinya dan mengatakan rindu kepadanya selepas kejadian 20 tahun lalu. Aku sudah menjanda selama dua tahun, butuh lelaki dewasa yang mengasihiku dengan lembut.

Anakku, Tulip juga sudah besar. Sudah banyak mainnya. Sudah mengenal perempuan pula. Aku semakin merasa sendiri akhir-akhir ini. Untung foto itu masih kusimpan baik-baik. Aku masih cinta Aster, suamiku yang sudah meninggal. Aku rindu hangat tubuhnya. Aku perempuan dewasa yang rindu tubuh Asoka.

***

Azalea, aku lihat anak yang mirip denganmu. Sering belanja di warungku. Semoga kau melihatnya.

Telur Wangi BungaWhere stories live. Discover now